Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Benarkah Makan Nasi Putih Bikin Gula Darah Melonjak? Ini Faktanya!

Benarkah Makan Nasi Putih Bikin Gula Darah Melonjak? Ini Faktanya!
ilustrasi nasi putih (freepik.com/xb100)
Intinya Sih
  • Nasi putih memang memiliki indeks glikemik tinggi, tapi masih bisa dikonsumsi aman jika porsinya terkontrol dan dipadukan dengan lauk bergizi serta sayuran berserat.
  • Porsi makan berlebihan dan kebiasaan tidak aktif setelah makan menjadi faktor utama yang memicu lonjakan gula darah lebih cepat dibandingkan jenis makanan lain.
  • Respons tubuh terhadap nasi putih berbeda pada tiap orang, sehingga keseimbangan pola makan dan gaya hidup sehat lebih penting daripada menghindari nasi sepenuhnya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Pernah merasa takut makan nasi putih karena khawatir gula darah langsung naik drastis? Belakangan ini, nasi putih memang sering dianggap sebagai salah satu makanan yang bisa memicu gula darah tinggi, bahkan banyak orang mulai menguranginya karena alasan kesehatan. Padahal, tidak sedikit juga yang bingung karena nasi sudah menjadi makanan pokok sehari-hari dan sulit dipisahkan dari menu makan.

Menariknya, tidak semua orang yang rutin makan nasi putih langsung mengalami kenaikan gula darah yang signifikan. Kondisi ini membuat banyak orang mulai penasaran apakah nasi putih memang sepenuhnya harus disalahkan, atau justru pola makan dan porsinya yang lebih berpengaruh. Agar tidak mudah percaya pada informasi yang simpang siur, yuk cari tahu fakta sebenarnya tentang pengaruh nasi putih terhadap gula darah berikut ini!

1. Nasi putih memang bisa membuat gula darah naik dengan cepat

ilustrasi gula darah tinggi
ilustrasi gula darah tinggi (freepik.com/xb100)

Banyak orang mengira nasi putih sepenuhnya buruk karena sering dikaitkan dengan gula darah tinggi. Anggapan ini muncul karena nasi putih memiliki indeks glikemik yang cukup tinggi sehingga karbohidratnya lebih cepat diubah menjadi gula di dalam tubuh. Setelah makan nasi dalam porsi besar, kadar gula darah memang bisa meningkat lebih cepat dibanding beberapa sumber karbohidrat lain.

Lonjakan gula darah biasanya lebih mudah terjadi ketika nasi putih dikonsumsi sendirian tanpa tambahan protein, sayuran, atau makanan tinggi serat lainnya. Namun, hal itu bukan berarti nasi putih harus sepenuhnya dihindari dari menu harian. Selama porsinya tetap terkontrol dan dipadukan dengan makanan bergizi seimbang, nasi putih masih bisa dikonsumsi dengan lebih aman dan nyaman untuk tubuh.

2. Porsi makan sering jadi penyebab yang tidak disadari

ilustrasi makan nasi putih
ilustrasi makan nasi putih (unsplash.com/Pille R. Priske)

Tidak sedikit orang merasa sudah makan “normal”, padahal porsi nasi yang dikonsumsi sebenarnya cukup berlebihan. Kebiasaan menambah nasi berkali-kali atau makan dalam piring besar bisa membuat asupan karbohidrat meningkat tanpa disadari. Saat tubuh menerima terlalu banyak karbohidrat sekaligus, gula darah pun cenderung naik lebih cepat.

Hal ini sering terjadi karena nasi dianggap belum membuat kenyang jika belum dimakan dalam jumlah banyak. Padahal, rasa kenyang tidak hanya berasal dari nasi, tetapi juga dipengaruhi oleh asupan protein, serat, dan lemak sehat yang membantu tubuh merasa kenyang lebih lama. Karena itu, menyeimbangkan isi piring dengan lauk bergizi dan sayuran bisa menjadi cara sederhana untuk membantu menjaga pola makan tetap lebih sehat.

3. Cara konsumsi nasi juga sangat berpengaruh

ilustrasi sambal nasi jinggo yang dinikmati bersama ayam bakar dan nasi putih hangat (unsplash.com/Brian Fathurohman)
ilustrasi sambal nasi jinggo yang dinikmati bersama ayam bakar dan nasi putih hangat (unsplash.com/Brian Fathurohman)

Makan nasi putih dengan lauk serba gorengan dan minuman manis tentu berbeda dengan makan nasi bersama sayur dan protein seimbang. Banyak orang hanya fokus pada nasi, padahal kombinasi makanan dalam satu piring punya pengaruh besar terhadap lonjakan gula darah. Serat dari sayuran dapat membantu memperlambat penyerapan gula sehingga tubuh tidak mengalami kenaikan gula darah terlalu drastis.

Asupan protein dari makanan seperti telur, ikan, dan ayam dapat membantu tubuh merasa kenyang lebih lama sehingga keinginan untuk ngemil berlebihan bisa berkurang. Sebaliknya, kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi gula tanpa cukup serat sering membuat rasa lapar datang lebih cepat meski baru saja makan. Karena itu, yang paling berpengaruh sebenarnya bukan hanya nasi putih, tetapi juga bagaimana keseluruhan pola makan sehari-hari dijalani.

