Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Apa yang Terjadi pada Tubuh jika Menonton Film di Waktu Tidur?

10 min read
Apa yang Terjadi pada Tubuh jika Menonton Film di Waktu Tidur?
ilustrasi nonton film sambil ngemil (pexels.com/Andrea Piacquadio)
  • Menonton film menjelang tidur, terutama lewat layar, dapat menekan melatonin dan mengacaukan ritme sirkadian, sehingga tidur lebih sulit, kurang nyenyak, serta kualitas istirahat menurun.
  • Konten dan suara film membuat otak tetap siaga, dapat memicu terbangun mendadak, mimpi buruk, ketegangan mata, serta emosi lebih sensitif dan sulit fokus keesokan hari.
  • Kurang tidur akibat kebiasaan ini berkaitan dengan peningkatan tekanan darah, risiko kesehatan jantung, pola ngemil berlebih, kenaikan berat badan, dan gangguan pengaturan nafsu makan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Di penghujung hari yang panjang dan melelahkan, sebagian orang memilih meringkuk di bawah selimut, mengambil remote, dan menonton acara atau film terbaru untuk bersantai. Faktanya, lebih banyak orang menonton televisi atau film (baik lewat layar TV ataupun smartphone) untuk bersantai ketimbang mandi air hangat atau bahkan mengobrol dengan pasangan mereka. Aktivitas tersebut memang sudah menjadi kebiasaan bagi beberapa orang.

Sayangnya, bersantai seperti ini punya beberapa efek negatif, lho. Menurut survei yang dilakukan oleh American Academy of Sleep Medicine, 88 persen orang dewasa di AS mengaku mengalami masalah tidur karena begadang sambil menonton. Kurang tidur ini membuat mereka gampang frustrasi, merasa bersalah, dan khawatir. Nah, mau tahu penjelasannya? Baca sampai selesai, ya!

  1. 1. Menurunnya produksi melatonin

    ilustrasi seorang perempuan menonton tv di ruangan gelap
    ilustrasi seorang perempuan menonton tv di ruangan gelap (unsplash.com/Nguyễn Hiệp)

    Tubuh kamu bekerja berdasarkan ritme tertentu. Saat kamu bangun, sistem tubuh kamu dibanjiri kortisol. Yap, hormon yang membuat kamu tetap terjaga. Kemudian saat malam tiba, melatonin, hormon yang memicu tidur, dilepaskan.

    Perangkat seperti smartphone, laptop, tablet, dan televisi memancarkan blue light atau cahaya biru, jenis cahaya yang bisa mengganggu ritme tidur alami tersebut. Paparan cahaya biru di malam hari dapat memperlambat produksi melatonin, sehingga sulit membuat kamu rileks. Cahaya biru juga dapat mengurangi tidur nyenyak dan tidur REM yang dibutuhkan otak agar sepenuhnya beristirahat dan waspada keesokan harinya.

    Semua cahaya memang dapat mengganggu melatonin, tetapi efek cahaya biru bisa lebih parah. Dalam sebuah studi yang diterbitkan Harvard Health Publishing, orang yang terpapar cahaya biru selama enam setengah jam mengalami penurunan produksi melatonin dua kali lebih lama dibandingkan orang yang terpapar green light atau cahaya hijau dengan kecerahan serupa. Cahaya biru juga menggeser jam tidur sekitar 3 jam, yang merupakan 2 kali lipat efek cahaya hijau.

  2. 2. Otak menjadi mode siaga

    ilustrasi menonton film di jam tidur
    ilustrasi menonton film di jam tidur (unsplash.com/George Huffman)

    Rebahan sambil nonton film baik di TV atau di smartphone rupanya membuat otak tetap aktif, karena kita fokus pada dialog dan situasi yang terjadi di layar. Akibatnya, otak tidak bisa tenang dan memasuki keadaan yang lebih rileks untuk tidur. Selain itu, jika tertidur, otak yang banyak terstimulasi sulit membuatmu tidur nyenyak yang dibutuhkan tubuh. Saat kamu tidak sengaja tertidur dalam keadaan film masih diputar, adegan menakutkan yang tiba-tiba, ledakan, atau dialog yang keras dan berteriak bisa membuat kamu terbangun mendadak, kan Inilah yang mengganggu kualitas tidur kamu.

