- Dengarkan sinyal tubuh
Kenapa Pelari Bisa Kolaps Saat Maraton? Ketahui Penyebabnya

Pelari maraton dapat kolaps akibat heat stroke ketika panas tubuh meningkat drastis, memicu pusing, kebingungan, mual, hingga kehilangan kesadaran.
Dehidrasi saat maraton bisa menurunkan volume darah dan membuat jantung bekerja lebih keras, sedangkan terlalu banyak minum dapat memicu hyponatremia akibat kadar natrium darah terlalu rendah.
Gangguan jantung tersembunyi juga berisiko jika memaksakan diri untuk maraton.
Maraton merupakan olahraga ketahanan yang menuntut tubuh bekerja dalam intensitas tinggi selama berjam-jam. Tak heran, beberapa pelari bisa mengalami kelelahan ekstrem, pusing, bahkan kolaps saat perlombaan.
Namun, sebenarnya kenapa pelari bisa kolaps saat maraton? Kondisi ini dapat dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari heat stroke, dehidrasi, gangguan elektrolit, hingga masalah jantung yang tidak terdeteksi. Yuk, simak penjelasan lengkap mengenai penyebab dan cara mencegahnya!
Table of Content
Kenapa pelari bisa kolaps saat maraton?
Kolaps saat maraton dapat dipicu oleh berbagai faktor, seperti suhu tubuh yang terlalu tinggi, gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit, hingga masalah pada jantung. Faktor-faktor tersebut dapat menyebabkan pelari kehilangan kesadaran atau terjatuh saat perlombaan. Berikut penjelasan lengkapnya.
1. Heat stroke
Saat berlari, tubuh menghasilkan panas dalam jumlah besar sebagai hasil dari aktivitas otot yang terus bekerja. Normalnya, tubuh akan membuang panas tersebut melalui keringat dan aliran darah ke permukaan kulit. Namun, ketika produksi panas lebih besar daripada kemampuan tubuh untuk melepaskannya, suhu tubuh dapat meningkat secara drastis dan memicu heat stroke.
Kondisi ini termasuk keadaan darurat medis karena dapat memengaruhi fungsi organ-organ vital. Pelari yang mengalami heat stroke biasanya menunjukkan gejala seperti pusing, kebingungan, mual, muntah, kehilangan koordinasi, hingga kolaps.
Risiko heat stroke memang lebih tinggi saat cuaca panas, tetapi kondisi ini juga dapat terjadi pada suhu yang relatif sedang jika intensitas lari terlalu tinggi atau tubuh tidak mampu mengendalikan kenaikan suhu internal dengan baik.
2. Dehidrasi yang berlebihan

Dehidrasi terjadi ketika tubuh kehilangan lebih banyak cairan dibandingkan yang masuk. Selama maraton, tubuh mengeluarkan banyak keringat untuk membantu mendinginkan suhu tubuh. Jika cairan yang hilang tidak digantikan secara cukup, volume darah dapat berkurang sehingga jantung harus bekerja lebih keras untuk mengalirkan oksigen ke seluruh tubuh.
Akibatnya, pelari dapat mengalami penurunan performa, pusing, lemas, hingga pingsan. Penelitian menunjukkan bahwa pelari yang kehilangan lebih dari 3% berat badannya akibat dehidrasi cenderung memiliki suhu tubuh yang lebih tinggi selama perlombaan.
3. Hyponatremia
Tidak hanya kekurangan cairan, terlalu banyak minum air juga bisa berbahaya bagi pelari maraton. Kondisi ini dikenal sebagai hyponatremia, yaitu ketika kadar natrium atau sodium dalam darah turun terlalu rendah akibat darah menjadi terlalu encer karena konsumsi cairan yang berlebihan.
Hyponatremia sering terjadi pada pelari pemula atau pelari dengan kecepatan lebih lambat yang menghabiskan waktu 4—5 jam atau lebih untuk menyelesaikan maraton. Memiliki lebih banyak kesempatan untuk minum di sepanjang lintasan, sebagian pelari tanpa sadar mengonsumsi air dalam jumlah berlebihan.
Gejalanya mirip dengan heat stroke, seperti mual, muntah, kebingungan, sakit kepala, hingga kolaps. Pada kasus parah, kondisi ini dapat mengancam nyawa dan memerlukan penanganan medis segera.
4. Gangguan atau kelainan jantung
Masalah jantung juga menjadi salah satu penyebab serius pelari kolaps saat maraton. Pada pelari usia dewasa, serangan jantung dapat terjadi meskipun sebelumnya terlihat sehat dan aktif. Sementara itu, pada pelari muda, penyebabnya sering kali berasal dari kelainan jantung bawaan yang tidak terdeteksi sejak dini.
Salah satu kelainan yang paling sering dikaitkan dengan kematian mendadak saat olahraga adalah Hypertrophic Obstructive Cardiomyopathy (HOCM), yaitu penebalan dinding jantung yang menghambat aliran darah. Selain itu, gangguan irama jantung seperti ventricular tachycardia juga dapat menyebabkan jantung berhenti bekerja secara normal dalam waktu singkat.
Banyak kelainan jantung tidak menunjukkan gejala yang jelas, pemeriksaan kesehatan sebelum mengikuti program latihan atau lomba lari sangat disarankan. Khususnya, mereka yang memiliki riwayat penyakit jantung dalam keluarga.
Cara mencegah kolaps saat maraton

