Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Amankah Pemanis Pengganti Gula Sukralosa bagi Kesehatan?
ilustrasi pemanis sukralosa (unsplash.com/Ayotunde Ikuesan)
  • Sukralosa aman dalam penggunaan yang diizinkan, dengan batas asupan hariannya 15 mg per kg berat badan.

  • Bukti yang ada belum menunjukkan gangguan konsisten pada gula darah atau insulin.

  • Pemanasan sukralosa di atas 120 derajat Celcius berpotensi membentuk senyawa tertentu, sehingga disarankan ditambahkan setelah memasak.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sukralosa banyak digunakan dalam minuman rendah gula, makanan kemasan, dan pemanis meja. Karena memberikan rasa manis dengan kalori yang rendah, pemanis ini sering dipilih sebagai alternatif gula. Namun, seberapa aman sukralosa untuk dikonsumsi?

1. Sukralosa dinyatakan aman dalam batas yang diizinkan

Pada Februari 2026, panel Otoritas Keamanan Makanan Eropa (EFSA) meninjau berbagai penelitian pada manusia dan data keamanan sukralosa yang dipublikasikan hingga Maret 2025. Hasilnya, tidak ditemukan alasan untuk mengubah batas asupan harian sukralosa yang berlaku saat ini. Selain itu, perkiraan asupan sukralosa dari penggunaan yang diizinkan di Uni Eropa masih berada di bawah batas tersebut.

Kesimpulan tersebut berlaku untuk penggunaan dan kadar yang telah dinilai dalam regulasi.

Di Indonesia, penggunaan sukralosa sebagai bahan tambahan pangan juga diatur oleh BPOM agar tetap berada dalam batas yang dianggap aman.

2. Batas asupan harian bukan target konsumsi

ilustrasi pemanis pengganti gula (pexels.com/Artem Podrez)

JECFA, yaitu komite ahli gabungan FAO dan WHO, serta EFSA menetapkan acceptable daily intake (ADI) atau batas asupan harian yang dianggap aman untuk sukralosa sebesar 15 mg per kilogram berat badan per hari. Sebagai contoh, untuk berat badan 60 kg, jumlahnya 900 mg per hari.

ADI adalah perkiraan jumlah yang dapat dikonsumsi setiap hari sepanjang hidup tanpa menimbulkan risiko kesehatan yang berarti. Perlu digarisbawahi bahwa ADI merupakan batas keamanan, bukan anjuran konsumsi.

Di Indonesia BPOM juga mengatur jumlah sukralosa yang boleh digunakan dalam berbagai jenis makanan dan minuman. Batas untuk minuman, misalnya, tidak selalu sama dengan batas untuk makanan ringan. Batas tersebut mengatur kadar sukralosa dalam produk, bukan jumlah yang harus atau boleh dikonsumsi seseorang setiap hari.

Kategori pangan

Batas sukralosa

Minuman berbasis air berperisa dan minuman elektrolit

300 mg/kg produk siap konsumsi

Kopi, teh, seduhan herbal, dan minuman biji-bijian panas

300 mg/kg produk siap konsumsi

Makanan ringan siap santap

200 mg/kg

3. Belum ada bukti kuat sukralosa mengganggu gula darah

Sejauh ini, penelitian pada manusia belum menunjukkan bahwa sukralosa secara konsisten mengganggu kadar gula darah atau insulin.

EFSA meninjau 30 studi dan menyimpulkan bahwa bukti yang ada tidak menunjukkan dampak merugikan sukralosa terhadap pengaturan gula darah dan insulin pada manusia.

Meski begitu, penelitian tentang pengaruh sukralosa terhadap bakteri baik di usus (mikrobioma usus) masih terus berlangsung. Salah satu studi menemukan adanya perubahan komposisi mikrobioma pada peserta dengan diabetes tipe 2 yang mengganti gula dengan sukralosa. Namun, perubahan tersebut tidak ditemukan pada peserta yang kelebihan berat badan atau obesitas tanpa diabetes.

Para peneliti belum mengetahui apakah perubahan mikrobioma tersebut berdampak pada kesehatan. Karena itu, temuan ini belum dapat dijadikan bukti bahwa sukralosa menyebabkan penyakit atau gangguan kesehatan tertentu.

