“Kita lihat Pancasila sila tiga, Persatuan Indonesia, jadi ya emang kita tuh harus bekerja sama. Begitu kita gak bekerja sama, contohnya antara gen X kayak saya dan gen Z, atau antara pemerintah kayak saya dengan masyarakatnya, yang mungkin sekarang lagi sebel sama pemerintahnya, itu kita gak akan maju ke mana-mana.” Ucapnya.
Menkes Budi: Krisis Bukan Akhir, tapi Peluang untuk Maju

Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi Indonesia, mulai dari ketidakpastian ekonomi, perubahan sosial, hingga meningkatnya perhatian terhadap kesehatan mental, optimisme dan kesiapan menghadapi masa depan dinilai menjadi hal yang semakin penting bagi generasi muda.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, menyoroti bahwa tantangan besar yang dihadapi bangsa saat ini tidak hanya berkaitan dengan pembangunan ekonomi atau teknologi, tetapi juga dengan cara masyarakat menjaga daya tahan psikologis.
Menurutnya, kemajuan tidak akan tercapai jika masyarakat hanya berfokus pada rasa pesimis atau mengabaikan persoalan kesehatan mental yang semakin nyata. Hal ini ia sampaikan dalam acara Indonesia Summit 2026 pada Rabu (17/6/2026).
Dalam pemaparannya, Menkes Budi mengajak generasi muda untuk melihat krisis sebagai ruang untuk bertumbuh, memperkuat kolaborasi lintas kelompok, sekaligus mulai lebih peduli terhadap kesehatan jiwa melalui langkah deteksi dini dan pemeriksaan kesehatan secara rutin.
1. Krisis tidak selalu berarti kemunduran
Dalam pemaparannya, Menkes Budi mengajak generasi muda untuk mengubah cara memandang situasi sulit. Menurutnya, setiap krisis selalu menghadirkan dua sisi sekaligus: risiko dan peluang. Karena itu, arah masa depan tidak hanya ditentukan oleh kondisi yang dihadapi, tetapi juga oleh perspektif yang dipilih dalam meresponsnya.
Menkes Budi menilai sikap pesimistis dapat membuat masyarakat terjebak pada ekspektasi negatif yang akhirnya memengaruhi tindakan dan hasil yang dicapai. Sebaliknya, ketika tantangan dipandang sebagai kesempatan untuk berkembang, ruang untuk menciptakan kemajuan menjadi lebih terbuka.
Ia mengajak masyarakat untuk mengakui berbagai kekhawatiran yang ada, tetapi tidak berhenti pada rasa cemas tersebut. Menurutnya, optimisme bukan berarti menolak kenyataan, melainkan tetap melihat kemungkinan untuk bergerak maju di tengah kondisi yang tidak ideal.
2. Kemajuan tidak bisa dicapai sendiri

Selain menekankan pentingnya optimisme, Menkes Budi juga menyoroti persoalan kesehatan mental yang menurutnya masih belum cukup terdeteksi dan belum mendapatkan layanan yang memadai di Indonesia.
Ia menyampaikan bahwa berdasarkan berbagai temuan global yang dipelajarinya setelah pandemi COVID-19, sekitar satu dari delapan hingga satu dari sepuluh orang berpotensi mengalami gangguan kesehatan mental. Dengan jumlah penduduk Indonesia saat ini, angka tersebut berarti puluhan juta orang mungkin hidup dengan kondisi yang belum disadari atau belum mendapatkan bantuan yang dibutuhkan.
Gangguan kesehatan mental sendiri dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari kecemasan (anxiety disorder), depresi (depression disorder), hingga kondisi lain yang memengaruhi keseharian dan produktivitas seseorang.
Karena itu, Menkes Budi mengajak generasi muda untuk mulai melihat kesehatan mental sebagai bagian dari upaya membangun masa depan, bukan cuma isu kesehatan individu. Salah satu langkah yang ia dorong adalah memanfaatkan program cek kesehatan gratis yang sudah mencakup skrining kesehatan jiwa sebagai bentuk deteksi dini.
3. Kolaborasi jadi kunci
Di luar pentingnya menjaga optimisme dan kesehatan mental, Menkes Budi juga menekankan bahwa kemajuan bangsa tidak bisa dibangun oleh satu kelompok saja. Menurutnya, tantangan yang dihadapi Indonesia saat ini membutuhkan kemampuan untuk bekerja sama di tengah perbedaan latar belakang, generasi, maupun sudut pandang.
Ia menyoroti pentingnya semangat persatuan seperti yang tercermin dalam nilai Pancasila. Dalam pandangannya, perbedaan antara generasi yang lebih senior dan generasi muda, maupun antara pemerintah dan masyarakat, seharusnya tidak menjadi penghalang untuk bergerak ke arah yang sama.
Menkes Budi mengatakan bahwa tugas semua pihak bukan hanya menjaga semangat, tetapi juga mengubah energi dan perhatian menjadi aktivitas yang produktif. Ia mengajak generasi muda untuk tetap terlibat, membangun kolaborasi, dan ikut menciptakan perubahan nyata agar Indonesia dapat berkembang menjadi negara yang lebih maju di masa depan.
IDN menggelar Indonesia Summit 2026, sebuah konferensi independen yang khusus diselenggarakan untuk dan melibatkan generasi Milenial dan Gen Z di Tanah Air. Dengan tema "The Next Us: Indonesia's Leap in the Algorithmic Age". IS 2026 bertujuan membentuk dan membangun masa depan Indonesia dengan menyatukan para pemimpin dan tokoh nasional dari seluruh nusantara. IS 2026 diadakan di Tribrata Dharmawangsa, Jakarta, pada 17-18 Juni 2026. Dalam IS 2026, IDN juga meluncurkan Indonesia Millennial and Gen-Z Report 2027.
Survei ini dikerjakan oleh IDN Research Institute. Melalui survei ini, IDN Media menggali aspirasi dan DNA Milenial dan Gen Z, apa nilai-nilai yang mendasari tindakan mereka. Survei ini menjangkau responden Milenial dan Gen Z di sembilan wilayah di Indonesia, antara lain Sumatra Utara, Kepulauan Riau, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan, dan Sulawesi.



![[QUIZ] Seberapa Jeli Matamu Menebak Pemain Piala Dunia 2026?](https://image.idntimes.com/post/20260618/upload_3dcbed17ce3d325b8c798cc86fa5c273_194ec8d9-8cfa-4f74-9a58-c41e6eb809d6.jpg)

![[QUIZ] Pilih Karakter Upin & Ipin, Kami Tahu Seberapa Rentan Mentalmu](https://image.idntimes.com/post/20250526/img-20250524-171226-164746ba170a9a5a6fad9a91e0cdcd36.jpg)







![[QUIZ] Dari Upin sampai Jarjit, Siapa yang Paling Mirip Mood Kamu?](https://image.idntimes.com/post/20250524/img-20250524-171040-a4e4cddefdae713cd1a3efe97f21f1d1-28feab17b5fb8a908bef39b95c48ca47.jpg)




