Tingkatkan jarak/intensitas secara bertahap (≤10 persen per minggu).
Pakai sepatu yang sesuai dengan biomekanik kaki.
Lakukan pemanasan dan pendinginan.
Sertakan latihan penguatan otot.
Prioritaskan pemulihan dan tidur cukup.
Pendekatan pencegahan jauh lebih efektif dibanding pengobatan setelah cedera terjadi.
Cedera lari bukan sesuatu yang tidak bisa dihindari, tetapi juga bukan sesuatu yang dianggap normal. Tubuh selalu memberi sinyal, dan memahami sinyal itu adalah bagian dari proses menjadi pelari yang lebih baik.
Dengan pendekatan yang tepat, seperti latihan yang terukur, teknik yang baik, dan perhatian pada pemulihan, lari tetap bisa menjadi aktivitas yang aman, berkelanjutan, dan menyenangkan.
Referensi
R N Van Gent et al., “Incidence and Determinants of Lower Extremity Running Injuries in Long Distance Runners: A Systematic Review,” British Journal of Sports Medicine 41, no. 8 (May 1, 2007): 469–80, https://doi.org/10.1136/bjsm.2006.033548.
Richard W. Willy and Irene S. Davis, “The Effect of a Hip-Strengthening Program on Mechanics During Running and During a Single-Leg Squat,” Journal of Orthopaedic and Sports Physical Therapy 41, no. 9 (July 13, 2011): 625–32, https://doi.org/10.2519/jospt.2011.3470.
Alexandre Dias Lopes et al., “What Are the Main Running-Related Musculoskeletal Injuries?,” Sports Medicine 42, no. 10 (October 1, 2012): 891–905, https://doi.org/10.1007/bf03262301.
Michael Fredericson and Adam Weir, “Practical Management of Iliotibial Band Friction Syndrome in Runners,” Clinical Journal of Sport Medicine 16, no. 3 (May 1, 2006): 261–68, https://doi.org/10.1097/00042752-200605000-00013.