Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ciri-Ciri DBD Mulai Sembuh yang Perlu Diketahui
ilustrasi sedang sakit DBD (magnific.com/stockking)
  • Pada DBD, turunnya demam bukan selalu pertanda pasien sudah aman. Justru fase paling berbahaya sering terjadi ketika demam mulai mereda.

  • Tanda-tanda pemulihan biasanya meliputi nafsu makan yang kembali, kondisi tubuh yang lebih bertenaga, produksi urine yang membaik, serta perbaikan hasil pemeriksaan darah seperti peningkatan trombosit.

  • Pemulihan DBD terjadi secara bertahap dan perlu dipantau hingga melewati fase kritis, terutama pada hari ke-3 hingga ke-7 sejak gejala muncul.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Saat sakit demam berdarah (DBD/DB), rasanya lega ketika demam akhirnya turun. Setelah beberapa hari mengalami demam tinggi, nyeri kepala, pegal-pegal, dan tubuh terasa lemas, hilangnya demam sering dianggap sebagai tanda bahwa penyakit sudah mulai membaik. Sayangnya, pada DBD, tidak selalu demikian.

Fase paling berbahaya pada DBD justru sering muncul ketika demam mulai turun. Karena itu, dokter biasanya tetap memantau pasien secara ketat meskipun suhu tubuh sudah kembali normal.

Lalu, bagaimana cara membedakan antara demam yang turun karena pasien mulai sembuh dan demam yang turun tetapi justru memasuki fase kritis?

Untuk memahaminya, penting mengetahui terlebih dahulu perjalanan penyakit DBD.

Tiga fase demam berdarah

DBD umumnya terdiri dari tiga fase utama:

1. Fase demam

Fase ini biasanya berlangsung selama 2–7 hari.

Gejalanya meliputi:

  • Demam tinggi mendadak.

  • Sakit kepala.

  • Nyeri belakang mata.

  • Nyeri otot dan sendi.

  • Mual atau muntah.

  • Ruam kulit.

Pada fase ini, virus dengue sedang aktif berkembang di dalam tubuh.

2. Fase kritis

Fase ini biasanya terjadi saat demam mulai turun. Pada sebagian pasien, kebocoran plasma dari pembuluh darah dapat terjadi sehingga meningkatkan risiko:

  • Syok dengue.

  • Perdarahan berat.

  • Gangguan organ.

Fase kritis biasanya berlangsung sekitar 24–48 jam.

3. Fase pemulihan

Jika berhasil melewati fase kritis, tubuh mulai memperbaiki diri.

Cairan yang sebelumnya keluar dari pembuluh darah mulai kembali ke sirkulasi normal, fungsi organ membaik, dan kondisi pasien berangsur pulih.

Pada fase ini, tanda-tanda kesembuhan mulai terlihat lebih jelas.

Ciri-ciri DBD mulai sembuh

Tidak ada satu tanda tunggal yang dapat memastikan kesembuhan DBD. Biasanya dokter menilai kombinasi gejala klinis dan hasil pemeriksaan laboratorium.

Berikut beberapa tanda yang paling sering menunjukkan bahwa pasien sedang memasuki fase pemulihan dari DBD.

1. Nafsu makan mulai kembali

Pada fase akut DBD, banyak pasien mengalami mual, muntah, perut tidak nyaman, dan kehilangan selera makan. Ketika tubuh mulai pulih, pasien biasanya kembali merasa lapar dan mampu mengonsumsi makanan tanpa keluhan berarti.

Kembalinya nafsu makan merupakan salah satu indikator penting bahwa pasien telah memasuki fase pemulihan.

2. Tubuh terasa lebih bertenaga

ilustrasi tubuh bertenaga saat bangun tidur (pexels.com/ Miriam Alonso)

Pada awal DBD, aktivitas sederhana seperti berjalan ke kamar mandi bisa terasa melelahkan. Saat kondisi membaik, energi mulai kembali secara bertahap.

Kamu biasanya lebih mudah bangun dari tempat tidur, tidak terlalu lemas, dan mampu melakukan aktivitas ringan tanpa cepat kehabisan tenaga.

Meski demikian, rasa lelah dapat bertahan selama beberapa minggu setelah infeksi sembuh. Ini cukup umum dan tidak selalu menandakan adanya komplikasi.

3. Produksi urine kembali normal

Produksi urine merupakan salah satu indikator yang sering dipantau dokter. Selama fase kritis, kebocoran plasma dapat mengurangi volume cairan dalam pembuluh darah sehingga produksi urine menurun.

Ketika pasien mulai pulih biasanya frekuensi buang air kecil meningkat, warna urine menjadi lebih jernih, dan volume urine kembali normal. Ini menandakan sirkulasi darah dan fungsi ginjal membaik.

4. Tidak ada lagi tanda-tanda kebocoran plasma

Pada fase kritis, pembuluh darah menjadi lebih permeabel sehingga cairan dapat keluar ke jaringan tubuh. Ketika memasuki fase pemulihan, kebocoran tersebut berhenti.

Dokter biasanya menilai kondisi ini melalui pemeriksaan fisik, tekanan darah yang stabil, denyut nadi yang membaik, dan hasil laboratorium.

Perbaikan ini merupakan salah satu indikator paling penting bahwa fase berbahaya telah terlewati.