4. Perhatian saat menggunakan sukralosa untuk memasak dengan suhu tinggi

Dalam sebuah studi laboratorium, peneliti menemukan senyawa hasil penguraian sukralosa saat proses pemanasan. Salah satu senyawa terklorinasi juga terdeteksi pada kukis yang dipanggang pada suhu 220 derajat Celcius. Namun, penelitian ini tidak menilai dampaknya pada manusia dan tidak membuktikan bahwa senyawa tersebut dalam makanan dapat membahayakan kesehatan.

EFSA menyatakan bahwa kemungkinan terbentuknya senyawa terklorinasi saat makanan yang mengandung sukralosa dipanggang, digoreng, atau dibakar di rumah belum bisa sepenuhnya dikesampingkan. Namun, untuk kondisi memasak yang menyerupai pemanggangan biasa, pembentukan beberapa senyawa lain diperkirakan rendah. Ketidakpastian ini muncul karena suhu, lama memasak, dan jumlah sukralosa yang digunakan di rumah sangat bervariasi.

Sebagai langkah pencegahan, disarankan agar makanan yang mengandung sukralosa tidak dipanaskan di atas 120 derajat Celcius atau sukralosa ditambahkan setelah proses pemanasan selesai.

5. Rendah kalori bukan berarti solusi utama untuk diet

ilustrasi pemanis pengganti gula sukralosa (unsplash.com/Towfiqu barbhuiya)

Walaupun sering digunakan sebagai pengganti gula, tetapi sukralosa bukan cara terbaik untuk menurunkan berat badan atau mencegah penyakit kronis. WHO tidak merekomendasikan pemanis non gula, termasuk sukralosa, sebagai strategi utama jangka panjang untuk mengendalikan berat badan atau mengurangi risiko penyakit tidak menular.

Rekomendasi tersebut menilai manfaatnya untuk pengendalian berat badan dalam jangka panjang, bukan keamanan sukralosa itu sendiri.

Selain itu, rekomendasi tersebut tidak ditujukan untuk orang yang telah memiliki diabetes.

Kesimpulannya, sukralosa dinilai aman jika digunakan sesuai batas yang ditetapkan regulator. Jika menggunakan sukralosa dalam masakan, tambahkannya setelah makanan matang atau ketika suhu makanan sudah tidak terlalu panas.

Referensi

EFSA Panel on Food Additives and Flavourings (FAF Panel), “Re-evaluation of Sucralose (E 955) as a Food Additive and Evaluation of a New Application on Extension of Use of Sucralose (E 955) in Fine Bakery Wares,” EFSA Journal 24, no. 2 (2026): e9854.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia, “Peraturan Badan POM Nomor 11 Tahun 2019 tentang Bahan Tambahan Pangan.”

Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives, “Sucralose,” JECFA Database, diakses 29 Oktober 2026.

U.S. Food and Drug Administration, “Aspartame and Other Sweeteners in Food,” diakses 29 Oktober 2026.

Badan POM RI, “Pencarian berdasarkan data terkait jenis pangan: Sukralosa,” CekBTP, diakses 29 Oktober 2026.

Danielle E. Haslam et al., “Effect of Replacing Added Sugars with Sucralose on Gut Microbiome Composition Among Asian Indian Adults in Two 12-week Randomized Controlled Trials,” Current Developments in Nutrition 9, no. 12 (2025): 107600, https://doi.org/10.1016/j.cdnut.2025.107600.

Michael Hellwig, “Formation of Chlorinated Carbohydrate Degradation Products and Amino Acids during Heating of Sucralose in Model Systems and Food,” Journal of Agricultural and Food Chemistry 72, no. 47 (2024): 26441–50, https://doi.org/10.1021/acs.jafc.4c08059.

German Federal Institute for Risk Assessment, “Sucralose—Heating above 120°C Can Produce Substances That Are Harmful to Health,” diakses 29 Oktober 2026.

World Health Organization, “Use of Non-sugar Sweeteners: WHO Guideline,” diakses 29 Oktober 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article