Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kapan Waktu yang Pas untuk Minum Kopi Selama Ramadan?
ilustrasi kopi (unsplash.com/Daniel Dan)
  • Minum kopi sebaiknya 1–2 jam setelah berbuka, bukan saat perut masih kosong.

  • Hindari minum kopi terlalu dekat dengan waktu tidur agar kualitas istirahat tetap terjaga.

  • Batasi kopi saat sahur karena dapat meningkatkan risiko haus dan dehidrasi.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Puasa mengubah jadwal makan, minum, sekaligus cara tubuh mengolah kafeina sehingga kebiasaan minum kopi tidak bisa disamakan dengan hari biasa. Banyak orang tetap ingin menikmati kopi saat Ramadan. Namun, mereka sering ragu karena khawatir perut terasa tidak nyaman, tidur terganggu, atau justru membuat tubuh lemas keesokan harinya.

Kebingungan ini wajar karena efek kafeina saat puasa memang berbeda, terutama ketika lambung dalam kondisi kosong cukup lama. Berikut penjelasan sebelum menentukan waktu minum kopi selama Ramadan. Simak sampai tuntas, ya!

1. Waktu minum kopi sebaiknya tidak dilakukan saat perut masih kosong setelah berbuka

ilustrasi kopi (unsplash.com/olga safronova)

Minum kopi tepat setelah azan magrib sering terasa menggoda karena tubuh terasa sangat lelah setelah seharian puasa. Namun, kondisi lambung saat itu masih sensitif karena belum menerima asupan makanan padat selama berjam-jam. Kafeina dapat meningkatkan produksi asam lambung. Jika langsung diminum, risiko perih, mual, atau kembung menjadi lebih besar.

Waktu yang lebih aman biasanya sekitar 1–2 jam setelah berbuka, ketika makanan utama sudah dicerna sebagian. Pada fase ini, lapisan lambung sudah lebih siap menerima zat yang bersifat asam seperti kopi. Cara ini juga membantu mencegah lonjakan kafeina yang terlalu cepat masuk ke aliran darah. Dampaknya, energi tetap meningkat tanpa menimbulkan rasa tidak nyaman di perut.

2. Tubuh lebih toleran terhadap kafeina ketika kopi diminum setelah makan malam ringan

ilustrasi kopi (unsplash.com/Lingchor)

Setelah makan besar saat berbuka, sistem pencernaan membutuhkan waktu untuk bekerja. Jika kopi diminum bersamaan dengan makanan berat, penyerapan kafeina bisa terasa lebih lambat, tetapi efeknya sering bertahan lebih lama. Hal ini dapat membuat jantung terasa berdebar atau tubuh terasa gelisah menjelang malam.

Mengonsumsi kopi setelah makan malam ringan atau camilan kecil biasanya lebih nyaman bagi tubuh. Kondisi ini membuat kafeina masuk secara bertahap tanpa menimbulkan lonjakan mendadak. Selain itu, kadar gula darah cenderung lebih stabil sehingga kopi tidak memicu rasa lemas setelah efek kafeinanya menurun. Strategi ini sering dianggap paling aman bagi orang yang tetap ingin minum kopi selama Ramadan.

3. Konsumsi kopi terlalu dekat dengan waktu tidur dapat mengganggu kualitas istirahat

ilustrasi kopi (unsplash.com/Anil Jose Xavier)

Kafeina bekerja dengan menghambat zat kimia di otak yang memicu rasa kantuk. Efeknya dapat bertahan sekitar 4–6 jam, bahkan lebih lama pada sebagian orang. Jika kopi diminum setelah tarawih dalam jumlah besar, tubuh bisa tetap terjaga hingga larut malam.

Kurang tidur saat puasa dapat berdampak pada konsentrasi, metabolisme, dan daya tahan tubuh. Banyak orang mengira kopi membantu tetap segar saat sahur. Padahal, kurang tidur justru membuat tubuh terasa lebih lelah sepanjang hari. Karena itu, sebaiknya kopi tidak dikonsumsi terlalu dekat dengan waktu tidur. Memberi jeda beberapa jam membantu tubuh tetap mendapatkan istirahat yang cukup.

4. Minum kopi saat sahur berisiko memicu dehidrasi sepanjang hari

ilustrasi kopi (unsplash.com/Jonathan Cooper)

Kafeina memiliki efek diuretik ringan yang dapat meningkatkan frekuensi buang air kecil. Jika kopi diminum saat sahur tanpa diimbangi asupan cairan yang cukup, tubuh berpotensi kehilangan lebih banyak cairan selama puasa. Kondisi ini bisa memicu rasa haus berlebihan, pusing, atau tubuh terasa cepat lelah.

Selain itu, kopi dapat mempercepat pergerakan usus sehingga sebagian orang mengalami rasa tidak nyaman di perut pada pagi hari. Risiko ini semakin besar jika kopi diminum dalam keadaan perut kosong saat sahur. Karena itu, banyak tenaga kesehatan menyarankan untuk membatasi kopi pada waktu sahur atau menghindarinya sama sekali. Air putih tetap menjadi pilihan terbaik untuk menjaga hidrasi.

5. Jumlah dan jenis kopi memengaruhi kenyamanan tubuh selama puasa

ilustrasi kopi susu (unsplash.com/Madalyn Cox)

Tidak semua kopi memiliki kadar kafeina yang sama. Kopi hitam pekat mengandung kafeina lebih tinggi dibandingkan kopi susu atau kopi dengan campuran air lebih banyak. Jika dikonsumsi dalam jumlah besar, efek samping seperti jantung berdebar, tangan gemetar, atau asam lambung meningkat bisa lebih mudah muncul.

Mengurangi takaran kopi atau memilih jenis dengan kafeina lebih rendah sering membantu menjaga kenyamanan tubuh. Banyak orang merasa lebih cocok dengan satu cangkir kecil dibandingkan ukuran besar. Selain itu, menghindari tambahan gula berlebihan juga membantu menjaga kestabilan energi. Cara sederhana ini membuat tubuh tetap segar tanpa efek samping yang mengganggu.

Puasa tidak berarti harus berhenti minum kopi sepenuhnya, tetapi waktu dan jumlahnya perlu disesuaikan agar tidak memicu gangguan kesehatan. Memilih momen yang tepat membantu menjaga lambung tetap nyaman, tidur tidak terganggu, dan tubuh tetap bertenaga sepanjang hari. Jika kebiasaan minum kopi selama Ramadan masih sering menimbulkan keluhan, mungkin sudah saatnya mempertimbangkan kembali kapan tubuh benar-benar siap menerima kafeina, bukan sekadar mengikuti keinginan sesaat.

Referensi
"A Practical Guide to Drinking Coffee During Ramadan". The Need for Coffee. Diakses pada Februari 2026.
"Drinking coffee after Iftaar or before suhoor?". Vacakis. Diakses pada Februari 2026.
"Reducing Caffeine and Soft Drinks During Ramadan". Johns Hopkins Aramco Healthcare. Diakses pada Februari 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorYudha ‎