Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Apakah Orang dengan Talasemia Boleh Hamil?

Apakah Orang dengan Talasemia Boleh Hamil?
ilustrasi tespek positif (pexels.com/Tima Miroshnichenko)
Intinya Sih
Sisi Positif
  • Talasemia adalah kelainan darah genetik yang memengaruhi produksi hemoglobin, dengan tingkat keparahan berbeda yang menentukan peluang kehamilan dan risiko komplikasi bagi penderitanya.
  • Banyak perempuan dengan talasemia tetap bisa hamil berkat kemajuan medis, meski keberhasilan dipengaruhi jenis talasemia, kondisi organ vital, kadar zat besi, hormon reproduksi, dan faktor genetik pasangan.
  • Kehamilan pada penderita talasemia tergolong berisiko tinggi sehingga perlu perencanaan matang, pemeriksaan menyeluruh sebelum hamil, serta pengawasan dokter multidisiplin agar ibu dan janin tetap aman.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Banyak orang mengira perempuan dengan talasemia tidak bisa hamil atau menjalani kehamilan dengan aman. Padahal, kemajuan dunia medis membuat banyak penderita talasemia kini tetap bisa memiliki anak, baik secara alami maupun dengan bantuan program kehamilan tertentu.

Meski begitu, kehamilan pada orang dengan talasemia memang butuh perhatian ekstra. Kondisi ini termasuk kehamilan berisiko tinggi sehingga perlu perencanaan yang matang dan pengawasan dokter sejak sebelum hamil.

Table of Content

1. Apa itu talasemia?

1. Apa itu talasemia?

Talasemia adalah kelainan darah genetik yang membuat tubuh sulit memproduksi hemoglobin secara normal. Akibatnya, orang dengan kondisi ini mudah mengalami anemia, lemas, pucat, hingga membutuhkan transfusi darah rutin pada kasus yang berat.

Ada beberapa jenis talasemia, mulai dari talasemia minor, intermedia, hingga beta-talasemia mayor yang termasuk paling berat. Tingkat keparahan inilah yang sangat memengaruhi peluang kehamilan dan risiko komplikasi.

Pada talasemia ringan, banyak perempuan tetap bisa hamil secara alami tanpa masalah berarti. Namun, pada talasemia berat yang memerlukan transfusi rutin, kondisi tubuh biasanya lebih kompleks karena adanya penumpukan zat besi dalam organ tubuh.

2. Apakah pasien talasemia bisa hamil?

Bisa! Banyak perempuan dengan thalasemia berhasil menjalani kehamilan hingga melahirkan bayi sehat. Bahkan, angka keberhasilan kehamilan terus meningkat dalam beberapa dekade terakhir berkat terapi dan pemantauan medis yang lebih baik.

Namun, peluang keberhasilan tetap dipengaruhi oleh beberapa hal, seperti:

  • Jenis talasemia yang dimiliki.
  • Kondisi jantung dan hati.
  • Kadar zat besi dalam tubuh.
  • Fungsi hormon reproduksi.
  • Usia.
  • Apakah pasangan juga carrier talasemia atau tidak.

Pada sebagian pasien talasemia berat, penumpukan zat besi akibat transfusi darah dapat mengganggu kerja hormon reproduksi. Kondisi ini bisa menyebabkan haid tidak teratur, sulit ovulasi, bahkan amenore atau tidak menstruasi sama sekali. Meski begitu, banyak kasus tetap berhasil hamil setelah mendapatkan terapi hormon atau penanganan kesuburan tertentu.

3. Tantangan kesuburan pada pasien talasemia

Seseorang mengenakan sweter krem memegang alat tes kehamilan dengan hasil negatif di satu tangan dan beberapa kapsul obat di tangan lainnya.
ilustrasi tespek negatif (freepik.com/freepik)

Salah satu masalah yang cukup sering terjadi adalah gangguan hormon akibat iron overload atau kelebihan zat besi. Penumpukan zat besi dapat memengaruhi kelenjar pituitari yang berperan penting dalam mengatur ovulasi.

Pada perempuan usia muda, terutama di bawah 30–35 tahun, fungsi ovarium biasanya masih cukup baik. Namun, pada kasus yang lebih berat, dokter mungkin perlu memberikan obat perangsang ovulasi agar kehamilan bisa terjadi.

Selain itu, kadar AMH (Anti-Mullerian Hormone), yaitu penanda cadangan sel telur, cenderung lebih rendah pada sebagian penderita thalasemia. Walaupun begitu, kehamilan tetap mungkin terjadi, termasuk melalui program bayi tabung atau IVF.

4. Risiko kehamilan pada pasien talasemia

Kehamilan pada penderita talasemia termasuk kategori kehamilan berisiko tinggi. Risiko ini terutama lebih besar pada pasien yang bergantung pada transfusi darah rutin. Beberapa risiko yang mungkin terjadi antara lain:

  • Anemia menjadi lebih berat.
  • Kerja jantung lebih berat.
  • Risiko infeksi meningkat.
  • Kelahiran prematur.
  • Gangguan pertumbuhan janin.
  • Komplikasi akibat penumpukan zat besi.

Selain itu, ada juga risiko bayi mewarisi talasemia apabila pasangan sama-sama carrier atau pembawa sifat talasemia. Karena itu, pemeriksaan genetik pasangan sangat penting dilakukan sebelum merencanakan kehamilan.

5. Persiapan sebelum hamil sangat penting

Perencanaan kehamilan menjadi kunci bagi penderita talasemia. Sebelum hamil, dokter biasanya akan melakukan berbagai pemeriksaan untuk memastikan kondisi tubuh cukup aman menjalani kehamilan. Pemeriksaan tersebut bisa meliputi:

  • Fungsi jantung.
  • Kondisi hati.
  • Kadar zat besi.
  • Kadar hormon.
  • Pemeriksaan kesuburan.
  • Tes genetik pasangan.

Dokter juga biasanya akan mengatur terapi kelasi besi untuk membantu menurunkan kadar zat besi berlebih sebelum kehamilan dimulai. Penggunaan obat kelasi tertentu umumnya dihentikan sementara pada awal masa kehamilan demi keamanan janin.

Penanganan pasien talasemia yang hamil biasanya melibatkan banyak dokter, seperti hematolog, dokter kandungan, hingga dokter endokrin.

Pasien talasemia tetap bisa hamil dan memiliki anak. Namun, kehamilan perlu direncanakan dengan matang karena termasuk berisiko tinggi, terutama pada talasemia berat yang perlu transfusi rutin.

Dengan pemeriksaan sebelum hamil, kontrol rutin, serta pendampingan dokter yang tepat, banyak perempuan dengan talasemia berhasil menjalani kehamilan dengan aman dan melahirkan bayi sehat. Karena itu, konsultasi sejak awal sangat penting agar kondisi ibu dan janin tetap terpantau dengan baik.

Referensi

Haematologica. Diakses pada Mei 2026. "Pregnancy and β-thalassemia: An Italian Multicenter Experience."

Healthline. Diakses pada Mei 2026. "What’s Pregnancy Like If You Have Thalassemia?"

RSMC. Diakses pada Mei 2026. "Can Thalassemia Patients Get Pregnant? What Should Be Noted?"

Vasundhara IVF. Diakses pada Mei 2026. "How Does Thalassemia Affect Fertility? Meaning, Symptoms, Causes, Tests, and Available Treatments."

WebMD. Diakses pada Mei 2026. "Beta Thalassemia and Pregnancy."

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Related Articles

See More