5. Trombosit mulai naik

ilustrasi tes darah untuk mengetahui jumlah trombosit pasien DBD (pexels.com/Karolina Grabowska)

Pada DBD, jumlah trombosit biasanya turun selama perjalanan penyakit. Menurut berbagai penelitian, peningkatan trombosit setelah mencapai titik terendah merupakan tanda yang baik. Ini menunjukkan bahwa sumsum tulang mulai kembali memproduksi sel darah secara normal.

Meski demikian, dokter tidak hanya melihat angka trombosit, tetapi juga kondisi klinis pasien secara keseluruhan.

6. Nilai hematokrit mulai kembali normal

Selain trombosit, dokter sering memantau hematokrit pada pasien DBD.

Hematokrit menggambarkan proporsi sel darah merah dalam darah. Saat terjadi kebocoran plasma, hematokrit biasanya meningkat karena darah menjadi lebih pekat.

Ketika pasien mulai sembuh, umumnya hematokrit menurun menuju nilai normal, keseimbangan cairan tubuh membaik, dan risiko syok berkurang.

Kombinasi trombosit yang meningkat dan hematokrit yang membaik sering dianggap sebagai tanda pemulihan dari DBD yang kuat.

7. Demam hilang dan tak lagi muncul

Demam turun memang kabar baik, tetapi yang lebih penting adalah demam tak lagi muncul diiringi kondisi umum yang terus membaik.

Jika demam turun tetapi pasien justru makin lemas, sulit minum, muntah terus-menerus, dan mengalami nyeri perut hebat, maka kondisi tersebut justru bisa mengarah pada fase kritis dan butuh evaluasi medis segera.

Gejala yang menandakan pasien belum aman

ilustrasi sakit perut parah (pexels.com/Sora Shimazaki)

Beberapa tanda-tanda di bawah ini perlu perhatian medis segera:

  • Sakit perut hebat.

  • Muntah terus-menerus.

  • Perdarahan gusi atau hidung.

  • Muntah darah.

  • Tinja berwarna hitam.

  • Sesak napas.

  • Tangan dan kaki dingin.

  • Penurunan kesadaran.

  • Sangat lemas atau gelisah.

Gejala-gejala tersebut merupakan tanda peringatan yang dapat mendahului dengue berat.

Berapa lama pemulihan DBD?

Sebagian besar pasien mulai memasuki fase pemulihan sekitar hari ke-5 hingga ke-7 sejak gejala pertama muncul. Namun, proses kembali pulih sepenuhnya bisa lebih lama.

Sebuah studi menunjukkan sebagian pasien masih mengalami kelelahan, penurunan stamina, dan gangguan konsentrasi selama beberapa minggu setelah infeksi akut berakhir. Karena itu, istirahat yang cukup tetap diperlukan meskipun hasil pemeriksaan sudah membaik.

Yang bisa dilakukan selama masa pemulihan

Agar pemulihan berjalan optimal, beberapa langkah yang direkomendasikan meliputi:

  • Memenuhi asupan cairan: Tubuh butuh cairan untuk membantu memulihkan keseimbangan yang sempat terganggu selama fase akut.

  • Mengonsumsi makanan bergizi: Prioritaskan protein, buah-buahan, sayuran, dan sumber karbohidrat yang cukup.

  • Hindari aktivitas berat untuk sementara waktu: Tubuh masih memerlukan waktu untuk kembali ke kondisi normal.

  • Tetap kontrol ke dokter jika dianjurkan: Terutama jika trombosit masih rendah atau masih ada keluhan tertentu.

Kesembuhan dari DBD tidak ditentukan hanya oleh hilangnya demam. Justru pada banyak kasus, fase paling berbahaya terjadi ketika suhu tubuh mulai turun. Jadi, pemantauan tetap penting sampai pasien benar-benar melewati fase kritis.

Ciri-ciri seseorang sembuh dari DBD bisa meliputi kembalinya nafsu makan, meningkatnya energi, produksi urine yang normal, trombosit yang mulai naik, hematokrit yang membaik, serta tidak adanya tanda kebocoran plasma atau komplikasi lainnya. Memahami perjalanan penyakit ini penting agar pasien dan keluarga tidak terkecoh oleh demam yang turun terlalu dini.

Referensi

World Health Organization. "Dengue: Guidelines for Diagnosis, Treatment, Prevention and Control." Diakses Juni 2026.

Cameron P. Simmons et al., “Dengue,” New England Journal of Medicine 366, no. 15 (April 11, 2012): 1423–32, https://doi.org/10.1056/nejmra1110265.

Maria G Guzman and Eva Harris, “Dengue,” The Lancet 385, no. 9966 (September 15, 2014): 453–65, https://doi.org/10.1016/s0140-6736(14)60572-9.

Byron E. E. Martina, Penelope Koraka, and Albert D. M. E. Osterhaus, “Dengue Virus Pathogenesis: An Integrated View,” Clinical Microbiology Reviews 22, no. 4 (October 1, 2009): 564–81, https://doi.org/10.1128/cmr.00035-09.

Annelies Wilder-Smith et al., “Dengue,” The Lancet 393, no. 10169 (January 1, 2019): 350–63, https://doi.org/10.1016/s0140-6736(18)32560-1.

Editorial Team

Related Article