ilustrasi kopi susu (unsplash.com/Madalyn Cox)
Tidak semua kopi memiliki kadar kafeina yang sama. Kopi hitam pekat mengandung kafeina lebih tinggi dibandingkan kopi susu atau kopi dengan campuran air lebih banyak. Jika dikonsumsi dalam jumlah besar, efek samping seperti jantung berdebar, tangan gemetar, atau asam lambung meningkat bisa lebih mudah muncul.
Mengurangi takaran kopi atau memilih jenis dengan kafeina lebih rendah sering membantu menjaga kenyamanan tubuh. Banyak orang merasa lebih cocok dengan satu cangkir kecil dibandingkan ukuran besar. Selain itu, menghindari tambahan gula berlebihan juga membantu menjaga kestabilan energi. Cara sederhana ini membuat tubuh tetap segar tanpa efek samping yang mengganggu.
Puasa tidak berarti harus berhenti minum kopi sepenuhnya, tetapi waktu dan jumlahnya perlu disesuaikan agar tidak memicu gangguan kesehatan. Memilih momen yang tepat membantu menjaga lambung tetap nyaman, tidur tidak terganggu, dan tubuh tetap bertenaga sepanjang hari. Jika kebiasaan minum kopi selama Ramadan masih sering menimbulkan keluhan, mungkin sudah saatnya mempertimbangkan kembali kapan tubuh benar-benar siap menerima kafeina, bukan sekadar mengikuti keinginan sesaat.
Referensi
"A Practical Guide to Drinking Coffee During Ramadan". The Need for Coffee. Diakses pada Februari 2026.
"Drinking coffee after Iftaar or before suhoor?". Vacakis. Diakses pada Februari 2026.
"Reducing Caffeine and Soft Drinks During Ramadan". Johns Hopkins Aramco Healthcare. Diakses pada Februari 2026.