ilustrasi otot betis (pexels.com/Maksim Goncharenok)
Aktivitas fisik teratur, termasuk jalan kaki, membantu menjaga kesehatan jantung, metabolisme, berat badan, kesehatan mental, serta kebugaran tubuh secara keseluruhan. Para ahli merekomendasikan orang dewasa melakukan aktivitas aerobik intensitas sedang selama 150–300 menit per minggu.
Kalau tujuan utamanya tetap aktif tanpa terlalu menantang otot betis, beberapa penyesuaian yang dapat dicoba adalah:
Pilih jalur yang relatif datar dengan kecepatan nyaman.
Kurangi sesi tanjakan curam, tangga, atau hiking berbeban jika dilakukan sangat sering.
Variasikan olahraga dengan aktivitas yang tidak selalu memberikan beban dominan pada betis.
Gunakan langkah alami dan hindari sengaja berjalan berjinjit.
Ukur lingkar betis pada titik dan waktu yang sama, misalnya pagi hari sebelum olahraga, selama beberapa minggu.
Jangan menilai perubahan hanya dari satu kali pengukuran. Lingkar betis tidak selalu mencerminkan pertumbuhan otot. Penumpukan cairan atau edema juga dapat menambah ukurannya.
Dalam penelitian terhadap pasien lanjut usia, edema tungkai meningkatkan lingkar betis sekitar 2 sentimeter, meskipun angka tersebut tidak dapat disamakan dengan populasi sehat.
Perubahan yang terjadi perlahan, terjadi pada kedua kaki, dan disertai peningkatan kekuatan kemungkinan lebih berkaitan dengan adaptasi otot. Sebaliknya, pembesaran mendadak pada satu kaki perlu diwaspadai.
Bekuan darah pada vena dalam atau deep vein thrombosis dapat menyebabkan betis membengkak, nyeri atau sensitif, terasa hangat, dan tampak kemerahan. Kondisi tersebut harus segera diperiksa karena bekuan dapat berpindah ke paru-paru dan menimbulkan komplikasi yang mengancam nyawa.
Kesimpulannya, jalan kaki biasa tidak akan membuat betis mendadak menjadi besar pada kebanyakan orang. Betis mungkin menjadi sedikit lebih padat, terutama jika sebelumnya jarang bergerak. Pertumbuhan yang lebih nyata lebih mungkin terjadi ketika jalan kaki dilakukan dengan tanjakan, tangga, beban, atau intensitas tinggi secara konsisten.
Daripada menghindari aktivitas yang bermanfaat, lebih baik menyesuaikan rute dan intensitasnya. Betis yang kuat bukan efek samping yang perlu ditakuti, selama perubahan tersebut memang berasal dari adaptasi otot.
Referensi
Hayao Ozaki, Jeremy P. Loenneke, Robert S. Thiebaud, Joel M. Stager, and Takashi Abe, “Possibility of Leg Muscle Hypertrophy by Ambulation in Older Adults: A Brief Review,” Clinical Interventions in Aging 8 (2013): 369–75, https://doi.org/10.2147/CIA.S43837.
Jozo Grgic, Luke C. McIlvenna, Jackson J. Fyfe, Filip Sabol, David J. Bishop, Brad J. Schoenfeld, and Zeljko Pedisic, “Does Aerobic Training Promote the Same Skeletal Muscle Hypertrophy as Resistance Training? A Systematic Review and Meta-Analysis,” Sports Medicine 49, no. 2 (2019): 233–54, https://doi.org/10.1007/s40279-018-1008-z.
Jason R. Franz and Rodger Kram, “The Effects of Grade and Speed on Leg Muscle Activations during Walking,” Gait & Posture 35, no. 1 (2012): 143–47, https://doi.org/10.1016/j.gaitpost.2011.08.025.
Robert Boushel, Henning Langberg, Jens Olesen, Michael Nowak, Lone Simonsen, Jens Bülow, and Michael Kjaer, “Regional Blood Flow during Exercise in Humans Measured by Near-Infrared Spectroscopy and Indocyanine Green,” Journal of Applied Physiology 89, no. 5 (2000): 1868–78, https://doi.org/10.1152/jappl.2000.89.5.1868.
World Health Organization, “Physical Activity,” diakses Juli 2026.
Yuria Ishida et al., “Impact of Edema on Length of Calf Circumference in Older Adults,” Geriatrics & Gerontology International 19, no. 10 (2019): 993–98, https://doi.org/10.1111/ggi.13756.
National Heart, Lung, and Blood Institute, “Venous Thromboembolism: Deep Vein Thrombosis,” last updated September 19, 2022, https://www.nhlbi.nih.gov/health/deep-vein-thrombosis.