Mengganti pakaian basah dan menghangatkan tubuh dapat membantu mengurangi rasa tidak nyaman setelah kehujanan. Namun, itu bukan pengganti pencegahan penularan. Yang dianjurkan adalah sering mencuci tangan, pakai masker saat sakit atau berada di keramaian, serta mendapatkan vaksin influenza tahunan, terutama bagi kelompok berisiko tinggi.
Jadi, kehujanan tidak secara langsung menyebabkan pilek ataupun flu. Udara dingin dapat membuat hidung berair sementara dan mungkin memengaruhi pertahanan lokal, tetapi infeksi tetap memerlukan virus. Jika gejala muncul setelah kehujanan, waktunya saja belum cukup untuk menentukan penyebabnya.
Referensi
Centers for Disease Control and Prevention, “About Common Cold,” diakses 29 Oktober 2026.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, “FAQ Influenza: Informasi, Penanganan, dan Pencegahan,” diakses 29 Oktober 2026.
Álvaro A. Cruz and Alkis Togias, “Upper Airways Reactions to Cold Air,” Current Allergy and Asthma Reports 8, no. 2 (2008): 111–17, https://doi.org/10.1007/s11882-008-0020-z.
Di Huang et al., “Cold Exposure Impairs Extracellular Vesicle Swarm-Mediated Nasal Antiviral Immunity,” Journal of Allergy and Clinical Immunology 151, no. 2 (2023): 509–25.e8, https://doi.org/10.1016/j.jaci.2022.09.037.
Claire Johnson and Ronald Eccles, “Acute Cooling of the Feet and the Onset of Common Cold Symptoms,” Family Practice 22, no. 6 (2005): 608–13, https://doi.org/10.1093/fampra/cmi072.
Ronald Eccles, “Common Cold,” Frontiers in Allergy 4 (2023): 1224988, https://doi.org/10.3389/falgy.2023.1224988.