“Saturated Fats”. American Heart Association. Diakses pada Maret 2026.
“Sodium Intake and Hypertension”. Nutrients. Diakses pada Maret 2026.
“WHO Calls on Countries to Reduce Sugars Intake Among Adults and Children”. World Health Organization (WHO). Diakses pada Maret 2026.
“Berapa Kalori Ketupat? 160 kkal per 100 g”. Nutrinusa. Diakses pada Maret 2026.
“Informasi Gizi Ketupat”. FatSecret Indonesia. Diakses pada Maret 2026.
“Mayo Clinic Q and A: Food to Reduce Bloating”. Mayo Clinic News Network. Diakses pada Maret 2026.
“Energy Balance and Obesity: What Are the Main Drivers?”. Cancer Causes & Control. Diakses pada Maret 2026.
6 Mitos Kesehatan soal Makanan Lebaran yang Ternyata Keliru, Stop Percaya!

- Banyak mitos makanan Lebaran seperti santan, daging kambing, dan kue kering terbukti tidak sepenuhnya benar secara ilmiah, karena efeknya bergantung pada pola makan jangka panjang.
- Faktor utama yang memengaruhi kesehatan saat Lebaran bukan jenis makanan tertentu, melainkan cara pengolahan, porsi konsumsi, serta keseimbangan antara asupan dan aktivitas fisik.
- Pesan utama artikel menekankan pentingnya memahami fakta ilmiah agar bisa menikmati hidangan Lebaran dengan bijak tanpa rasa takut berlebihan terhadap mitos kesehatan.
Lebaran selalu datang dengan dua hal, maaf yang dilafalkan, dan makanan yang tak pernah selesai disantap. Dari pagi hingga malam, meja makan seakan tak pernah benar-benar kosong. Mulai dari ketupat, opor, sambal goreng, hingga stoples kue yang terus terbuka. Namun, di balik kenikmatan itu semua, ada satu “bumbu” lain yang ikut diwariskan. Ialah mitos makanan yang sering membuat kita makan dengan rasa takut.
Padahal, tidak semua yang kita dengar itu benar. Banyak anggapan soal makanan Lebaran yang ternyata tidak didukung oleh ilmu kesehatan, bahkan cenderung menyesatkan. Alih-alih membuat kita lebih sehat, mitos ini justru bisa membuat kita salah mengatur pola makan. Yuk, bongkar satu per satu dengan perspektif yang lebih ilmiah!
1. Mitos: Santan langsung bikin kolesterol naik drastis

Opor ayam, rendang, dan sayur lodeh sering “dituduh” sebagai biang utama kolesterol tinggi saat Lebaran. Anggapan ini muncul karena santan mengandung lemak jenuh, yang memang berkaitan dengan peningkatan kadar kolesterol LDL dalam tubuh. Namun, yang sering disalahpahami adalah efeknya tidak terjadi secara instan hanya karena satu kali makan.
Menurut American Heart Association, dampak lemak jenuh terhadap kolesterol sangat bergantung pada pola makan jangka panjang, bukan konsumsi sesaat. Artinya, makan opor saat Lebaran tidak otomatis membuat kolesterol melonjak drastis, selama tidak menjadi kebiasaan harian yang berlebihan. Yang lebih berbahaya justru akumulasi konsumsi tinggi lemak dalam waktu lama tanpa diimbangi aktivitas fisik.
Lebih jauh lagi, santan juga mengandung asam laurat yang dalam beberapa penelitian memiliki efek berbeda dibanding lemak jenuh lain. Jadi, alih-alih menghindari total, pendekatan yang lebih bijak adalah mengontrol porsi dan frekuensi. Dengan begitu, kita tetap bisa menikmati hidangan khas Lebaran tanpa rasa bersalah berlebihan.
2. Mitos: Daging kambing pasti bikin darah tinggi

Daging kambing sering menjadi “tersangka utama” setiap kali seseorang merasa pusing setelah makan. Banyak yang langsung mengaitkannya dengan lonjakan tekanan darah, padahal hubungan ini tidak sesederhana itu. Faktanya, daging kambing sendiri tidak secara langsung menyebabkan hipertensi.
Dalam berbagai studi yang dipublikasikan di Jurnal Nutrients, faktor utama yang memengaruhi tekanan darah adalah asupan natrium (garam) yang tinggi, bukan jenis daging tertentu. Hidangan kambing saat Lebaran biasanya diolah dengan bumbu kaya garam, santan, dan minyak. Kombinasi inilah yang lebih berperan dalam meningkatkan risiko.
Selain itu, persepsi “efek panas” dari kambing juga lebih bersifat kultural daripada ilmiah. Jika dikonsumsi dalam jumlah wajar dan dimasak dengan cara sehat, daging kambing tetap bisa menjadi sumber protein yang baik. Jadi, yang perlu dikontrol bukan kambingnya, melainkan cara pengolahan dan jumlah konsumsinya.
3. Mitos: Kue Lebaran aman karena cuma camilan kecil

