Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Artritis Bisa Memengaruhi Kualitas Tidur?

5 min read
Kenapa Artritis Bisa Memengaruhi Kualitas Tidur?
ilustrasi susah tidur (unsplash.com/Isabella Fischer)

  • Nyeri, bengkak, dan kekakuan sendi membuat orang dengan artritis sulit menemukan posisi nyaman, sering terbangun, serta kurang pulih saat tidur.

  • Peradangan, stres, kecemasan, kelelahan, dan gangguan seperti sleep apnea atau sindrom kaki gelisah dapat ikut menurunkan kualitas tidur pasien artritis.

  • Artritis dan kurang tidur membentuk siklus: tidur buruk meningkatkan sensitivitas nyeri. Pengendalian nyeri, jadwal tidur teratur, aktivitas ringan, dan konsultasi dokter dapat membantu.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Artritis atau radang sendi tidak cuma menimbulkan nyeri saat bergerak, tetapi juga dapat mengganggu tidur. Orang yang hidup dengan kondisi ini sering sulit menemukan posisi yang nyaman, kerap terbangun di malam hari, atau tetap merasa lelah meski sudah tidur cukup lama. Akibatnya, aktivitas dan produktivitas keesokan harinya bisa terganggu.

Gangguan tidur pada orang dengan artritis dipengaruhi berbagai faktor, seperti nyeri sendi, peradangan, stres, dan perubahan aktivitas sehari-hari. Hubungannya juga bersifat dua arah, bahwa artritis dapat mengganggu tidur, sementara kurang tidur dapat membuat nyeri sendi terasa lebih berat.

  1. 1. Nyeri sendi membuat tidur tidak nyaman

    Nyeri merupakan salah satu penyebab utama gangguan tidur pada pasien artritis. Sendi yang sakit, bengkak, atau kaku dapat menyulitkan mereka menemukan posisi tidur yang nyaman, terutama jika keluhan terjadi pada pinggul, lutut, bahu, atau leher.

    Kondisi ini dapat membuat seseorang sulit tertidur atau sering terbangun pada malam hari. Bahkan, gerakan sederhana untuk mengubah posisi tubuh bisa memicu nyeri pada sendi yang meradang. Akibatnya, kualitas istirahat menurun dan tubuh tidak mendapatkan pemulihan yang optimal. Rasa nyeri juga sering terasa lebih berat pada malam hari karena tidak banyak aktivitas yang mengalihkan perhatian dari rasa sakit.

  2. 2. Peradangan ikut memengaruhi pengaturan tidur

    Pada beberapa jenis artritis, seperti artritis reumatoid, sistem kekebalan tubuh menghasilkan zat kimia yang disebut sitokin proinflamasi. Zat ini berperan dalam proses peradangan yang menyebabkan pembengkakan, nyeri, dan kekakuan sendi.

    Namun, pengaruhnya tidak terbatas pada persendian. Sitokin juga terlibat dalam pengaturan tidur sehingga perubahan aktivitas peradangan dapat memengaruhi kualitas istirahat.

    Aktivitas penyakit dan tingkat peradangan yang lebih tinggi berkaitan dengan kualitas tidur yang lebih buruk. Sebaliknya, kurang tidur juga berpotensi meningkatkan aktivitas peradangan. Inilah kenapa keluhan artritis dan gangguan tidur bisa terjadi secara bersamaan.

  3. 3. Stres dan kecemasan membuat tubuh sulit beristirahat

    Seorang perempuan berbaring terjaga di tempat tidur pada malam hari, mengilustrasikan kesulitan untuk tidur.
    ilustrasi kesulitan tidur (pexels.com/cottonbro studio)

    Menghadapi nyeri kronis setiap hari dapat memengaruhi kondisi psikologis orang dengan artritis. Kekhawatiran terhadap gejala yang kambuh, keterbatasan gerak, atau kemampuan menjalani aktivitas sehari-hari bisa membuat seseorang sulit merasa rileks sebelum tidur.

    Kecemasan dan depresi juga kerap berkaitan dengan gangguan tidur pada pasien artritis. Di sisi lain, kurang tidur dapat memperburuk suasana hati dan menurunkan kemampuan menghadapi rasa sakit. Stres yang berlangsung lama juga dapat meningkatkan ketegangan otot sehingga nyeri terasa lebih berat.

  4. 4. Kelelahan dan berkurangnya aktivitas fisik

    Artritis sering menyebabkan kelelahan yang tidak selalu membaik setelah beristirahat. Saat sendi terasa nyeri, sebagian orang cenderung mengurangi aktivitas, lebih banyak berbaring, atau tidur siang.