    Pada intinya, menonton acara atau film sebelum tidur dapat membanjiri indra kamu, memecah perhatian, dan secara keseluruhan membuat otak kamu sulit, bahkan tidak mungkin, untuk rileks. Hal ini punya efek jangka panjang yang berlanjut hingga hari berikutnya. Ketika otak kelelahan dan kekurangan istirahat, kamu jadi lebih sulit untuk fokus, dan bahkan tugas-tugas kecil pun terasa berat untuk dikerjakan. Akibatnya, kamu jadi gampang tersinggung atau marah.

  3. 3. Detak jantung dan tekanan darah dapat meningkat tajam

    ilustrasi mengukur tekanan darah
    ilustrasi mengukur tekanan darah (unsplash.com/CDC)

    Dampak kurang tidur terhadap tubuh bukan hanya sekadar lelah keesokan harinya. Kurang tidur juga dikaitkan dengan tekanan darah tinggi, berat badan naik, gula darah meningkat, dan peradangan kronis. Semua faktor ini meningkatkan risiko masalah jantung. Selain itu, peradangan pada dinding arteri dapat memicu pembekuan darah yang bertanggung jawab atas sebagian besar serangan jantung.

    Sebuah tinjauan yang ditulis oleh Mahdieh Abbasalizad Farhangi, dkk., berjudul "Prolonged Screen Watching Behavior is Associated with High Blood Pressure among Children and Adolescents: A Systematic Review and Dose–Response Meta-Analysis" (2023), yang diterbitkan dalam Journal of Health, Population and Nutrition menemukan bahwa anak-anak dan remaja yang menghabiskan waktu paling banyak di depan layar memiliki peluang 8 persen lebih besar untuk mengembangkan hipertensi.

    Lebih dari itu, anak-anak dan remaja dengan tekanan darah tinggi cenderung menghabiskan hampir 50 menit per hari di depan layar dibandingkan dengan teman sebaya mereka yang memiliki tekanan darah normal. Temuan ini menunjukkan bahwa lebih banyak waktu yang dihabiskan di depan perangkat seperti TV, smartphone, dan komputer dapat berkontribusi pada risiko kesehatan jantung jangka panjang bagi kaum muda.

  4. 4. Bisa mengalami mimpi buruk

    ilustrasi mimpi buruk
    ilustrasi mimpi buruk (unsplash.com/Mohamed Jamil Latrach)

    Apa yang kamu tonton sebelum tidur tidak hanya membuat kamu terjaga, tapi juga bisa terbawa ke dalam mimpi, lho. Sebuah studi tahun 2016 yang diterbitkan dalam jurnal Dreaming menunjukkan bahwa orang yang menonton film dan acara TV yang mengandung kekerasan atau mengonsumsi jenis media kekerasan lainnya (seperti video game) sebelum tidur 13 kali lebih mungkin mengalami mimpi buruk ketimbang yang menonton hiburan yang lebih ringan atau tidak menonton hiburan sama sekali.

    Studi tersebut juga menunjukkan bahwa orang yang mengonsumsi konten seksual (porno) sebelum tidur juga enam kali lebih mungkin mengalami mimpi yang berkaitan. Temuannya juga berhipotesis bahwa gambar-gambar ini memicu pikiran dan gambar serupa di otak kita saat kita tidur.

    Selain itu, sebuah studi yang ditulis oleh Van den Bulck, dkk., berjudul "Violence, Sex, and Dreams: Violent and Sexual Media Content Infiltrate Our Dreams at Night" (2024), yang diterbitkan dalam jurnal Brain Sciences menunjukkan bahwa konten yang intens secara emosional, seperti materi kekerasan atau terlalu seksual dalam TV dan film, dapat memengaruhi nada dan isi mimpi kita.

    Studi tersebut menemukan bahwa orang yang menonton materi yang membangkitkan emosi sebelum tidur lebih cenderung bermimpi tentang permusuhan, cemas, atau penuh emosi. Studi ini semakin memperkuat gagasan bahwa mengonsumsi hiburan yang mungkin tidak berbahaya sekalipun sebelum tidur punya dampak yang lebih besar pada alam bawah sadar ketimbang apa yang kita pikirkan. 

