Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Apa Saja Bahaya Buka Puasa Langsung Merokok?

Apa Saja Bahaya Buka Puasa Langsung Merokok?
ilustrasi berhenti merokok (IDN Times/NRF)
Intinya Sih
  • Merokok langsung saat berbuka dapat memicu lonjakan tekanan darah, denyut jantung, serta memperberat risiko bagi penderita hipertensi atau penyakit jantung karena tubuh lebih sensitif terhadap nikotin.

  • Kebiasaan ini juga bisa mengiritasi lambung kosong, meningkatkan asam lambung, dan memperparah gejala refluks akibat efek nikotin pada katup esofagus bawah.

  • Selain itu, paparan nikotin setelah puasa memicu stres oksidatif, gangguan metabolisme gula darah, dan memperkuat ketergantungan karena otak mengaitkan rokok dengan momen lega saat berbuka.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Bagi perokok, dorongan untuk segera menyalakan rokok setelah azan magrib terdengar sama kuatnya dengan keinginan minum air pertama. Setelah seharian menahan diri, nikotin terasa seperti “hadiah”.

Namun secara fisiologis, tubuh yang telah berjam-jam tidak menerima asupan makanan, minuman, maupun nikotin berada dalam kondisi adaptasi metabolik. Ketika buka puasa langsung merokok, respons tubuh bisa lebih dramatis dibanding saat merokok di hari-hari biasa.

Ketahui apa saja risiko bahaya buka puasa langsung merokok, wajib kamu pahami!

Table of Content

1. Lonjakan tekanan darah dan denyut jantung

1. Lonjakan tekanan darah dan denyut jantung

Nikotin adalah zat stimulan yang bekerja cepat pada sistem saraf simpatis. Dalam hitungan menit, nikotin meningkatkan pelepasan adrenalin, mempercepat denyut jantung, dan menyempitkan pembuluh darah.

Merokok satu batang saja dapat meningkatkan tekanan darah dan denyut jantung secara akut. Setelah periode tidak merokok selama belasan jam, sensitivitas tubuh terhadap nikotin bisa meningkat, sehingga efek kardiovaskular terasa lebih kuat.

Kondisi ini berpotensi lebih berisiko pada individu dengan hipertensi atau penyakit jantung. Ingat, tidak ada tingkat merokok yang aman, karena bahkan paparan singkat dapat memicu disfungsi endotel dan gangguan pembuluh darah.

2. Iritasi lambung dan memperparah refluks asam

Ilustrasi gejala asam lambung GERD.
ilustrasi gejala asam lambung GERD (IDN Times/Novaya Siantita)

Selama puasa, lambung tetap memproduksi asam walaupun tidak ada makanan yang masuk. Saat berbuka, idealnya lambung menerima cairan atau makanan untuk menetralkan asam. Jika yang masuk justru asap rokok, lapisan mukosa lambung bisa makin teriritasi.

Nikotin diketahui menurunkan tekanan sfingter esofagus bawah (LES), yaitu katup yang mencegah asam naik ke kerongkongan. Akibatnya, risiko heartburn dan refluks meningkat, terutama jika merokok dilakukan saat perut masih kosong.

Ingat, merokok adalah salah satu faktor risiko gastroesophageal reflux disease (GERD). Dalam konteks puasa, kombinasi asam lambung yang sudah terkumpul dan efek nikotin terhadap LES dapat memperburuk rasa perih atau panas di dada.

3. Stres oksidatif dan peradangan akut

Asap rokok mengandung ribuan zat kimia, termasuk radikal bebas yang meningkatkan stres oksidatif. Ketika masuk ke tubuh, zat-zat ini memicu respons inflamasi/peradangan dan kerusakan sel.

Setelah berjam-jam tanpa paparan rokok, tubuh berada dalam fase relatif “bersih” dari nikotin. Paparan mendadak saat berbuka dapat memicu lonjakan stres oksidatif yang lebih terasa secara biologis, meski tidak selalu disadari secara subjektif.

Perlu digarisbawahi bahwa efek merokok tidak cuma bersifat jangka panjang, tetapi juga terjadi secara langsung pada sistem kardiovaskular dan pernapasan setiap kali rokok diisap. Artinya, satu batang rokok saat berbuka tetap membawa konsekuensi biologis.