4. Aktivitas tubuh setelah makan tidak bisa diabaikan

ilustrasi rebahan
ilustrasi rebahan (magnific.com/freepik)

Setelah makan nasi dalam porsi besar, banyak orang memilih langsung duduk santai atau berbaring karena tubuh terasa kenyang dan lemas. Padahal, minimnya aktivitas setelah makan dapat membuat proses penggunaan gula oleh tubuh berjalan lebih lambat sehingga energi tidak segera terbakar. Kondisi inilah yang bisa menyebabkan kadar gula darah bertahan lebih tinggi dalam waktu lebih lama, terutama jika kebiasaan ini sering dilakukan.

Sebaliknya, aktivitas ringan seperti berjalan kaki beberapa menit setelah makan dapat membantu tubuh membakar energi dengan lebih baik. Orang yang rutin bergerak dan berolahraga juga cenderung memiliki kontrol gula darah yang lebih stabil meski tetap makan nasi putih. Karena itu, gaya hidup aktif punya peran penting yang sering kali terlupakan dalam menjaga kesehatan tubuh.

5. Tidak semua orang memiliki respons tubuh yang sama

ilustrasi lansia yang sedang cek gula darah
ilustrasi lansia yang sedang cek gula darah (freepik.com/Lifestylememory)

Ada orang yang tetap rutin makan nasi putih setiap hari tetapi kondisi gula darahnya tetap normal dan terkontrol. Namun, ada juga yang lebih sensitif terhadap lonjakan gula darah karena faktor usia, berat badan, pola hidup, atau riwayat kesehatan tertentu. Perbedaan respons tubuh ini membuat kebutuhan setiap orang tidak bisa disamakan begitu saja. 

Karena alasan itulah, kebutuhan konsumsi nasi putih pada setiap orang bisa berbeda-beda tergantung kondisi tubuh dan pola hidupnya. Ada yang perlu membatasi asupan nasi karena faktor kesehatan tertentu, tetapi ada juga yang tetap bisa mengonsumsinya selama porsinya masih terkontrol dan seimbang. Daripada hanya mengikuti tren diet yang belum tentu cocok, memahami respons tubuh sendiri dan menjaga pola makan tetap seimbang menjadi langkah yang jauh lebih penting.

6. Nasi putih tetap bisa dikonsumsi dengan cara yang bijak

ilustrasi pola makan seimbang untuk diet
ilustrasi pola makan seimbang untuk diet (pexels.com/Heather Brock)

Sampai sekarang, nasi putih masih menjadi makanan pokok utama bagi banyak orang Indonesia dan sulit dipisahkan dari kebiasaan sehari-hari. Menghindarinya sepenuhnya sering kali terasa berat dan belum tentu cocok untuk semua orang. Daripada langsung berhenti makan nasi, banyak ahli justru menyarankan pengaturan pola makan yang lebih seimbang dan realistis.

Mengatur porsi makan dengan lebih seimbang, menambahkan sayur dalam menu harian, dan mengurangi konsumsi makanan serta minuman manis dapat membantu tubuh mengontrol gula darah dengan lebih baik. Kebiasaan sederhana seperti tidur cukup, rutin berjalan kaki, atau aktif bergerak setiap hari juga berpengaruh besar terhadap cara tubuh mengolah gula menjadi energi. Karena itu, nasi putih sebenarnya masih bisa dinikmati selama dikonsumsi secara wajar dan diimbangi dengan pola hidup yang lebih sehat.

Pada akhirnya, yang paling berpengaruh terhadap gula darah bukan hanya nasi putih, tetapi juga pola makan dan gaya hidup secara keseluruhan. Mengonsumsi nasi dalam jumlah wajar, memilih lauk yang seimbang, dan tetap aktif bergerak bisa membantu tubuh tetap lebih sehat. Jadi, daripada langsung takut makan nasi putih, lebih baik mulai belajar memahami kebutuhan tubuh dan mengatur pola makan dengan lebih bijak

Referensi

“Glycemic Index of Rice by Several Processing Methods.” Amerta Nutrition. Diakses Mei 2026.

“REVIEW INDEKS GLIKEMIK BERAS: Faktor-Faktor yang Mempengaruhi dan Keterkaitannya terhadap Kesehatan Tubuh.” Jurnal Kesehatan. Diakses Mei 2026.

“Estimasi Asupan Indeks Glikemik dan Beban Glikemik dengan Kontrol Gula Darah Pasien Diabetes Melitus Tipe 2.” Jurnal Gizi Klinik Indonesia. Diakses Mei 2026.

“Penurunan Indeks Glikemik Nasi Putih dengan Penambahan Ekstrak Serai dan Daun Salam.” Jurnal Teknologi dan Industri Pangan. Diakses Mei 2026.

“Hubungan Tingkat Asupan Zat Gizi Makro, Indeks Glikemik, Beban Glikemik dengan Glukosa Darah Sewaktu pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2.” Jurnal Riset Gizi. Diakses Mei 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Izza Namira
EditorIzza Namira
Follow Us

Related Articles

See More