  5. 5. Bikin mata tegang

    ilustrasi mata terasa tegang
    ilustrasi mata terasa tegang (pexels.com/MART PRODUCTION)

    Terlalu banyak waktu menatap layar TV, bahkan smartphone, laptop, dan tablet bisa memicu nyeri mata yang tajam, sakit kepala, dan kelelahan mata. Menonton layar terang di ruangan gelap, terutama di malam hari, juga bisa memperburuknya. Iris mata secara alami melebar untuk menyerap kegelapan, tetapi tidak menyesuaikan diri dengan baik terhadap cahaya terang layar, yang membuat adanya ketegangan pada mata dalam jangka panjang.

    Dalam sebuah studi tahun 2006 yang dilakukan oleh Lighting Research Center, peserta diminta untuk menonton film selama satu jam di ruangan, tapi layar bukanlah satu-satunya sumber cahaya. Kemudian, selama jam kedua film tersebut, TV menjadi satu-satunya sumber cahaya. Para peneliti menemukan bahwa menonton layar dengan pencahayaan tambahan di ruangan lebih nyaman bagi mata dibandingkan menonton dalam ruangan gelap. Sumber cahaya lain inilah yang mengurangi ketegangan mata, kelelahan, dan ketidaknyamanan, meskipun hanya sementara, ya.

  6. 6. Terganggunya siklus tidur-bangun

    ilustrasi menonton film di jam tidur
    ilustrasi menonton film di jam tidur (pexels.com/saikat ghosh)

    Tubuh kita bekerja berdasarkan jam internal yang dikenal sebagai ritme sirkadian, yang membantu menjaga siklus tidur-bangun agar tetap teratur. Ritme ini terkait erat dengan sinyal alami seperti sinar matahari dan kegelapan, yang ngasih tahu otak kita kapan harus merasa waspada dan kapan harus bersiap untuk beristirahat. Tapi, jika kita begadang menatap layar, cahaya terang tersebut akhirnya mengirimkan pesan yang salah. Otak kita bisa tertipu, lho, dan mengira kalau itu siang hari. Jadi, kita pun lebih sulit untuk tidur.

    Gangguan jam internal tubuh ini dapat menyebabkan kondisi yang dikenal sebagai jet lag sosial, menurut Tom's Guide. Ini terjadi ketika kita menghabiskan terlalu banyak waktu di hari kerja dan malam hari dalam keadaan terjaga dan kemudian mengganti kekurangan tidur di akhir pekan. Ketidaksesuaian ini bisa memengaruhi segala hal, mulai dari fungsi kognitif hingga memori dan suasana hati.

  7. 7. Jadi terlalu banyak ngemil

    ilustrasi nonton film sambil ngemil
    ilustrasi nonton film sambil ngemil (pexels.com/Andrea Piacquadio)

    Baik di sofa maupun di tempat tidur, pasti camilan tidak bisa lepas saat kamu nonton film, kan. Cleveland Clinic melaporkan bahwa, saat menonton TV, kita cenderung lebih fokus pada apa yang terjadi di layar dan kurang memperhatikan camilan yang sedang asyik kita kunyah. Kita pun jadi tidak sadar seberapa banyak camilan yang kita sudah makan. Selain itu, durasi tayangan yang kita tonton juga bisa menjadi faktor, mengingat kondisi kita yang teralihkan. Jika sebuah film berdurasi dua jam, mungkin banget kita akan terus mengemil selama film berlangsung.

    Selain itu, makan sambil menonton TV juga memiliki implikasi jangka panjang, lho. Menurut sebuah studi yang ditulis oleh Dresshti Garg, dkk., berjudul "Watching Television While Eating Increases Food Intake: A Systematic Review and Meta-Analysis of Experimental Studies" (2025), yang diterbitkan dalam jurnal Nutrients, menonton TV tidak selalu membuat seseorang makan berlebihan, tapi membuat seseorang lebih cenderung makan lebih banyak di kemudian hari. Gangguan dari televisi rupanya mengganggu seberapa kenyang seseorang atau seberapa baik seseorang mengingat apa yang telah dimakan. Nah, inilah yang menyebabkan seseorang makan lebih banyak pada waktu makan berikutnya.

  8. 8. Jadi gampang emosian

    ilustrasi marah-marah
    ilustrasi marah-marah (pexels.com/Gustavo Fring)

    Tidur merupakan faktor penting agar kita bisa mengatur dan mengelola emosi. Jika kita cukup beristirahat, otak kita dapat memproses emosi dan mempersiapkan diri untuk hari berikutnya. Terlalu banyak waktu di depan layar sebelum tidur, seperti menonton TV atau film di malam hari, bisa meningkatkan stres. Sensitivitas emosional yang meningkat ini dapat berlanjut hingga hari berikutnya, sehingga sulit untuk fokus atau mengelola emosi secara efektif.

