N. Neelakantan, J. Y. H. Seah, dan R. M. van Dam, “The Effect of Coconut Oil Consumption on Cardiovascular Risk Factors: A Systematic Review and Meta-Analysis of Clinical Trials,” Circulation 141, no. 10 (2020): 803–14, https://doi.org/10.1161/CIRCULATIONAHA.119.043052.
Harvard T.H. Chan School of Public Health, “Coconut Oil,” The Nutrition Source, diakses September 2026.
American Heart Association, “Saturated Fats,” diakses September 2026.
Kay-Tee Khaw et al., “Randomised Trial of Coconut Oil, Olive Oil or Butter on Blood Lipids and Other Cardiovascular Risk Factors in Healthy Men and Women,” BMJ Open 8, no. 3 (2018): e020167, https://doi.org/10.1136/bmjopen-2017-020167.
American Heart Association, “HDL (Good), LDL (Bad) Cholesterol and Triglycerides,” diakses September 2026.
Apakah Minyak Kelapa Lebih Aman untuk Kolesterol?

Minyak kelapa bebas kolesterol, tetapi mengandung 80–90 persen lemak jenuh yang dapat menaikkan LDL dan meningkatkan risiko penyakit jantung serta stroke.
Metaanalisis menunjukkan minyak kelapa meningkatkan LDL rata-rata 10,5 mg/dL dibanding minyak nabati nontropis; kenaikan HDL tidak otomatis menghapus dampak LDL.
Untuk mengendalikan LDL, pilih minyak tak jenuh seperti kanola, kedelai, atau zaitun, sementara minyak kelapa digunakan sedikit dan sesekali.
Saat ingin memperbaiki pola makan, langkah pertama beberapa orang adalah mengganti minyak goreng. Salah satunya beralih ke minyak kelapa. Lantas, apakah minyak kelapa lebih aman untuk kolesterol darah?
Dibandingkan minyak tinggi lemak tak jenuh, seperti minyak zaitun dan kanola, minyak kelapa bukan pilihan yang lebih baik untuk menurunkan low-density lipoprotein (LDL). Berikut ini penjelasannya.
Table of Content
1. Bebas kolesterol tidak berarti tidak menaikkan kolesterol
Kolesterol dalam makanan dan pengaruh makanan terhadap kolesterol darah merupakan dua hal berbeda. Minyak kelapa memang tidak mengandung kolesterol, tetapi sekitar 80–90 persen lemaknya merupakan lemak jenuh.
Terlalu banyak lemak jenuh dapat menaikkan LDL, yang sering disebut kolesterol jahat. Kadar LDL tinggi meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke. Label "bebas kolesterol” pada minyak belum cukup untuk menilai dampaknya bagi kesehatan.
2. Lebih aman dibandingkan minyak yang mana?
Metaanalisis dalam jurnal Circulation tahun 2020 mencakup 16 artikel uji klinis. Dibandingkan minyak nabati nontropis, konsumsi minyak kelapa meningkatkan LDL rata-rata sekitar 10,5 mg/dL. Besarnya efek bervariasi antarpenelitian.
Hasilnya bisa berbeda ketika pembandingnya mentega. Dalam sebuah uji acak tahun 2018, peserta diminta mengonsumsi 50 gram minyak kelapa extra virgin, minyak zaitun extra virgin, atau mentega setiap hari selama empat minggu. Kelompok mentega mengalami kenaikan LDL lebih besar daripada kelompok minyak kelapa. Perubahan LDL antara kelompok minyak kelapa dan minyak zaitun tidak jauh berbeda.
Namun, penelitian singkat tersebut tidak membuktikan keduanya setara untuk kesehatan jantung dalam jangka panjang dan tidak mengubah anjuran untuk mengurangi asupan lemak jenuh.
3. HDL naik bukan berarti dampak LDL hilang

ilustrasi minyak kelapa (magnific.com/jcomp) Metaanalisis yang sama menemukan kenaikan HDL atau kolesterol baik sekitar 4 mg/dL dengan minyak kelapa dibandingkan minyak nabati nontropis. Namun, kenaikan ini tidak otomatis membuktikan perlindungan terhadap serangan jantung.
HDL membantu membawa sebagian kolesterol kembali ke hati, tetapi tidak menghilangkan seluruh LDL. Penilaian kesehatan tetap perlu mempertimbangkan LDL dan faktor risiko lainnya.
4. Bagaimana dengan virgin coconut oil atau VCO?
Istilah virgin berkaitan dengan bahan dan cara pengolahan minyak. Label tersebut tidak berarti kandungan lemak jenuhnya menjadi rendah.
Selain itu, hasil penelitian minyak medium-chain triglycerides (MCT) dengan komposisi khusus tidak bisa langsung diterapkan pada minyak kelapa biasa karena susunan asam lemaknya berbeda.
Untuk membantu mengendalikan LDL, anjurannya adalah mengganti sumber lemak jenuh dengan lemak tak jenuh, misalnya minyak kanola, kedelai, atau zaitun. Penggantian ini dilakukan dalam pola makan secara keseluruhan.
Minyak kelapa masih dapat digunakan sedikit dan sesekali untuk memberi rasa. Perhatikan porsinya: satu sendok makan mengandung sekitar 12 gram lemak jenuh. Sebagai pembanding, anjuran untuk pola makan 2.000 kalori adalah sekitar 13 gram atau kurang lemak jenuh per hari dari seluruh makanan, bukan cuma dari minyak.
Referensi
















![[QUIZ] Pilih Jenis Lari Favorit Kamu, Kami Tebak Kepribadian Kamu](https://image.idntimes.com/post/20260822/gambar-artikel-90_62bcda34-1f45-442a-acf2-42109b179116.png)




![[QUIZ] Dari Sinyal Tubuh, Kamu Lebih Butuh Plank, Sit Up, atau Push Up?](https://image.idntimes.com/post/20250305/pexels-maksgelatin-4348653-a8bdf633103f42baecf1db7a242f31a0.jpg)