- Diabetes tipe 2.
- Resistansi insulin.
- Obesitas.
- Peradangan.
- Gangguan gastrointestinal.
Apa yang Terjadi pada Tubuh saat Menjalani Diet Karnivora?

- Diet karnivora memengaruhi usus dengan membuat pencernaan lebih ringan dan mengurangi kembung serta gas.
- Diet karnivora membantu penurunan berat badan yang cepat, tetapi tidak aman.
- Dampak diet karnivora terhadap jantung sangat nyata, karena berpusat pada daging merah dan olahan yang tinggi lemak jenuh dan kolesterol.
Diet karnivora adalah diet yang sangat ketat dan cukup populer di media sosial. Diet ini disebut-sebut efektif untuk menurunkan berat badan dengan cepat. Seperti namanya, diet ini hanya terdiri atas produk hewani: daging, ikan, makanan laut, telur, dan beberapa produk susu seperti mentega.
Saat menjalani diet ini, kamu perlu menghindari makanan nabati atau karbohidrat, seperti buah-buahan, sayuran, biji-bijian, kacang-kacangan, atau biji-bijian. Ini berarti diet ini tinggi lemak jenuh dan protein, serta mengandung sangat sedikit karbohidrat dan serat. Ini adalah versi ekstrem dari diet rendah karbohidrat lainnya, seperti diet keto atau Atkins.
Sebelum mencobanya, ketahui dulu apa yang akan terjadi pada tubuhmu saat menjalani diet karnivora.
Table of Content
1. Pengaruh diet karnivora terhadap usus
Perubahan pertama yang akan kamu rasakan saat menjalani diet karnivora adalah pencernaan menjadi lebih ringan. Masalah perut kembung dan gas teratasi, selan itu lingkar pinggang mungkin juga jadi lebih ramping.
Saat asupan karbohidrat dihentikan, tubuh membakar cadangan glikogen yang tersimpan di otot dan hati, lalu melepaskan air sehingga berat badan turun dengan cepat—meski sebagian besar berasal dari cairan, bukan lemak.
Setelah itu, tubuh masuk ke fase ketosis, ketika lemak menjadi sumber energi utama. Kondisi ini juga menekan hormon lapar dan meningkatkan rasa kenyang, sehingga banyak orang merasa tubuhnya lebih ringan dan jarang lapar di minggu-minggu pertama.
Berkurangnya kembung sebenarnya bukan karena hilangnya sayuran, melainkan karena tidak lagi mengonsumsi serat fermentabel tertentu (high FODMAP) yang memang bisa memicu gangguan pencernaan pada sebagian orang.
Namun, menghilangkan serat sepenuhnya dalam jangka panjang bukannya tanpa risiko. Serat memiliki peran besar bagi kesehatan jangka panjang, mulai dari menurunkan risiko penyakit jantung, kanker, dan diabetes, hingga mendukung umur panjang dan kesehatan otak. Karena itu, meski diet karnivora bisa memberi rasa lega sementara pada usus, menghilangkan serat sepenuhnya berarti melepaskan salah satu pelindung terpenting bagi kesehatan tubuh secara keseluruhan.
2. Penurunan berat badan terjadi dengan cepat
Seperti beberapa diet tinggi protein lainnya, diet karnivora dapat membantu penurunan berat badan. Asupan lebih banyak protein daripada biasanya direkomendasikan telah terbukti mempermudah penurunan berat badan.
Diet tinggi protein dapat menurunkan kadar ghrelin, yaitu hormon yang memicu rasa lapar. Oleh karena itu, diet tinggi protein dapat menekan nafsu makan dan menyebabkan asupan kalori yang lebih rendah.
Akibatnya, saat menjalani diet karnivora, kamu bisa mengalami penurunan berat badan yang cepat, yang umumnya dianggap tidak aman. Penurunan berat badan yang aman dan efektif sebaiknya tidak lebih dari 1 kg per minggu.
