Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Apa yang Terjadi jika Tetap Memakai Sepatu Lari yang Sudah Aus?
ilustrasi sepatu (pexels.com/Pixabay)
  • Bantalan midsole yang memadat pada sepatu lari aus mengurangi peredaman benturan, sehingga kaki dan tungkai menerima beban lebih besar, terutama saat lari jauh atau sering.
  • Penurunan peredaman dan dukungan dapat berkaitan dengan nyeri telapak, tumit, tulang kering, serta pegal pada lutut, pinggul, hingga punggung bawah setelah berlari.
  • Perubahan bentuk, stabilitas, dan lapisan sepatu dapat membuat pijakan kurang aman, meningkatkan risiko terkilir, serta memicu lecet atau blister akibat gesekan baru.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sepatu lari bukan cuma soal kenyamanan atau penampilan. Saat berlari, sepatu membantu meredam benturan, menopang kaki, sekaligus membuat gerakan terasa lebih stabil. Namun, kemampuan tersebut dapat berkurang setelah sepatu digunakan berulang kali.

Menariknya, sepatu lari yang sudah aus tidak selalu terlihat rusak parah. Bagian luar mungkin masih tampak bagus, bahkan solnya belum sampai bolong. Namun, bantalan di bagian tengah sepatu bisa saja sudah kehilangan kemampuannya untuk meredam benturan. Kalau terus dipakai, apa yang bisa terjadi pada tubuh?

1. Benturan saat berlari terasa lebih keras

ilustrasi laki-laki sedang berlari (unsplash.com/Chander R)

Setiap kali kaki menginjak permukaan, tubuh menerima gaya benturan. Salah satu fungsi midsole atau bagian tengah sepatu adalah membantu meredam sebagian beban tersebut. Seiring pemakaian, material busa pada midsole dapat mengalami pemadatan.

Akibatnya, bantalan terasa lebih keras dan tidak lagi memberikan respons seperti ketika sepatu masih baru. Kondisi ini bisa membuat kaki dan tungkai menerima beban yang terasa lebih besar. Apalagi jika sepatu digunakan untuk berlari dalam jarak jauh atau cukup sering.

2. Kaki dan tulang kering sering nyeri

ilustrasi menggaruk kaki

Saat kemampuan sepatu dalam meredam benturan menurun, jaringan tubuh harus bekerja lebih keras untuk menanggung beban berulang. Salah satu keluhan yang mungkin muncul adalah nyeri pada telapak atau tumit, termasuk yang berkaitan dengan plantar fasciitis.

Selain itu, pelari juga dapat mengalami shin splints, yaitu rasa sakit di sepanjang tulang kering akibat tekanan berulang. Bukan berarti sepatu yang sudah aus pasti menyebabkan kedua kondisi tersebut. Namun, menggunakan sepatu yang sudah kehilangan bantalan dan dukungannya dapat menjadi salah satu faktor yang ikut meningkatkan beban pada kaki.

3. Lutut, pinggul, hingga punggung terasa pegal

ilustrasi nyeri punggung (pexels.com/Kindel Media)

Dampak sepatu lari yang sudah aus tidak selalu berhenti di kaki. Perubahan bantalan dan cara kaki menerima benturan dapat memengaruhi gerakan kaki dan tungkai saat berlari. Akibatnya, beberapa orang mungkin merasakan pegal atau nyeri pada lutut, pinggul, bahkan punggung bagian bawah setelah berlari. Terlebih jika tubuh memang sudah memiliki masalah pada pola gerak atau sedang meningkatkan intensitas latihan. Kalau sebelumnya lari dengan jarak tertentu terasa baik-baik saja, tetapi belakangan tubuh mulai sering terasa sakit setelah berlari, kondisi sepatu juga layak diperiksa.

4. Kaki bisa terasa kurang stabil

ilustrasi pemanasan sebelum berlari (unsplash.com/Gabin Vallet)

Sepatu lari yang sudah lama digunakan juga dapat mengalami perubahan bentuk. Midsole yang tertekan terus-menerus bisa menjadi tidak rata, sementara bagian heel counter atau area di sekitar tumit dapat kehilangan struktur dan dukungannya. Akibatnya, kaki mungkin tidak lagi terasa seaman ketika menggunakan sepatu dalam kondisi prima.

Sepatu yang sudah tidak stabil juga bisa membuat pijakan terasa kurang nyaman, terutama ketika berlari di permukaan yang tidak rata. Pada kondisi tertentu, berkurangnya stabilitas dapat membuat risiko kaki terkilir atau kehilangan keseimbangan menjadi lebih besar.

5. Lecet dan rasa tidak nyaman muncul di tempat yang tidak biasa

ilustrasi sepatu (unsplash.com/Joseph Barrientos)

Sepatu yang sudah lama digunakan bisa mengalami perubahan pada bagian upper, heel collar, maupun lapisan dalamnya. Beberapa bagian dapat menjadi lebih longgar atau justru mengalami kerusakan.

Perubahan tersebut dapat membuat posisi kaki di dalam sepatu menjadi berbeda. Akibatnya, gesekan yang sebelumnya tidak terjadi bisa muncul dan menyebabkan lecet, blister, atau rasa panas pada bagian tertentu. Kalau tiba-tiba muncul lecet di tempat yang sebelumnya tidak pernah bermasalah, coba periksa kembali kondisi sepatu.

Sepatu lari yang sudah aus memang tidak otomatis membuat seseorang cedera. Namun, bantalan yang menurun, stabilitas yang berkurang, dan sol yang semakin licin dapat membuat aktivitas berlari terasa berbeda dan berpotensi menambah beban pada tubuh. Oleh karena itu, sesekali periksa kondisi sepatu, bukan hanya bagian luarnya, tetapi juga midsole, outsole, dan rasa nyaman saat digunakan.

Kalau mulai muncul nyeri baru setelah berlari, jangan buru-buru menganggapnya sebagai bagian normal dari olahraga. Bisa jadi tubuh sedang memberi tanda bahwa ada sesuatu yang perlu diperhatikan, termasuk kondisi sepatu yang digunakan.

Referensi

Achilles Foot & Ankle. Diakses pada September 2026. "When to Replace lari Shoes: Mileage, Wear Signs and Tips."

Run Kit UK. Diakses pada September 2026. "How to Know When Your lari Shoes Are Worn Out."

Runna. Diakses pada September 2026. "When to Replace Your lari Shoes: 7 Signs It’s Time for a New Pair."

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article