Meskipun kolaps saat maraton tidak selalu bisa dicegah sepenuhnya, risikonya dapat dikurangi dengan persiapan yang tepat dan kesadaran terhadap kondisi tubuh. Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk membantu mencegah kolaps saat maraton.
Tubuh biasanya memberikan tanda ketika ada sesuatu yang tidak beres. Jika kamu merasa tidak enak badan, mengalami pusing, sesak napas, mual, atau kelelahan yang tidak biasa sebelum maupun saat berlari, jangan abaikan gejala tersebut, ya. Mengurangi intensitas latihan atau beristirahat sejenak bisa menjadi keputusan yang lebih bijak daripada memaksakan diri hingga berisiko mengalami kolaps.
- Ketahui riwayat penyakit dalam keluarga
Beberapa kasus gangguan jantung yang menyebabkan kolaps saat olahraga berkaitan dengan faktor genetik. Karena itu, penting mengetahui apakah ada riwayat penyakit jantung atau kematian mendadak dalam keluarga. Informasi ini dapat menjadi pertimbangan bagi dokter untuk menentukan apakah diperlukan pemeriksaan kesehatan lebih lanjut sebelum mengikuti maraton.
- Jaga kesehatan jantung dan kadar kolesterol
Jantung merupakan organ yang bekerja sangat keras selama maraton. Menjaga pola makan sehat, rutin berolahraga, dan mengontrol kadar kolesterol dapat membantu menjaga fungsi jantung tetap optimal. Jika dokter memberikan saran atau pengobatan tertentu untuk kesehatan jantung, pastikan mengikuti anjuran tersebut guna mengurangi risiko masalah kardiovaskular saat berlari.
- Bangun kondisi fisik secara bertahap
Maraton membutuhkan persiapan fisik yang matang dan tidak bisa dilakukan secara instan. Kamu perlu tingkatkan jarak dan intensitas latihan secara bertahap agar tubuh memiliki waktu untuk beradaptasi. Selain membantu meningkatkan daya tahan, latihan yang terencana juga dapat mengurangi risiko kelelahan berlebihan dan kolaps saat menghadapi lomba jarak jauh.
Alasan kenapa pelari bisa kolaps saat maraton berkaitan dengan hidrasi maupun riwayat penyakit seseorang. Jadi, untukmu yang berniat melakukan maraton, tapi tak yakin dengan kondisi tubuh akan lebih baik jika berkonsultasi terlebih dulu dengan medis, ya.
Referensi
“Why Do Fit Runners Suddenly Die While Running Marathons?”. Run Society. Diakses Juni 2026.
“Why Runners Collapse During or After a Race”. Runners Connect. Diakses Juni 2026.
“How to Not Die During Marathon Training, Running”. Marathon Training Academy. Diakses Juni 2026.






![[QUIZ] Kenali Tanda-Tanda NPD Dalam Dirimu](https://image.idntimes.com/post/20260804/mwuep2hrca5w9qlbdxkci8rch_0a3c7963-22c0-42a8-afa2-de6c989c3307.png)








![[QUIZ] Dari Masalah Kesehatanmu saat Ini, Ini Jus yang Bisa Kamu Minum](https://image.idntimes.com/post/20260714/upload_fb55bb03ef8e096afd1d12b06f081ef9_8b5cfdf7-0ac7-4ed9-a9bc-2057765b9daa.png)

![[QUIZ] Apakah Kamu Punya Kecenderungan Depresi? Cari Tahu di Sini](https://image.idntimes.com/post/20240423/kuis-seberapa-depresi-9e7a142f0aea4022ea4080d00de087be.jpg)


