Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
7 Penyebab Selulit Muncul, dari Genetik sampai Usia
ilustrasi menghilangkan selulit di paha (pexels.com/cottonbro studio)
  • Selulit adalah kondisi kulit yang sangat umum dan tidak berbahaya secara medis.

  • Penyebab selulit tidak hanya lemak, tetapi juga struktur jaringan ikat, hormon, genetik, usia, berat badan, dan massa otot.

  • Olahraga, latihan kekuatan, dan menjaga berat badan sehat dapat membantu menyamarkan tampilan selulit, tetapi tidak selalu menghilangkannya sepenuhnya.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Banyak orang menganggap selulit adalah musuh tubuh, sehingga harus segera dihilangkan. Secara medis, selulit adalah kondisi kulit umum, terutama pada perempuan setelah pubertas. Bentuknya bisa terlihat seperti kulit bergelombang, berlekuk, atau teksturnya mirip kulit jeruk, biasanya di paha, bokong, pinggul, perut bawah, atau lengan atas.

Selulit bisa tetap muncul walau seseorang sudah rajin olahraga, punya berat badan normal, atau terlihat fit, karena selulit bukan cuma soal jumlah lemak tubuh. Selulit muncul dari kombinasi antara lemak di bawah kulit, jaringan ikat, elastisitas kulit, hormon, genetik, dan perubahan tubuh seiring usia.

1. Struktur jaringan ikat di bawah kulit

Di bawah permukaan kulit, ada sel lemak dan jaringan ikat berbentuk seperti tali yang menghubungkan kulit dengan lapisan yang lebih dalam.

Ketika sel lemak mendorong ke atas, sementara jaringan ikat menarik kulit ke bawah, permukaan kulit bisa tampak berlekuk. Inilah yang menciptakan tampilan bergelombang khas selulit.

Pada perempuan, susunan jaringan ikat dan distribusi lemak cenderung membuat selulit lebih mudah terlihat, terutama di area paha, pinggul, dan bokong. Jadi, selulit lebih berkaitan dengan anatomi tubuh.

2. Faktor hormon

Hormon juga berperan dalam munculnya selulit. Estrogen, misalnya, memengaruhi distribusi lemak, aliran darah, dan jaringan ikat. Itu sebabnya selulit sering mulai terlihat setelah pubertas dan bisa berubah selama kehamilan, penggunaan kontrasepsi hormonal, atau masa mendekati menopause.

Perubahan hormon dapat memengaruhi cara tubuh menyimpan lemak dan bagaimana kulit mempertahankan elastisitasnya. Saat elastisitas kulit menurun, lekukan selulit bisa terlihat lebih jelas.

3. Genetik dan bentuk tubuh

ilustrasi perempuan dengan ragam bentuk tubuh dan warna kulit (pexels.com/Anna Shvets)

Kalau anggota keluarga punya selulit, kemungkinan kamu juga lebih mudah memilikinya. Genetik dapat memengaruhi struktur kulit, ketebalan kulit, distribusi lemak, metabolisme, dan bentuk tubuh.

Ini juga menjelaskan kenapa dua orang dengan berat badan mirip bisa punya tampilan selulit yang berbeda. Ada yang selulitnya lebih terlihat, ada yang hampir tidak tampak, karena tubuh punya pola biologis masing-masing.

4. Usia dan elastisitas kulit

Seiring bertambahnya usia, kulit perlahan kehilangan kolagen dan elastisitas. Kulit yang lebih tipis atau kurang kencang dapat membuat lekukan di bawahnya lebih mudah terlihat.

Itulah kenapa selulit bisa tampak lebih jelas saat usia bertambah, walaupun berat badan tidak berubah banyak. Proses ini alami dan terjadi pada banyak orang.

5. Berat badan dan massa otot

Walaupun bukan satu-satunya penyebab, tetapi berat badan dapat memengaruhi seberapa jelas tampilan selulit. Bertambahnya lemak tubuh dapat membuat dorongan sel lemak ke arah kulit lebih terlihat.

Namun, orang bertubuh kurus pun bisa punya selulit. Sebaliknya, membangun massa otot dapat membantu kulit terlihat lebih kencang dan permukaannya tampak lebih halus. Karena itu, latihan kekuatan sering lebih membantu menyamarkan selulit dibanding hanya fokus menurunkan berat badan.

6. Kurang gerak

ilustrasi menonton TV dan gaya hidup sedenter atau tidak sehat (unsplash.com/JESHOOTS.COM)

Gaya hidup sedenter atau kurang gerak dapat membuat massa otot berkurang dan sirkulasi tubuh tidak optimal. Dampaknya, area seperti paha dan bokong bisa tampak kurang kencang, sehingga selulit lebih mudah terlihat.

Tidak perlu olahraga ekstrem. Jalan kaki, latihan beban, naik tangga, squat, lunges, atau latihan tubuh bagian bawah secara konsisten dapat membantu memperbaiki kekuatan otot dan tampilan kulit.

7. Kehamilan

Kehamilan dapat membuat selulit lebih terlihat karena perubahan hormon, kenaikan berat badan, perubahan aliran darah, dan peregangan kulit.

Setelah melahirkan, tampilannya bisa berubah lagi, tetapi tidak selalu hilang sepenuhnya.

Hal yang perlu diingat, tubuh saat hamil dan setelah melahirkan sedang bekerja keras. Selulit dalam fase ini merupakan bagian dari perubahan biologis yang manusiawi.

Apakah selulit bisa dicegah?

Karena faktor genetik, hormon, struktur jaringan ikat, dan usia ikut berperan, selulit tidak sepenuhnya bisa dicegah. Namun, tampilannya bisa dibuat lebih samar pada sebagian orang.

Langkah yang paling realistis adalah aktif secara fisik, melakukan latihan kekuatan, mempertahankan berat badan sehat, menerapkan pola makan bergizi seimbang, cukup tidur, dan tidak merokok. Krim, pijat, alat kecantikan, atau prosedur medis tertentu mungkin memberi perbaikan sementara, tetapi hasilnya bervariasi dan tidak selalu tahan lama.

Selulit adalah kondisi umum, tidak berbahaya, dan tidak harus diperangi. Kalau ingin menyamarkannya, lakukan dengan ekspektasi yang realistis. Kalau tidak ingin mengurusnya, itu juga valid, kok.

Referensi

Mayo Clinic Staff. “Cellulite: Symptoms and Causes.” Diakses Juni 2026.

Gabriel, Allen, Vivian Chan, Marissa Caldarella, Tanya Wayne, and Erin O’Rorke. “Cellulite: Current Understanding and Treatment.” Aesthetic Surgery Journal Open Forum 5, no. 3 (2023): ojad050. https://doi.org/10.1093/asjof/ojad050.

Bass, Lawrence S., Brian P. Hibler, and Saami Khalifian. “Cellulite Pathophysiology and Psychosocial Implications.” Dermatologic Surgery 49, no. 4S (2023): S2–S7. https://doi.org/10.1097/DSS.0000000000003745.

Bass, Lawrence S., and Michael S. Kaminer. “Insights into the Pathophysiology of Cellulite: A Review.” Dermatologic Surgery 46, suppl. 1 (2020): S77–S85.

Luebberding, Stefanie, Nils Krueger, and Neil S. Sadick. “Cellulite: An Evidence-Based Review.” American Journal of Clinical Dermatology 16, no. 4 (2015): 243–256. https://doi.org/10.1007/s40257-015-0129-5.

American Academy of Dermatology Association. “Cellulite Treatments: What Really Works?” Diakses Juni 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article