    Istirahat memang penting, terutama ketika gejala memburuk. Namun, tidur siang terlalu lama dan pola aktivitas yang tidak teratur dapat mengurangi rasa kantuk pada malam hari.

    Selain itu, sebagian pasien artritis inflamasi juga mengalami gangguan tidur lain, seperti sleep apnea dan sindrom kaki gelisah (restless legs syndrome). Kondisi ini dapat membuat seseorang berulang kali terbangun meski nyeri sendinya relatif terkendali.

  5. 5. Kurang tidur bisa membuat nyeri artritis makin berat

    Hubungan antara artritis dan gangguan tidur sering membentuk lingkaran yang sulit diputus. Nyeri dan kekakuan sendi dapat membuat seseorang sulit tidur. Sebaliknya, kurang tidur membuat tubuh lebih sensitif terhadap nyeri sehingga rasa sakit bisa terasa lebih berat keesokan harinya, meski kondisi sendi belum tentu memburuk.

    Kondisi ini dapat membuat tidur pada malam berikutnya makin sulit. Dalam jangka panjang, kualitas tidur yang buruk tidak hanya memperparah persepsi nyeri, tetapi juga menyebabkan kelelahan pada siang hari, sulit berkonsentrasi, dan menurunnya kemampuan beraktivitas fisik.

  6. 6. Kekakuan sendi pada pagi hari bisa memperburuk rasa lelah

    Ilustrasi seseorang berbaring di tempat tidur sambil merasa lelah dan belum segar setelah bangun tidur pada pagi hari.
    ilustrasi bangun tidur merasa lelah (unsplash.com/Dmitry Ganin)

    Orang dengan artritis, terutama artritis reumatoid, sering mengalami kekakuan sendi saat bangun tidur akibat peradangan pada persendian. Kondisi ini dapat membuat sendi sulit digerakkan setelah beristirahat dalam waktu lama.

    Kekakuan pada pagi hari terkadang berlangsung cukup lama hingga mengganggu aktivitas sederhana, seperti bangun dari tempat tidur, berjalan, atau berpakaian. Jika malam sebelumnya tidurnya juga terganggu, rasa lelah yang muncul bisa memberat.

    Karena itu, mengendalikan nyeri dan kekakuan sendi menjadi bagian penting untuk meningkatkan kualitas tidur. Pengobatan yang tepat serta aktivitas fisik ringan sesuai kemampuan dapat membantu mengurangi keluhan dan membuat tubuh lebih nyaman saat beristirahat.

  7. 7. Cara meningkatkan kualitas tidur pada orang dengan artritis

    Mengatasi gangguan tidur akibat artritis tidak cukup hanya dengan memperbaiki kebiasaan tidur. Nyeri dan peradangan yang menjadi penyebab utamanya juga perlu dikendalikan.

    Beberapa langkah yang dapat membantu antara lain menjaga jadwal tidur tetap teratur, menghindari kafein menjelang malam, serta memastikan kamar tidur nyaman, gelap, dan tenang. Penggunaan bantal penyangga juga dapat membantu mengurangi tekanan pada sendi yang nyeri.

    Aktivitas fisik ringan, seperti berjalan kaki, peregangan, atau fisioterapi sesuai anjuran tenaga kesehatan, dapat membantu menjaga kelenturan sendi. Namun, aktivitas perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing agar tidak memperburuk nyeri.

    Jika gangguan tidur terus berulang, sebaiknya konsultasikan dengan dokter. Pengendalian artritis yang lebih baik serta penanganan gangguan tidur atau masalah psikologis yang menyertainya dapat membantu meningkatkan kualitas istirahat.

    Pada akhirnya, artritis dan kualitas tidur saling memengaruhi. Karena itu, tidur yang buruk bukanlah hal yang harus diterima begitu saja. Dengan penanganan yang tepat, pasien artritis tetap dapat memperoleh tidur yang lebih nyaman dan berkualitas.

    Referensi

    Arthritis Foundation. Diakses pada Oktober 2026. "Causes of Fatigue in Arthritis."

    Arthritis Foundation. Diakses pada Oktober 2026. "Sleep Tips for Arthritis."

    Arthritis UK. Diakses pada Oktober 2026. "Overcoming Sleep Problems with Arthritis."

    The Arthritis Movement. Diakses pada Oktober 2026. "Understanding Your Sleep Cycle: Why it Matters for Arthritis & Pain."

Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More