ilustrasi obat-obatan (pexels.com/Pixabay)
Beberapa obat dapat mengurangi produksi keringat, misalnya obat antikolinergik, antihistamin tertentu, obat tekanan darah, atau sebagian obat untuk gangguan mental.
Selain itu, kondisi medis seperti diabetes, gangguan tiroid, penyakit Parkinson, cedera saraf, dan sindrom Sjögren juga dapat memengaruhi fungsi kelenjar keringat.
Jika kamu merasa pola berkeringat berubah drastis, terutama jika disertai gejala lain seperti mudah kepanasan, pusing, atau lemah, sebaiknya periksakan diri ke dokter untuk mencari penyebabnya.
Tidak banyak berkeringat saat lari bisa saja normal, terutama jika olahraga dilakukan di tempat sejuk, intensitasnya ringan, atau tubuh memang secara alami memproduksi lebih sedikit keringat. Namun, jika tubuh hampir tidak pernah berkeringat, terutama saat cuaca panas atau aktivitas berat, jangan mengabaikannya.
Referensi
Baker, Lindsay B. "Sweat testing methodology in the field: Challenges and best practices." Sports Sci. Exchange 28 (2016): 1-6.
W. Larry Kenney et al., “Temperature Regulation During Exercise in the Heat: Insights for the Aging Athlete,” Journal of Science and Medicine in Sport 24, no. 8 (December 25, 2020): 739–46, https://doi.org/10.1016/j.jsams.2020.12.007.
Samuel N. Cheuvront and Robert W. Kenefick, “Dehydration: Physiology, Assessment, and Performance Effects,” Comprehensive Physiology 4, no. 1 (January 10, 2014): 257–85, https://doi.org/10.1002/cphy.c130017.
Mayo Clinic. “Anhidrosis: Symptoms and Causes.” Diakses April 2026.
Cleveland Clinic. “Anhidrosis: Causes and Treatment.” Diakses April 2026.