"Aktivis antivaksin mendingan anaknya itu kena campak, bahkan gak apa-apa kena polio. Mereka belum tahu komplikasi campak itu apa, dianggap ringan hanya keluar cairan dari telinga, congean begitu," kata Prof. Dr. dr. Anggraini Alam, Sp.A, Subsp.IPT(K), Ketua IDAI Jawa Barat sekaligus anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI.
Banyak Orang Antivaksin Sebut Anaknya Lebih Baik Kena Campak dan Polio

IDAI menyoroti pandangan aktivis antivaksin yang menganggap lebih baik anak mengalami campak dan polio dibanding menerima vaksin, padahal itu berisiko tinggi bagi kesehatan.
Penurunan cakupan imunisasi membuat masyarakat meremehkan penyakit yang sebenarnya bisa dicegah, seperti campak, yang dapat menyebabkan komplikasi serius.
Campak dapat memicu kebutaan, kehilangan pendengaran, diare berat hingga pneumonia, serta melemahkan daya tahan tubuh anak melalui efek immunological amnesia jangka panjang.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebut bahwa aktivis antivaksin beranggapan bahwa anak-anak mereka lebih baik terkena campak bahkan polio dibanding harus menerima vaksin.
Banyak penyakit jadi dianggap remeh
Prof. Anggraini menjelaskan bahwa penyakit campak dianggap ringan karena hanya menimbulkan ruam dan demam sehingga banyak yang terjangkit penyakit yang seharusnya bisa dicegah dengan imunisasi ini.
"Dulu yang namanya imunisasi cakupannya tinggi dan merata. Saya di puskesmas sampai turun ke desa-desa memastikan harus mendekati hampir 100 persen, semua yang menjadi target harus mendapatkan imunisasi. Tidak ada gap desa, RT, RW dari imunisasi," ujarnya.
Namun, cakupan imunisasi dan tingginya target membuat orang-orang menjadi santai saja dengan penyakit-penyakit yang seharusnya bisa dicegah dengan imunisasi, termasuk campak ini dan beberapa malah tidak melaksanakannya.
Komplikasi campak bisa meliputi kebutaan dan kehilangan pendengaran

Pasien yang terkena campak bisa berisiko kehilangan pendengaran secara permanen dan kebutaan. Belum lagi risiko diare yang bisa menyebabkan dehidrasi.
"Hati-hati bila gendang telinganya rusak permanen, maka dia kehilangan kemampuan pendengarannya. Kemudian dikatakan campak itu bisa membuat diare, kalau dehidrasi berat bisa meninggal. Belum lagi mata menjadi kering karena vitamin A-nya digerus oleh si virus campak," Prof. Anggraini menjelaskan.
Namun, kasus kebutaan sebenarnya belum pernah ditemui di Indonesia karena setiap Februari dan Agustus, anak-anak diberikan vitamin A, sehingga kornea pada mata tidak menjadi terlalu kering. Berbeda halnya dengan kasus campak di India.
Menyerang daya tahan tubuh
Risiko lain adalah pneumonia, yang mana 77 persen anak yang dibawa ke rumah sakit campaknya sudah sampai memengaruhi paru-parunya. Catatan juga menunjukkan bahwa 86 persen dari pasien yang meninggal dunia disebabkan oleh pneumonia.
"Kemudian campak juga meningkatkan risiko untuk anaknya nanti menjadi sakit-sakitan karena menyebabkan amnesia dari daya tahan tubuh yang sudah ada," imbuh Prof. Anggraini.
Kejadian immunological amnesia dikatakan memiliki efek jangka panjang, utamanya gizi buruk bagi yang belum pernah diimunisasi. Virus campak menyerang berbagai daya tahan tubuh untuk bisa meredam antibodi yang sudah terbentuk.






![[QUIZ] Minuman Buka Puasa Favoritmu Bisa Ungkap Karaktermu](https://image.idntimes.com/post/20260219/upload_084761a77d26204b48ce054292396b9a_ad1291ec-bf47-47e1-8742-993cf5d9bf81.jpg)











