- Adductor spasmodic dysphonia
Apa Itu Disfonia Spasmodik?

- Disfonia spasmodik adalah gangguan suara neurologis langka yang membuat otot pita suara berkontraksi secara tak terkendali dan mengganggu bicara.
- Penyebab pastinya belum diketahui, tetapi gangguan pada sistem saraf pusat (termasuk basal ganglia) dipercaya menjadi faktor utama.
- Penanganan berfokus pada mengurangi gejala dan meningkatkan kualitas hidup, termasuk injeksi botulinum dan terapi bicara.
Nadin Amizah didiagnosis mengalami (suspek) disfonia spasmodik (spasmodic dysphonia). Kabar ini dibagikan langsung oleh pelantun lagu “Rayuan Perempuan Gila” tersebut ke Instagram Story-nya.
Disfonia spasmodik adalah sebuah kondisi yang menghampiri kehidupan seseorang dari tempat yang tak terduga, yaitu dari pusat saraf yang seharusnya mengatur suara.
Orang yang mengalaminya mungkin merasa suaranya “tidak menuruti” dirinya sendiri—terputus, tegang, atau sangat lembut, padahal niatnya hanya bicara biasa. Kondisi ini termasuk bagian dari distonia laring yang memengaruhi kontrol otot di pita suara dan membuat bicara menjadi perjuangan.
Dalam beberapa kasus, gangguan ini bersifat sementara atau dapat diperbaiki melalui pengobatan. Disfonia spasmodik paling sering dimulai ketika seseorang dewasa mencapai usia paruh baya. Perempuan lebih sering terdampak dibanding laki-laki.
Meski relatif langka, tetapi dampaknya terasa nyata. Bicara yang dulu alami kini membutuhkan usaha ekstra, dan bagi banyak orang, ini bisa memengaruhi kehidupan sosial, pekerjaan, dan rasa percaya diri.
1. Jenis
Disfonia spasmodik tidak muncul dalam satu bentuk tunggal. Ada tiga jenis utama, masing-masing dengan ciri khas suara yang berbeda:
Ini adalah bentuk yang paling umum. Pada tipe ini, otot-otot yang menutup pita suara berkontraksi secara tiba-tiba dan tak terkendali, membuat pita suara “mengunci” dan suara terdengar tegang, tersendat, atau seperti dicekik.
- Abductor spasmodic dysphonia
Pada tipe ini, yang berkontraksi adalah otot yang membuka pita suara, sehingga pita suara tetap terlalu terbuka saat berbicara. Akibatnya, suara terdengar lemah, napas bocor, atau “breathy” (suara terdengar seperti “bernapas” atau ada embusan udara berlebihan yang ikut keluar saat berbicara).
- Mixed spasmodic dysphonia
Lebih jarang terjadi, ini merupakan kombinasi dari kedua bentuk di atas, sehingga pengidapnya bisa mengalami suara yang tegang sekaligus lembut dalam pola yang kompleks.
2. Penyebab

Walaupun istilahnya terdengar spesifik, tetapi para peneliti sebenarnya belum sepenuhnya mengerti mengapa disfonia spasmodik terjadi. Namun, bukti ilmiah mengarah pada gangguan neurologis di area otak yang mengatur gerakan otot vokal, khususnya area yang disebut basal ganglia.
Area ini berperan dalam koordinasi gerakan otot halus, termasuk yang mengontrol pita suara. Ketika ada disfungsi atau ketidakseimbangan di jalur saraf ini, kontrol terhadap otot-otot pita suara bisa terganggu, sehingga spasme/kejang tak disengaja terjadi. Kondisi ini dapat muncul tanpa alasan yang jelas, atau kadang dikaitkan dengan faktor genetik atau gangguan neurologis lain, meskipun tidak selalu.
Penelitian juga menunjukkan bahwa kadang kondisi ini muncul tiba-tiba, dimulai dengan gejala ringan yang tidak teratur, lalu semakin sering dan intens seiring waktu. Meski langka, gangguan ini biasanya bertahan seumur hidup dan terus membutuhkan strategi pengelolaan gejala.
3. Gejala
Orang dengan disfonia spasmodik bisa mengalami berbagai perubahan suara, tergantung pada jenisnya:
- Suara tegang, patah-patah, atau terputus saat berbicara.
- Suara sangat lemah, napas bocor, atau bernada breathy.
- Sulit memulai kata atau mempertahankan alur bicara.
- Suara berubah saat tertawa, menangis, atau berbisik—sering kali membaik pada aktivitas tersebut karena otot pita suara bekerja secara berbeda.
Gejala ini tidak konsisten seperti batuk biasa—kadang muncul dalam beberapa kalimat dan mereda pada bagian lain, membuat bicara normal terasa seperti perjuangan.
4. Diagnosis

