Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

3 Penderita Penyakit yang Tidak Disarankan Ikut Maraton, Berisiko!

3 Penderita Penyakit yang Tidak Disarankan Ikut Maraton, Berisiko!
ilustrasi maraton (pexels.com/Roman Biernacki)
Intinya Sih
  • Penderita penyakit jantung berisiko tinggi mengalami tekanan berlebih pada organ jantung saat maraton, terutama jika memiliki kondisi koroner yang tidak terdiagnosis.
  • Asma yang tidak terkontrol dapat memicu penyempitan saluran napas dan sesak berat selama aktivitas intens seperti maraton tanpa pengawasan medis.
  • Diabetes tidak stabil bisa menyebabkan ketidakseimbangan kadar gula darah saat maraton, sehingga membutuhkan pemantauan medis sebelum melakukan olahraga berat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Lari maraton sering dianggap sebagai salah satu olahraga yang menantang dan penuh prestasi. Banyak orang melihat maraton sebagai simbol ketahanan fisik, stamina, dan mental. Namun, tidak semua orang memiliki kondisi tubuh yang aman untuk mengikuti aktivitas dengan intensitas tinggi seperti maraton.

Dalam beberapa kasus, olahraga berat justru bisa memberikan tekanan berlebih pada organ tubuh tertentu. Kondisi kesehatan yang berbeda-beda membuat risiko setiap orang saat berlari jarak jauh juga tidak sama. Lalu, penderita penyakit apa saja yang tidak disarankan untuk ikut maraton? Yuk, cari tahu jawabannya di bawah ini!

1. Penyakit jantung

ilustrasi nyeri dada saat maraton
ilustrasi nyeri dada saat maraton (unsplash.com/RETRATO DEPORTIVO)

Lari pada dasarnya merupakan aktivitas yang baik untuk kesehatan jantung karena dapat meningkatkan kebugaran dan fungsi kardiovaskular. Mengutip dari American Heart Association, olahraga teratur seperti lari dapat membantu menurunkan risiko penyakit jantung pada banyak orang. Namun, manfaat ini tidak selalu berlaku pada semua kondisi kesehatan.

Berdasarkan studi yang terbit di Journal of the American College of Cardiology pada 1996, kasus kematian jantung mendadak dapat terjadi pada sebagian pelari maraton, terutama yang memiliki penyakit jantung koroner yang tidak terdiagnosis. Aktivitas intensitas tinggi seperti maraton dapat memberikan beban besar pada jantung yang sudah memiliki masalah. Oleh karena itu, penderita penyakit jantung perlu sangat berhati-hati sebelum mengikuti aktivitas lari jarak jauh seperti maraton.

2. Asma tidak terkontrol

ilustrasi maraton
ilustrasi maraton (pexels.com/RUN 4 FFWPU)

Asma yang tidak terkontrol dapat menjadi salah satu kondisi berbahaya jika seseorang mengikuti aktivitas fisik berat seperti maraton. Saat berlari dalam intensitas tinggi, kebutuhan oksigen tubuh meningkat dan saluran pernapasan ikut bekerja lebih keras. Mengutip dari Mayo Clinic, aktivitas fisik dapat memicu exercise-induced bronchoconstriction, yaitu penyempitan saluran napas yang menyebabkan sesak.

Kondisi tersebut bisa menimbulkan gejala seperti batuk, napas berbunyi, dan rasa berat di dada saat atau setelah olahraga. Pada penderita asma yang tidak terkontrol, reaksi ini bisa terjadi lebih cepat dan lebih berat dibanding orang sehat. Itulah kenapa maraton bukan aktivitas yang aman tanpa pengelolaan asma yang baik dan pengawasan medis yang tepat.

3. Gangguan metabolik berat (misalnya diabetes tidak stabil)

ilustrasi maraton
ilustrasi maraton (pexels.com/RUN 4 FFWPU)

Gangguan metabolik berat seperti diabetes yang tidak stabil dapat menjadi kondisi yang berisiko jika seseorang mengikuti maraton. Saat berlari dalam jarak jauh, tubuh menggunakan banyak glukosa sebagai sumber energi utama. Menurut studi yang terbit dalam jurnal StatPearls Publishing pada 2025, aktivitas fisik intens dapat memicu ketidakseimbangan kadar gula darah, baik berupa hipoglikemia maupun hiperglikemia.

Hipoglikemia terjadi ketika gula darah turun terlalu rendah, sedangkan hiperglikemia terjadi ketika gula darah justru meningkat terlalu tinggi. Kondisi ini bisa muncul selama atau setelah aktivitas fisik yang berat dan berlangsung lama. Oleh sebab itu, penderita diabetes yang tidak stabil perlu pengawasan medis ketat sebelum melakukan olahraga intensitas tinggi seperti maraton.

Maraton merupakan salah satu aktivitas olahraga yang populer dan diikuti banyak orang. Namun, tidak semua orang memiliki kondisi kesehatan yang aman untuk menjalani aktivitas dengan intensitas setinggi ini. Jadi, sebelum mengikuti maraton, pastikan kondisi tubuh dan kesehatanmu sudah benar-benar siap, ya!

Referensi

“Is Long-Distance Running Good for the Heart?” American Heart Association. Diakses April 2026.

“Risk for Sudden Cardiac Death Associated with Marathon Running.” Journal of the American College of Cardiology. Diakses April 2026.

“Exercise-Induced Asthma - Symptoms & Causes.” Mayo Clinic. Diakses April 2026.

“Diabetes and Exercise.” StatPearls Publishing. Diakses April 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Izza Namira
EditorIzza Namira
Follow Us

Latest in Health

See More