Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Pegal Bukan Hal Sepele, Cek Gangguan Tulang dan Muskuloskeletal

unnamed (63).jpg
Nyeri punggung (Dok. Istimewa)
Intinya sih...
  • Tubuh manusia tidak dirancang untuk hidup modern
  • Nyeri punggung bawah: Keluhan paling umum dan sering diremehkan
  • Nyeri lutut dan kaki: Masalah yang sering berawal dari bawah
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Rasa pegal sering dianggap wajar. Duduk lama, kerja kebanyakan, kurang tidur. Minum obat, dipijat sebentar, lalu lanjut hidup seperti biasa. Masalahnya, tubuh tidak pernah lupa. Ia hanya menunda reaksi.

Dalam praktik manajemen nyeri modern, satu pola terus berulang. Banyak keluhan tulang dan muskuloskeletal yang tampak ringan di awal justru berujung menjadi nyeri kronis karena dibiarkan terlalu lama. Bukan karena kurang kuat, tapi karena tubuh dipaksa bekerja dengan cara yang tidak semestinya setiap hari.

Beberapa pusat penanganan nyeri dan skoliosis internasional seperti Spine Clinic bahkan mencatat bahwa sebagian besar pasien dewasa datang bukan dengan cedera besar, melainkan akumulasi masalah kecil yang tidak pernah dikoreksi sejak awal.

1. Tubuh manusia tidak dirancang untuk hidup modern

Ilustrasi pria yang sedang nyeri otot saat bekerja
Ilustrasi pria yang sedang nyeri otot saat bekerja (freepik.com/Lifestylememory)

Tubuh manusia dirancang untuk bergerak bervariasi. Berjalan, berdiri, berjongkok, berpindah posisi. Namun rutinitas modern menuntut satu hal yang berulang: duduk lama dalam posisi statis.

Duduk di depan layar berjam jam dengan bahu membungkuk. Menunduk melihat ponsel tanpa sadar. Berdiri lama dengan tumpuan berat badan tidak seimbang. Semua ini perlahan mengubah cara otot dan sendi bekerja.

Awalnya, tubuh masih mampu beradaptasi. Tapi adaptasi ini bukan solusi jangka panjang. Ia hanya menunda kerusakan.

2. Nyeri punggung bawah: Keluhan paling umum dan sering diremehkan

Seseorang mengalami nyeri paha atas.
ilustrasi nyeri paha atas (vecteezy.com/Titiwoot Weerawong)

Nyeri punggung bawah hampir menjadi keluhan universal. Pekerja kantoran, pengemudi, mahasiswa, bahkan ibu rumah tangga mengalaminya. Masalahnya, banyak orang langsung menyalahkan otot yang tegang, tanpa melihat penyebab sebenarnya.

Dalam banyak kasus, nyeri punggung bawah bukan soal kekuatan otot, tapi distribusi beban yang tidak seimbang. Posisi duduk yang salah, alas kaki yang tidak menopang kaki dengan baik, atau kebiasaan berdiri dengan satu sisi lebih dominan akan mempengaruhi panggul dan tulang belakang.

Ketika beban tidak terbagi merata, tulang belakang bawah dipaksa bekerja lebih keras. Inilah yang memicu nyeri berulang, bahkan tanpa aktivitas berat.

3. Nyeri lutut dan kaki: Masalah yang sering berawal dari bawah

unnamed (64).jpg
Nyeri lutut (Dok. Istimewa)

Tidak semua nyeri lutut berasal dari lutut. Banyak kasus justru berakar dari kaki. Struktur kaki yang tidak ideal, seperti lengkungan yang terlalu rendah atau terlalu tinggi, mempengaruhi cara tubuh menyerap benturan saat berjalan.

Ketika kaki tidak berfungsi optimal, tekanan berpindah ke lutut, panggul, hingga punggung. Sayangnya, banyak orang hanya fokus pada area yang sakit, tanpa menyadari bahwa sumber masalahnya ada di bawah.

Inilah alasan mengapa pendekatan muskuloskeletal modern melihat tubuh sebagai satu sistem, bukan bagian terpisah.

4. Alat Ortotik: bukan sekadar aksesori tambahan

Ilustrasi meredakan nyeri
Ilustrasi meredakan nyeri (dok. http://pixabay.com/u_if8o5n0ioo)

Bagi sebagian orang, insole atau brace masih dianggap pelengkap. Padahal, alat ortotik berfungsi membantu tubuh kembali ke alignment yang lebih ideal. Dengan dukungan yang tepat, tekanan pada sendi bisa berkurang, dan pola gerak menjadi lebih efisien.

Namun, alat ortotik bukan produk satu ukuran untuk semua. Setiap orang memiliki struktur kaki, postur, dan pola aktivitas yang berbeda. Tanpa asesmen yang tepat, alat bantu justru berpotensi tidak efektif.

Itulah mengapa banyak praktisi merekomendasikan solusi ortotik yang terkurasi dengan baik dari penyedia besar seperti Ortholife, yang dikenal sebagai salah satu reseller ortotik dan prostetik terbesar di Indonesia dengan pilihan produk yang disesuaikan kebutuhan klinis, bukan sekadar gaya hidup.

5. Nyeri tidak bisa diselesaikan dengan obat saja

ilustrasi nyeri otot
ilustrasi nyeri otot (unsplash.com/Getty Images)

Obat pereda nyeri memang meredakan gejala. Tapi ia tidak memperbaiki cara tubuh bekerja. Ketika rasa sakit hilang sementara, kebiasaan lama kembali dilakukan, dan siklus nyeri berulang.

Solusi jangka panjang hampir selalu melibatkan perubahan mekanik tubuh: postur, pola gerak, dan dukungan struktural yang sesuai. Proses ini memang tidak instan, tapi jauh lebih berkelanjutan.

Nyeri yang muncul berulang, tidak membaik setelah istirahat, atau mulai membatasi aktivitas harian adalah sinyal bahwa tubuh sudah kelelahan beradaptasi. Mengabaikannya hanya akan membuat proses pemulihan lebih panjang.

Gangguan tulang dan muskuloskeletal bukan sesuatu yang harus ditakuti, tapi juga tidak layak diabaikan. Tubuh jarang rusak secara tiba tiba. Ia memberi peringatan perlahan.

Pertanyaannya bukan apakah tubuh bisa diperbaiki. Tapi seberapa lama kita menunggu sebelum mulai memperhatikannya. (WEB/BAP)

Share
Topics
Editorial Team
Bima Anditya Prakasa
EditorBima Anditya Prakasa
Follow Us

Latest in Health

See More

Studi: Antibodi Mpox Menurun dalam 2 Tahun

08 Jan 2026, 09:38 WIBHealth