4. Gangguan gula darah dan metabolisme

Ilustrasi orang dengan diabetes.
ilustrasi orang dengan diabetes (IDN Times/Novaya Siantita)

Nikotin memengaruhi sensitivitas insulin dan metabolisme glukosa. Penelitian menunjukkan bahwa merokok berkaitan dengan peningkatan resistansi insulin dan risiko diabetes tipe 2.

Saat berbuka puasa, tubuh sedang memproses kembali asupan glukosa setelah belasan jam puasa. Jika pada saat yang sama nikotin masuk dan memicu respons stres (melalui adrenalin), regulasi gula darah dapat terganggu.

Pada individu dengan pradiabetes atau diabetes, kombinasi lonjakan gula darah dari makanan/minuman buka puasa dan efek nikotin terhadap hormon stres berpotensi memperburuk kontrol glikemik.

Berhenti merokok adalah bagian penting dari pengelolaan diabetes.

5. Makin ketergantungan

Secara neurobiologis, jeda panjang tanpa nikotin selama puasa meningkatkan gejala withdrawal ringan, seperti gelisah, sulit fokus, atau craving. Ketika rokok akhirnya dikonsumsi, otak melepaskan dopamin yang memberikan sensasi lega.

Siklus ini memperkuat asosiasi psikologis antara berbuka dan merokok. Nikotin mengaktifkan jalur reward di otak, memperkuat perilaku adiktif.

Alih-alih mengurangi ketergantungan, kebiasaan langsung merokok saat berbuka justru dapat memperdalam pola kecanduan karena otak mengaitkannya dengan momen emosional yang kuat.

Langsung merokok saat berbuka puasa bukan cuma kebiasaan, melainkan respons biologis yang membawa dampak nyata pada jantung, lambung, metabolisme, dan sistem saraf. Tubuh yang telah berjam-jam beradaptasi tanpa nikotin menjadi lebih sensitif terhadap efeknya.

Banyak orang memanfaatkan Ramadan sebagai momentum pengendalian diri. Dari sisi kesehatan, menghentikan kebiasaan merokok saat berbuka puasa, atau lebih baik lagi benar-benar berhenti merokok, bisa menjadi langkah kecil dengan dampak besar. Setiap batang rokok yang tidak diisap memberi kesempatan bagi tubuh untuk pulih.

Referensi

Neal L. Benowitz, “Nicotine Addiction,” New England Journal of Medicine 362, no. 24 (June 16, 2010): 2295–2303, https://doi.org/10.1056/nejmra0809890.

Centers for Disease Control and Prevention (US), “The Health Consequences of Smoking—50 Years of Progress,” NCBI Bookshelf, 2014, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK179276/.

Barbara Messner and David Bernhard, “Smoking and Cardiovascular Disease,” Arteriosclerosis Thrombosis and Vascular Biology 34, no. 3 (February 19, 2014): 509–15, https://doi.org/10.1161/atvbaha.113.300156.

Philip O. Katz et al., “ACG Clinical Guideline for the Diagnosis and Management of Gastroesophageal Reflux Disease,” The American Journal of Gastroenterology 117, no. 1 (November 22, 2021): 27–56, https://doi.org/10.14309/ajg.0000000000001538.

Athanasios Valavanidis, Thomais Vlachogianni, and Konstantinos Fiotakis, “Tobacco Smoke: Involvement of Reactive Oxygen Species and Stable Free Radicals in Mechanisms of Oxidative Damage, Carcinogenesis and Synergistic Effects With Other Respirable Particles,” International Journal of Environmental Research and Public Health 6, no. 2 (February 2, 2009): 445–62, https://doi.org/10.3390/ijerph6020445.

"Tobacco." World Health Organization. Diakses Februari 2026.

Carole Willi et al., “Active Smoking and the Risk of Type 2 Diabetes,” JAMA 298, no. 22 (December 11, 2007): 2654, https://doi.org/10.1001/jama.298.22.2654.

American Diabetes Association, “Smoking and Diabetes,” Diabetes Care 26, no. suppl_1 (January 1, 2003): s89–91, https://doi.org/10.2337/diacare.26.2007.s89.

"Tobacco, Nicotine, and E-Cigarettes Research Report - Is nicotine addictive?" National Institute on Drug Abuse. Diakses Februari 2026.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bayu D. Wicaksono
Nuruliar F
3+
Bayu D. Wicaksono
EditorBayu D. Wicaksono
Follow Us

Latest in Health

See More