Mendiagnosis disfonia spasmodik mungkin bisa rumit. Karena pita suara sering tampak normal saat tidak berbicara, pemeriksaan biasanya melibatkan tim profesional:
- Otolaringolog (dokter telinga-tenggorokan), yang mengevaluasi struktur dan fungsi laring dengan alat seperti nasolaryngoscopy (tabung kecil bercahaya yang melalui hidung untuk melihat pita suara).
- Ahli patologi wicara bahasa, yang mengevaluasi pola suara saat bicara.
- Kadang neurolog, yang membantu memastikan tidak ada gangguan saraf yang lebih luas.
Tidak ada tes tunggal yang bisa memastikan disfonia spasmodik; diagnosis sering kali datang dari gabungan riwayat gejala, pemeriksaan suara, dan observasi gerakan pita suara saat berbicara.
5. Pengobatan
Hingga kini belum ada obat yang menyembuhkan disfonia spasmodik secara permanen. Fokus utama perawatan adalah mengurangi gejala dan membantu orang tetap bisa berkomunikasi. Berikut pilihan perawatannya:
- Injeksi toksin botulinum
Ini adalah pilihan terapi yang paling umum. Obat yang dikenal sebagai Botox ini disuntikkan ke otot pita suara untuk mengurangi spasme. Efeknya biasanya bertahan beberapa bulan, lalu perlu diulang.
- Terapi bicara
Ahli terapi wicara bisa membantu mengembangkan teknik bicara yang mengurangi ketegangan suara dan memaksimalkan fungsi yang ada.
- Pembedahan
Beberapa prosedur bedah bisa dipertimbangkan pada kasus berat, tetapi pendekatan ini kurang umum dan dipilih secara selektif oleh spesialis.
6. Komplikasi yang bisa terjadi

Disfonia spasmodik sendiri tidak mengancam nyawa, tetapi dampaknya bisa meluas, seperti:
- Isolasi sosial akibat sulit berkomunikasi.
- Stres emosional dan kecemasan karena ketidakpastian suara.
- Kesulitan dalam hal profesional, terutama dalam pekerjaan yang banyak bicara atau menyanyi.
Karena gejalanya bisa tampak ringan pada awalnya, banyak orang menghabiskan waktu bertahun-tahun mencari diagnosis yang tepat, yang memperlambat akses mereka ke perawatan yang bermanfaat.
7. Hidup dengan disfonia spasmodik
Ketika suara berhenti bekerja seperti dulu, kehidupan berbicara bisa menjadi tantangan dan butuh penyesuaian. Setiap percakapan bisa membutuhkan usaha ekstra, dan rasa frustrasi itu manusiawi. Mendapat diagnosis dan memahami kondisi ini sendiri bisa menjadi langkah penting yang memulai proses adaptasi dan pemulihan.
Banyak orang menemukan bahwa kombinasi pengobatan medis, terapi suara, dan dukungan emosional atau konseling memberi mereka alat yang lebih kuat untuk menjalani hari-hari mereka. Tidak sedikit pula yang bergabung dengan komunitas dukungan untuk berbagi pengalaman dan strategi koping dalam menghadapi ketidakpastian suara mereka.
Disfonia spasmodik adalah gangguan suara langka dengan basis neurologis, yang membuat otot pita suara berkontraksi tak terkendali dan mengganggu kemampuan bicara. Meski belum ada obat permanen, tetapi kombinasi terapi seperti injeksi Botox dan terapi suara dapat membantu banyak orang mengelola gejala dan mempertahankan kualitas hidup mereka.
Referensi
Johns Hopkins Medicine. “Spasmodic Dysphonia.” Diakses Januari 2026.
National Institute on Deafness and Other Communication Disorders. “What Is Spasmodic Dysphonia?” Diakses Januari 2026.
Tetsuji Sanuki, “Spasmodic Dysphonia: An Overview of Clinical Features and Treatment Options,” Auris Nasus Larynx 50, no. 1 (June 11, 2022): 17–22, https://doi.org/10.1016/j.anl.2022.05.012.
Cleveland Clinic. “Spasmodic Dysphonia.” Diakses Januari 2026.
Francis X Creighton et al., “Diagnostic Delays in Spasmodic Dysphonia: A Call for Clinician Education,” Journal of Voice 29, no. 5 (April 11, 2015): 592–94, https://doi.org/10.1016/j.jvoice.2013.10.022.
Wahyu Tri Novriansyah and Wahyu Tri Novriansyah, “Injeksi Toksin Botulinum Pada Disfonia Spasmodik Tipe Adduktor,” Majalah Kedokteran Andalas 45, no. 4 (October 12, 2022): 686–94, https://doi.org/10.25077/mka.v45.i4.p686-694.2022.



















