Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ampela Ayam Tinggi Protein dan Zat Besi, Berapa Porsi yang Aman?
ilustrasi ampela atau rempela (commons.wikimedia.org/Rainer Zenz)
  • Ampela ayam mengandung protein dan zat besi, sekitar 30,4 gram protein dan 3,2 miligram zat besi per 100 gram.

  • Ampela juga termasuk jeroan yang tinggi purin dan mengandung kolesterol. Nilai gizinya bukan alasan untuk mengonsumsinya tanpa batas.

  • Ahli gizi menyarankan menjadikan ampela ayam sebagai lauk variasi, bukan menu harian atau porsi besar.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ampela sering diolah menjadi tumisan, sate, soto, sambal goreng, atau lauk rumahan lainnya. Rasanya akrab dan harganya relatif terjangkau.

Di balik teksturnya yang kenyal, ampela menyumbang protein dan sejumlah zat gizi. Namun, berapa jumlah konsumsinya yang aman?

Ampela mengandung protein dan zat besi

Muhammad Aries, SP, MSi, dosen IPB University dari Program Studi llmu Gizi, Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz), mengatakan bahwa walaupun termasuk jeroan, tetapi ampela tetap memiliki kandungan gizi yang baik, terutama protein dan beberapa mineral. Dibandingkan banyak jeroan lain, ampela relatif tinggi protein dan rendah lemak total.

“Ampela ayam dapat dikategorikan sebagai pangan bergizi tinggi. Dalam 100 gram ampela ayam matang, terdapat sekitar 30,4 gram protein, 3,2 miligram zat besi, 1 mikrogram vitamin B12, dan 4,4 miligram zink,” kata Aries, mengutip laman IPB University.

Protein membantu membangun dan memperbaiki jaringan tubuh, sementara zat besi berperan dalam pembentukan sel darah merah.

Sebuah penelitian tentang komposisi berbagai hasil sampingan ayam juga menemukan bahwa ampela dan hati termasuk bagian dengan kandungan protein tertinggi di antara sampel yang diteliti. Namun, kandungan zat gizi dapat berbeda bergantung pada sampel dan cara pengolahannya.

Bergizi bukan berarti boleh dimakan tanpa batas

ilustrasi mengolah jeroan ayam yang terdiri dari ampela, hati, dan jantung ayam (pexels.com/Ragil Tagiyev)

Walaupun punya nilai gizi, tetapi ampela mengandung kolesterol tinggi. Menurut Aries, 100 gram ampela matang mengandung sekitar 370 miligram kolesterol.

“Ampela mengandung kolesterol cukup tinggi, sehingga konteks keseluruhan pola makan lebih penting daripada menilai satu bahan makanan secara terpisah,” paparnya.

Kadar kolesterol pada satu jenis makanan tidak otomatis menentukan apakah makanan tersebut baik atau buruk bagi kesehatan. Yang lebih penting adalah pola makan secara keseluruhan. Menurut panduan American Heart Association tahun 2026, bagi sebagian besar orang, kolesterol dari makanan tidak lagi menjadi fokus utama yang dinilai secara terpisah untuk menurunkan risiko penyakit kardiovaskular.

Ampela juga merupakan jeroan yang tinggi purin. Bagi orang yang hidup dengan gout atau kadar asam urat tinggi, kandungan purin dalam makanan patut diperhatikan. Pasien gout disarankan untuk membatasi asupan purin.

Jadi, berapa jumlah yang aman?

Untuk orang sehat, saran konsumsinya adalah menjadikan ampela sebagai lauk selingan dan tidak mengonsumsinya setiap hari atau dalam porsi besar.

Jika memiliki gout, kolesterol darah tinggi, atau penyakit jantung, pertimbangkan kondisi pribadi dan bicarakan pola makan dengan dokter atau ahli gizi, terutama jika ada anjuran diet khusus.

“Ampela tidak perlu dihindari sepenuhnya oleh orang sehat. Namun, karena kombinasi kolesterol tinggi dan statusnya sebagai jeroan kaya purin, ampela lebih tepat diposisikan sebagai lauk variasi, bukan makanan harian atau lauk dalam porsi besar,” saran Aries.

Perhatikan cara mengolah ampela

ilustrasi pola makan sehat seimbang (pexels.com/Cats Coming)

Aries menyarankan ampela direbus, dipanggang, atau ditumis dengan sedikit minyak. Sajikan bersama sayuran atau sumber serat, dan batasi tambahan garam, minyak berlebih, serta santan kental.

Untuk keamanan pangan, jeroan unggas perlu dimasak hingga suhu bagian dalam mencapai 74 derajat Celcius.

Referensi

Muhammad Aries, “Ampela Ayam Kaya Protein dan Zat Besi, Seberapa Aman Dikonsumsi? Ini Rekomendasi Pakar IPB University,” diakses 27 Oktober 2026.

Pil Nam Seong et al., “Characterization of Chicken By-Products by Mean of Proximate and Nutritional Compositions,” Korean Journal for Food Science of Animal Resources 35, no. 2 (2015): 179–188, https://doi.org/10.5851/kosfa.2015.35.2.179.

Alice H. Lichtenstein et al., “2026 Dietary Guidance to Improve Cardiovascular Health: A Scientific Statement from the American Heart Association,” Circulation, diterbitkan daring 31 Maret 2026, https://doi.org/10.1161/CIR.0000000000001435.

John D. FitzGerald et al., “2020 American College of Rheumatology Guideline for the Management of Gout,” Arthritis Care & Research 72, no. 6 (2020): 744–760, https://doi.org/10.1002/acr.24180.

FoodSafety.gov, “Cook to a Safe Minimum Internal Temperature,” diakses 27 Oktober 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article