Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Sering Skip Sarapan? Ini Dampaknya terhadap Tekanan Darah

4 min read
Sering Skip Sarapan? Ini Dampaknya terhadap Tekanan Darah
ilustrasi melewatkan sarapan (unsplash.com/Thought Catalog)
  • Analisis sejumlah studi menemukan kebiasaan rutin melewatkan sarapan berkaitan dengan risiko hipertensi dan tekanan darah lebih tinggi, terutama pada perempuan, tanpa membuktikan hubungan sebab-akibat.

  • Perubahan ritme kortisol serta kecenderungan makan berlebih atau kurang bergizi setelah melewatkan sarapan diduga berperan; intermittent fasting dapat memberi efek tekanan darah berbeda pada tiap orang.

  • Ahli menyarankan sarapan 1–2 jam setelah bangun dengan karbohidrat, protein, dan lemak sehat, serta membatasi natrium untuk mendukung pola makan dan tekanan darah yang lebih terjaga.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pagi hari adalah waktu paling sibuk bagi banyak orang. Ada yang buru-buru berangkat kerja, menyiapkan keperluan keluarga, atau langsung duduk di depan laptop untuk bekerja. Sarapan akhirnya dianggap tidak terlalu penting, apalagi jika tidak merasa lapar atau sedang menjalami program diet tertentu.

Kebiasaan melewatkan sarapan bukan hanya berkaitan dengan rasa lapar dan energi sepanjang hari. Sejumlah penelitian menemukan adanya hubungan antara kebiasaan melewatkan sarapan dan peningkatan risiko tekanan darah tinggi atau hipertensi. Lantas, bagaimana kebiasaan ini bisa berkaitan dengan kesehatan jantung?

  1. 1. Kaitan antara melewatkan sarapan dan tekanan darah

    Sebuah analisis tahun 2022 yang menelaah data dari sekitar 14.200 orang dewasa dalam enam penelitian menemukan bahwa mereka yang rutin melewatkan sarapan memiliki risiko lebih tinggi terkena tekanan darah tinggi (hipertensi).

    Penelitian lain yang menyimpulkan data dari 14 studi mengatakan bahwa mereka yang melewatkan sarapan memiliki tingkat tekanan darah yang lebih tinggi, terutama pada perempuan.

    Penting untuk dicatat bahwa penelitian ini hanya menemukan adanya hubungan antara kebiasaan melewatkan sarapan dan tekanan darah tinggi, bukan hubungan sebab-akibat. Selain itu, sebagian besar penelitian mengamati kebiasaan sarapan jangka panjang para partisipan, sehingga hanya sedikit bukti yang menunjukkan bahwa melewatkan sarapan sesekali dapat meningkatkan tekanan darah.

  2. 2. Mengapa melewatkan sarapan dapat memengaruhi tekanan darah?

    Para ahli masih berupaya memahami mengapa kebiasaan melewatkan sarapan berpotensi meningkatkan risiko hipertensi. Kendati hubungan tersebut belum sepenuhnya dipahami, tetapi ada beberapa faktor yang mungkin berperan. Salah satu alasannya adalah waktu sarapan memengaruhi kortisol, hormon yang membantu mengelola stres, metabolisme, dan tekanan darah.

    Beberapa penelitian menunjukkan bahwa melewatkan sarapan dapat mengubah ritme normal kortisol tubuh dan meningkatkan kadarnya untuk sementara waktu, yang pada gilirannya dapat menaikkan tekanan darah.

    Teori lain menyebutkan bahwa pola makanlah penyebabnya. Secara khusus, beberapa ahli berpendapat bahwa melewatkan sarapan menyebabkan seseorang makan lebih banyak atau mengonsumsi makanan yang kurang bergizi sepanjang sisa hari. Karena obesitas dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi, hal ini dapat menjelaskan hubungan antara melewatkan sarapan dan tekanan darah tinggi.