Inilah mitos yang paling sering menjebak tanpa disadari. Karena ukurannya kecil, kita cenderung menganggap kue Lebaran sebagai camilan ringan yang “tidak berarti”. Padahal, satu keping kue kering bisa mengandung gula, mentega, dan tepung dalam proporsi tinggi yang padat kalori.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), konsumsi gula tambahan sebaiknya dibatasi kurang dari 10 persen dari total energi harian. Masalahnya, tanpa sadar kita bisa menghabiskan satu stoples kecil dalam sehari, yang artinya asupan gula dan lemak melonjak drastis. Efeknya bukan hanya pada berat badan, tetapi juga risiko resistansi insulin jika dilakukan terus-menerus.
Lebih berbahaya lagi, camilan ini sering dimakan di luar waktu makan utama, sehingga tubuh menerima “bonus kalori” yang tidak dibutuhkan. Inilah yang membuat kue Lebaran jauh lebih berisiko dibanding yang kita kira. Jadi, kecil bukan berarti aman, justru di situlah letak jebakannya.
4. Mitos: Ketupat lebih sehat daripada nasi putih

Ketupat sering dianggap lebih “ringan” dibanding nasi putih karena teksturnya yang lebih padat namun terasa tidak mengenyangkan secara berlebihan. Banyak orang merasa lebih aman makan ketupat dalam jumlah besar dibanding nasi biasa. Padahal, secara komposisi, keduanya berasal dari bahan yang sama, yaitu beras.
Data dari Nutrinusa dan FatSecret menunjukkan bahwa ketupat, lontong, dan nasi memiliki kandungan karbohidrat dan energi yang relatif setara. Perbedaan utamanya hanya pada kadar air dan cara pengolahan, bukan pada jumlah kalori yang signifikan.
Masalahnya, karena merasa “lebih ringan”, kita cenderung makan ketupat dalam porsi lebih banyak. Ditambah dengan lauk bersantan dan berlemak, total asupan kalori bisa meningkat tanpa disadari. Jadi, persepsi sehat pada ketupat sebenarnya lebih psikologis daripada fisiologis.
5. Mitos: Minum soda bantu melancarkan pencernaan

Sensasi “lega” setelah minum soda sering dianggap sebagai tanda bahwa pencernaan menjadi lebih lancar. Padahal, yang kita rasakan sebenarnya hanyalah efek karbonasi yang menghasilkan gas di lambung. Gas ini memberikan sensasi penuh yang seolah-olah membantu proses pencernaan.
Menurut Mayo Clinic, minuman bersoda justru dapat menyebabkan kembung, meningkatkan produksi gas, dan menambah asupan gula berlebih. Dalam jangka panjang, konsumsi soda yang tinggi juga berkaitan dengan peningkatan risiko obesitas dan gangguan metabolik.
Alih-alih membantu, soda justru bisa memperberat kerja sistem pencernaan, terutama setelah makan besar. Air putih tetap menjadi pilihan terbaik karena membantu proses metabolisme tanpa tambahan gula atau zat lain yang membebani tubuh.
6. Mitos: Makan buah setelah makan besar bikin gemuk

Banyak orang percaya bahwa makan buah setelah makan besar akan langsung berubah menjadi lemak karena “tertimbun” di dalam tubuh. Padahal, sistem pencernaan manusia tidak bekerja berdasarkan urutan makanan seperti itu. Semua makanan tetap diproses sesuai mekanisme metabolisme yang kompleks.
Menurut Cancer Causes Control, kenaikan berat badan ditentukan oleh total asupan kalori dan keseimbangan energi secara keseluruhan, bukan waktu konsumsi makanan tertentu. Buah justru mengandung serat, vitamin, dan antioksidan yang penting untuk tubuh.
Menghindari buah hanya karena takut gemuk justru bisa membuat kita kehilangan sumber nutrisi penting. Dibandingkan dessert tinggi gula, buah tetap pilihan yang jauh lebih sehat, baik sebelum maupun setelah makan.
Lebaran sejatinya adalah perayaan tentang kembali, memaafkan, dan merayakan hidup dengan orang-orang terdekat. Namun dalam praktiknya, kita sering terjebak antara dua kutu. Makan berlebihan tanpa kontrol, atau justru menahan diri karena takut mitos yang belum tentu benar. Di sinilah pentingnya memahami, bukan sekadar mengikuti.
Mitos-mitos makanan yang beredar dari generasi ke generasi sering kali lahir dari pengalaman subjektif, bukan dari kajian ilmiah. Ketika mitos ini terus diulang tanpa dikritisi, ia berubah menjadi “kebenaran semu” yang memengaruhi cara kita memperlakukan tubuh sendiri. Padahal, tubuh tidak butuh ketakutan, ia hanya butuh keseimbangan.
Jadi, Lebaran bukan soal menghindari opor, menjauhi rendang, atau curiga pada setiap kue yang kita makan. Lebaran adalah tentang kesadaran, tahu kapan cukup, tahu bagaimana mengimbanginya, dan tahu bahwa kesehatan bukan ditentukan oleh satu hari, tetapi oleh kebiasaan yang kita bangun setiap hari setelahnya.
Referensi

![[QUIZ] Cek Sejago Apa Kamu Mendeteksi Perilaku Toksik](https://image.idntimes.com/post/20250807/2140_7c827be3-dd3a-4163-ac65-7266114075a1.jpg)








![[QUIZ] Dari Warna Kulitmu setelah Terkena Matahari, Ini Kesehatan Kulitmu](https://image.idntimes.com/post/20241020/high-angle-sunburned-man-posing-studio-23-2150404722-2c8f1bbcaa89d9b6228fec9cc7e8026d-2d2d8454519f9e08105550e06a5e9db3.jpg)


![[QUIZ] Dari Kebiasaan Saat Lebaran, Kami Tebak Kecenderungan NPD dalam Dirimu](https://image.idntimes.com/post/20260319/tren-ingin-kabur-saat-lebaran-mestinya-jadi-renungan_b9be83fe-6f16-41d0-8b73-932e3a33441d.jpeg)