    Menonton program yang penuh dengan kekerasan, bencana, atau trauma bisa mengaktifkan pusat rasa takut di otak, yang dikenal sebagai amigdala, dan memicu respons stres yang tetap ada bahkan setelah acara berakhir. Jalan pintas kognitif yang dikenal sebagai heuristik ketersediaan dapat membuat orang percaya bahwa jenis ancaman ini lebih umum daripada yang sebenarnya. Akibatnya, rasa tidak nyaman bisa berlanjut hingga waktu tidur, sehingga lebih sulit untuk menenangkan diri, mengatur emosi, dan sulit tidur nyenyak.

  9. 9. Bikin berat badan naik

    ilustrasi nimbang berat badan
    ilustrasi nimbang berat badan (pixabay.com/SHVETS production)

    Bahkan jika kamu tidak ngemil sambil nonton, tertidur dengan TV menyala juga bisa memengaruhi berat badan, lho. Sebuah studi yang ditulis oleh Marie Vandekerckhove, dkk., berjudul "Emotion, Emotion Regulation and Sleep: An Intimate Relationship" (2019), yang diterbitkan di JAMA Internal Medicine menunjukkan bahwa perempuan yang tidur dengan lampu atau televisi menyala 17 persen lebih mungkin mengalami kenaikan berat badan 5 kg atau lebih dan berpotensi obesitas. Temuan ini tetap berlaku bahkan ketika perempuan tersebut menjalani diet dan olahraga.

    Temuan ini didukung oleh tinjauan yang ditulis oleh Ka Yan Lai, dkk., berjudul "Exposure to Light at Night (LAN) and Risk of Obesity: A Systematic Review and Meta-Analysis of Observational Studies" (2020), yang diterbitkan di Environmental Research. Tinjauan tersebut menunjukkan bahwa cahaya buatan di malam hari bisa memengaruhi segala hal, mulai dari pola tidur hingga produksi hormon dan metabolisme. Selain itu, kurang tidur juga memengaruhi produksi hormon yang mengontrol nafsu makan kita. Leptin adalah hormon yang menghambat rasa lapar, sementara ghrelin mengirimkan sinyal lapar ke seluruh tubuh. Ketidakseimbangan hormon-hormon ini akibat kurang tidur bisa menyebabkan asupan kalori yang lebih tinggi di siang hari.

  10. Berapa lama waktu untuk mendapat tidur yang berkualitas?

    ilustrasi membaca buku sebelum tidur
    ilustrasi membaca buku sebelum tidur (pexels.com/cottonbro studio)

    Orang dewasa berusia antara 18— 64 tahun membutuhkan 7—9 jam tidur setiap malam. Setelah usia 65 tahun, orang dewasa membutuhkan sekitar 7—8 jam. Sementara itu, anak-anak membutuhkan tidur jauh lebih panjang ketimbang orang dewasa. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) merekomendasikan agar anak-anak usia sekolah (6—12 tahun) tidur selama 9—12 jam setiap malam dan remaja (13—17 tahun) tidur antara 8—10 jam. Kualitas tidur adalah penentu kesehatan kamu di masa mendatang. Selalu jaga pola hidup sehat, ya!

    Jadi, kapan waktu yang tepat untuk nonton film atau acara di rumah? Yap, sebenarnya tidak ada waktu spesifik untuk nonton film, kamu bisa nonton film kapanpun di waktu senggang. Eits, asalkan jangan di jam tidur, ya! Kamu bisa menontonnya di sore hari saat weekend atau libur panjang. Jika kamu ingin bersantai di tempat tidur sebelum tidur, sebaiknya baca buku ketimbang nonton film.

    Referensi

    “Watching TV Before Sleep Is the Most Popular Bedtime Routine.” Sleep Foundation. Diakses Oktober 2026.

    “Sleep Survey: Binge-Watching Results.” American Academy of Sleep Medicine (AASM). Diakses Oktober 2026.

    “How Electronics Affect Sleep.” Sleep Foundation. Diakses Oktober 2026.

    “Blue Light Has a Dark Side.” Harvard Health Publishing. Diakses Oktober 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More