  3. 3. Bagaimana dengan intermittent fasting?

    Ilustrasi konsep intermittent fasting yang berkaitan dengan puasa, diet, dan pengaturan pola makan harian.
    ilustrasi intermittent fasting, puasa, diet, pola makan (magnific.com/pvproductions)

    Intermittent fasting merupakan pola makan yang membatasi waktu makan. Dalam metode ini, seseorang bisa melewatkan sarapan dan baru makan beberapa jam setelah bangun tidur, tergantung jadwal makan yang diterapkan.

    Efek intermittent fasting terhadap tekanan darah bisa berbeda-beda unuk setiap orang, bergantung pada durasi puasa dan kondisi kesehatan.

    Dalam jangka pendek, perubahan pola makan dapat memicu perubahan tekanan darah sementara. Namun, dalam jangka panjang, pola makan ini berpotensi membantu menurunkan tekanan darah pada sebagian orang, terutama jika disertai penurunan berat badan dan pola hidup sehat.

    Meski begitu, intermittent fasting tidak selalu memberikan efek yang sama pada setiap orang sehingga penerapannya perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

  4. 4. Menentukan waktu sarapan yang tepat

    Menurut para ahli, waktu sarapan terbaik adalah 1–2 jam setelah bangun tidur. Dengan mengikuti rutinitas ini, kamu mencegah tubuh mengalami stres sehingga tidak akan terlalu lapar di kemudian hari. Hal ini akan mempermudah kamu untuk terus memilih makanan sehat dan porsi yang tepat. Seiring waktu, pola makan yang konsisten seperti ini seharusnya dapat menurunkan risiko tekanan darah tinggi secara alami.

  5. 5. Menu sarapan yang menyehatkan jantung

    Selain sarapan di waktu yang tepat, penting juga untuk untuk mengonsumsi sarapan seimbang yang mencakup makanan dari ketiga kategori berikut:

    • Karbohidrat, seperti buah-buahan, sayuran, dan biji-bijian utuh.
    • Protein, seperti telur dan yogurt Yunani.
    • Lemak, seperti kacang-kacangan, biji-bijian, dan alpukat.

    Hindari juga makanan tinggi natrium karena dapat meningkatkan tekanan darah untuk sementara waktu.

    Kesimpulannya, melewatkan sarapan mungkin tampak seperti kebiasaan yang tidak berbahaya. Namun, lama-lama ini mungkin bisa membahayakan sistem kardiovaskular. Jadi, sebisa mungkin awali hari dengan makan makanan bergizi seimbang, ya!

    Referensi

    Gwin, J. A., & Leidy, H. J. (2018). "A review of the evidence surrounding the effects of breakfast consumption on mechanisms of weight management." Advances in Nutrition, 9(6), 717–725. https://doi.org/10.1093/advances/nmy047.

    Hackensack Meridian Health. Diakses pada Oktober 2026. "When is the Best Time to Eat Breakfast for Lower Blood Pressure?"

    Health. Diakses pada Oktober 2026. "What Happens to Your Blood Pressure When You Skip Breakfast."

    Li, Z., Li, H., Xu, Q., & Long, Y. (2022). "Skipping breakfast is associated with hypertension in adults: A meta-analysis." International Journal of Hypertension, 2022, Article 7245223. https://doi.org/10.1155/2022/7245223.

    Paragliola, R. M., Marchetti, M., Montagna, C., Corsello, S. M., & Peluso, G. (2025). "'Feeding the rhythm'—Effects of food and nutrients on daily cortisol secretion: From molecular mechanisms to clinical impact." International Journal of Molecular Sciences, 26(22), Article 11230. https://doi.org/10.3390/ijms262211230.

    Ueda, Y., et al. (2018). "Association between breakfast skipping and blood pressure – a meta-analysis of 20 studies." European Journal of Public Health, 28(Suppl. 4), cky218.282. https://doi.org/10.1093/eurpub/cky218.282.

Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More