Berikut ini beberapa penyebab mual saat puasa:
Lambung tetap memproduksi asam meski tidak ada makanan yang masuk. Produksi asam lambung yang tidak diimbangi makanan dapat memperparah gejala dispepsia atau refluks asam (GERD).
Saat perut kosong dalam waktu lama, asam dapat mengiritasi mukosa lambung dan menimbulkan rasa mual atau perih. Kondisi ini lebih sering terjadi pada individu dengan riwayat gastritis atau GERD.
Penelitian menunjukkan perubahan pola makan selama Ramadan dapat memengaruhi gejala gastrointestinal, terutama jika konsumsi makanan berlemak atau pedas meningkat saat berbuka.
Selama puasa, tubuh tidak mendapat asupan cairan selama belasan jam. Dehidrasi ringan saja dapat menyebabkan pusing, lemas, dan mual. Cairan berperan penting dalam menjaga keseimbangan elektrolit dan fungsi saraf.
Ketika cairan tubuh berkurang, tekanan darah dapat menurun dan aliran darah ke otak sedikit berkurang, memicu sensasi mual atau ingin muntah.
Cuaca panas dan aktivitas fisik berat memperbesar risiko ini.
Puasa menyebabkan kadar glukosa darah menurun, terutama pada individu dengan metabolisme sensitif atau pasien diabetes yang menggunakan obat tertentu.
Hipoglikemia dapat menimbulkan gejala seperti gemetar, pusing, berkeringat, hingga mual.
Walau pada orang sehat tubuh mampu beradaptasi dengan memanfaatkan cadangan energi, tetapi sebagian individu tetap merasakan mual akibat fluktuasi gula darah.
Bagi yang terbiasa minum kopi setiap pagi, penghentian mendadak selama puasa dapat memicu gejala withdrawal. Gejalanya meliputi sakit kepala, mudah marah, kelelahan, dan mual.
Kafein memengaruhi sistem saraf pusat. Ketika asupannya tiba-tiba dihentikan, tubuh membutuhkan waktu untuk beradaptasi.
Stres dan kecemasan dapat memengaruhi saluran cerna melalui mekanisme gut-brain axis. Stres dapat memperburuk gangguan lambung dan memicu mual.
Perubahan rutinitas tidur dan aktivitas selama puasa juga bisa berkontribusi terhadap stres fisiologis.