Studi: Ada Peningkatan Risiko Bell's Palsy dari Vaksin COVID-19 Ini

Kasusnya sangat jarang dan manfaat vaksin tetap lebih besar

Program vaksinasi COVID-19 terus berjalan di berbagai negara, begitu pula berbagai penelitian mengenai COVID-19 dan berbagai vaksin yang digunakan.

Studi terbaru menemukan peningkatan risiko Bell's palsy, yaitu kelemahan sementara atau kurangnya gerakan yang memengaruhi satu sisi wajah, pada penerima vaksin COVID-19. Vaksin apa yang dimaksud? Apakah ini mesti dikhawatirkan? Berikut ini penjelasannya.

1. Sekilas informasi seputar Bell's palsy

Studi: Ada Peningkatan Risiko Bell's Palsy dari Vaksin COVID-19 Iniilustrasi Bell's palsy (pacificneuroscienceinstitute.org)

Bell's palsy adalah kondisi gangguan saraf dan otot wajah berupa kelemahan yang tiba-tiba menyerang salah satu sisi wajah, sehingga terlihat "melorot". Penyakit ini sering menyerang kelompok usia 15-60 tahun, ibu hamil, dan pasien diabetes serta penyakit pernapasan atas.

Bell's palsy sering disamakan dengan stroke karena memiliki gejala yang mirip. Beda dengan stroke, gejala-gejala Bell's palsy meliputi:

  • Telinga pada sisi wajah yang lumpuh terasa nyeri, berdengung, dan lebih sensitif pada suara
  • Penurunan indra pengecap
  • Bagian mulut pada sisi yang lumpuh berliur (ngeces)
  • Mulut terasa kering
  • Mata berair
  • Rasa sakit di sekitar rahang
  • Sakit kepala
  • Pusing
  • Kesulitan untuk makan, minum, dan berbicara

Dapat disebabkan oleh infeksi virus atau muncul sebagai gejala penyakit lain, Bell's palsy sebenarnya tidak permanen. Bell's palsy biasanya juga hanya menyerang otot wajah dan tergantung tingkat keparahan, pasien biasanya akan pulih sepenuhnya dalam waktu hingga 6-10 bulan.

2. Libatkan hampir 1 juta orang, studi di Hong Kong menganalisis risiko vaksin Sinovac dan Fosun-BioNTech

Studi: Ada Peningkatan Risiko Bell's Palsy dari Vaksin COVID-19 IniIlustrasi vaksinasi COVID-19 (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra)

Mengutip Reuters, sebuah studi di Hong Kong pada 16 Agustus 2021, "Bell's palsy following vaccination with mRNA (BNT162b2) and inactivated (CoronaVac) SARS-CoV-2 vaccines" membandingkan kasus Bell's palsy setelah vaksinasi dengan CoronaVac (Sinovac) dan BNT162b2 (Fosun-BioNTech, serupa dengan Pfizer).

Studi berlangsung dari 23 Februari hingga 4 Mei 2021. Dimuat dalam jurnal The Lancet, hampir satu juga peserta terlibat dalam penelitian ini. Para peserta dibagi menjadi dua kelompok: sebanyak 51.939 menerima dosis pertama CoronaVac dan 537.205 menerima dosis pertama BNT162b2.

Baca Juga: Penasaran Apa Saja Isi Vaksin? Ini Bahan-Bahan Pembuatnya

3. Temuan peneliti: vaksin Sinovac memiliki risiko Bell's palsy yang lebih tinggi

Studi: Ada Peningkatan Risiko Bell's Palsy dari Vaksin COVID-19 IniVaksin COVID-19 produksi Sinovac. (Dok. Kemenkes)

Para peneliti Hong Kong kemudian memantau para peserta vaksin Sinovac dan Fosun-BioNTech selama 42 hari. Studi ini menemukan bahwa 28 kasus Bell's palsy dilaporkan dari kelompok Sinovac, sementara kasus Fosun-BioNTech hanya terdeteksi 16 kasus.

"Temuan kami menunjukkan adanya peningkatan risiko Bell's palsy secara keseluruhan setelah vaksinasi dengan CoronaVac," tulis penelitian tersebut dikutip Reuters.

4. Mekanisme penyebabnya masih dicari tahu

Studi: Ada Peningkatan Risiko Bell's Palsy dari Vaksin COVID-19 Iniilustrasi vaksinasi (IDN Times/Herka Yanis)

Akan tetapi, penelitian tersebut menyebutkan bahwa mekanisme yang menyebabkan Bell's palsy pasca vaksinasi dengan Sinovac masih belum diketahui. Oleh karena itu, para peneliti berharap akan ada penelitian di masa depan mengenai korelasi Bell's palsy dengan CoronaVac.

Selain itu, para peneliti menuliskan pada kesimpulan akhir bahwa temuan ini tidak seharusnya membuat masyarakat takut pada vaksin Sinovac. Mereka menekankan bahwa manfaat CoronaVac jauh lebih besar daripada risikonya.

"Manfaat dan perlindungan dari vaksin COVID-19 inactivated (Sinovac) jauh lebih besar daripada risiko efek samping yang umumnya sembuh sendiri. Studi tambahan diperlukan di wilayah lain untuk mengonfirmasi temuan kami," tulis para peneliti.

5. Sinovac: tak ada Bell's palsy pada data kami

Studi: Ada Peningkatan Risiko Bell's Palsy dari Vaksin COVID-19 Iniilustrasi vaksin Sinovac (Dok. Sinovac)

Mengomentari temuan para peneliti Hong Kong, perwakilan Sinovac Biotech, Liu Peicheng, menekankan bahwa efek Bell's palsy setelah vaksin amat jarang terjadi. Selain itu, sebagian besar efek samping dari CoronaVac bersifat ringan dan akan sembuh sendiri.

"Bell's Palsy setelah vaksinasi jarang terjadi. Sebagian besar gejalanya ringan dan akan membaik dengan sendirinya," kata Liu dalam tanggapan tertulis.

Liu menambahkan bahwa Sinovac belum mendeteksi risiko Bell's palsy dalam analisis data dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China, Uppsala Monitoring Center di bawah WHO, atau database kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) milik Sinovac sendiri.

Studi: Ada Peningkatan Risiko Bell's Palsy dari Vaksin COVID-19 IniTenaga medis menunjukkan vaksin COVID-19 buatan Sinovac (ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas)

Mengulangi pernyataan para peneliti Hong Kong, Liu mengatakan kalau manfaat CoronaVac jauh lebih besar dibandingkan risiko dan efek sampingnya.

“Menurut data saat ini, manfaat dan perlindungan CoronaVac jauh lebih besar daripada risiko yang mungkin terjadi. Masyarakat harus divaksinasi penuh tepat waktu dengan CoronaVac untuk mencegah infeksi COVID-19 dan memblokir penularan virus," tandas Liu.

Baca Juga: Kemenkes: Vaksin Sinovac Ampuh Melindungi Tenaga Kesehatan dan Lansia

Topik:

  • Nurulia
  • Bayu Aditya Suryanto

Berita Terkini Lainnya