3. Membantu memenuhi kebutuhan protein dengan mudah

Sebagai diet berbasis hewani, diet karnivora secara alami tinggi protein. Protein ialah makronutrien penting yang dibutuhkan tubuh untuk struktur dan banyak fungsi vital. Protein juga dapat bertindak sebagai enzim dan antibodi.
Rekomendasi umum untuk asupan protein adalah 0,8 gram per kilogram berat badan per hari. Namun, kebutuhan protein biasanya lebih tinggi untuk atlet, orang dewasa yang lebih tua, dan orang dengan kondisi medis tertentu.
Makanan berbasis hewan merupakan sumber protein yang sangat baik, sehingga umumnya mudah untuk memenuhi kebutuhan protein saat menjalani diet karnivora. Namun, penting untuk dicatat bahwa terlalu banyak protein dalam diet bisa berbahaya. Diet dengan protein berlebihan dan rendah nutrisi lain dapat menyebabkan kerusakan ginjal, kesehatan tulang yang buruk, dan masalah lainnya.
4. Dampak diet karnivora terhadap jantung
Diet karnivora berpusat pada daging merah dan daging olahan, yang tinggi lemak jenuh dan kolesterol. Komponen-komponen ini telah dikaitkan dengan peningkatan kadar kolesterol LDL, faktor risiko utama penyakit kardiovaskular.
Sebuah studi yang melibatkan lebih dari 180 ribu peserta menemukan bahwa konsumsi daging merah yang tinggi dikaitkan dengan peningkatan 20 persen risiko penyakit kardiovaskular, peningkatan 53 persen penyakit jantung, dan lebih dari dua kali lipat risiko kematian akibat stroke.
Tidak adanya serat menghilangkan salah satu alat alami tubuh untuk menurunkan LDL, karena serat larut mengikat kolesterol di usus dan membantu mengeluarkannya dari peredaran darah. Mengingat LDL adalah salah satu pendorong penyakit jantung, risiko kardiovaskular jangka panjang dari diet ini merupakan kekhawatiran yang sangat nyata.
5. Siapa yang mungkin mendapatkan manfaat dari diet karnivora?
Para pendukung diet karnivora mengklaim bahwa hanya mengonsumsi makanan hewani mungkin bermanfaat bagi mereka yang memiliki kondisi berikut:
Namun, tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa diet karnivora dapat bermanfaat bagi orang-orang dengan kondisi ini atau kondisi lainnya.
Selain itu, meskipun perbaikan jangka pendek pada kondisi kesehatan tertentu telah dilaporkan, tidak ada penelitian yang meneliti risiko atau manfaat jangka panjang dari diet karnivora. Para ahli tetap khawatir bahwa menjalani diet karnivora dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan kondisi lainnya.
Pada akhirnya, diet karnivora bisa memicu perubahan cepat pada tubuh, mulai dari turunnya berat badan hingga pencernaan yang terasa lebih ringan di awal. Namun, di balik efek instan tersebut, ada konsekuensi jangka panjang yang masih diperdebatkan dan sangat bergantung pada kondisi masing-masing individu.
Karena itu, sebelum menjadikannya gaya hidup, penting untuk memahami kebutuhan tubuh sendiri dan mempertimbangkan dampaknya secara menyeluruh. Pola makan yang paling baik bukanlah yang paling ekstrem, melainkan yang paling aman, seimbang, dan bisa dijalani secara berkelanjutan.
Referensi
British Heart Foundation. Diakses pada Januari 2026. "The Carnivore Diet: Why It’s Not Good for Your Health."
National Geographic. Diakses pada Januari 2026. "What Really Happens to Your Body When You Eat Only Meat."
Verywell Health. Diakses pada Januari 2026. "What Happens to Your Body When You Follow a Carnivore Diet."
Wang, M., Ma, H., Song, Q., Zhou, T., Hu, Y., Heianza, Y., Manson, J. E., & Qi, L. (2022). Red meat consumption and all-cause and cardiovascular mortality: results from the UK Biobank study. European Journal of Nutrition, 61(5), 2543–2553. https://doi.org/10.1007/s00394-022-02807-0


















