Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Mengapa Awan Panas Sangat Mematikan?

Mengapa Awan Panas Sangat Mematikan?
Ilustrasi awan panas gunung api (pixabay.com/pexels)
  • Awan panas dapat menyebabkan luka bakar, cedera saluran napas, serta trauma akibat hantaman atau timbunan material.

  • Luka bakar luas dapat mengganggu sirkulasi darah dan meningkatkan risiko infeksi; cedera pernapasan menambah bahayanya.

  • Evakuasi sebelum awan panas datang merupakan perlindungan utama, dan korban yang terpapar memerlukan pertolongan medis segera.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Dari kejauhan, awan panas tampak seperti gumpalan kelabu yang bergulung menuruni lereng gunung. Namun, di dalamnya terdapat campuran gas, abu, dan pecahan batuan bersuhu sangat tinggi yang bergerak cepat. Ketika seseorang terjebak di jalurnya, beberapa jenis cedera dapat terjadi sekaligus.

Aliran piroklastik dapat melaju lebih dari 80 kilometer per jam, dengan suhu material umumnya sekitar 200–700 derajat Celcius. Bahkan di bagian tepinya, panas dan material yang terhirup dapat menyebabkan cedera berat hingga kematian.

  1. 1. Panas merusak kulit hingga jaringan di bawahnya

    Paparan panas dapat menghancurkan sel kulit. Luka yang timbul bisa berupa kemerahan dan lepuh, tetapi pada cedera yang lebih dalam, kerusakan dapat mencapai lemak, otot, bahkan tulang.

    Rasa sakit juga tidak selalu mencerminkan kedalaman luka. Luka bakar sangat dalam justru dapat kurang terasa nyeri karena ujung saraf ikut rusak. Jadi, korban yang tidak banyak mengeluh kesakitan belum tentu mengalami cedera ringan.

    Dalam sebuah penelitian terhadap 106 pasien yang dirawat setelah erupsi Merapi pada 1994 dan 2010, sebanyak 78 persen mengalami luka bakar pada lebih dari 40 persen luas permukaan tubuh.

  2. 2. Saluran napas dapat ikut cedera

    Awan Panas Guguran Gunung Merapi, Jumat (5/1/2024). (Dokumentasi BPPTKG)
    Awan Panas Guguran Gunung Merapi, Jumat (5/1/2024). (Dokumentasi BPPTKG)

    Menghirup abu dan gas panas dapat melukai saluran pernapasan. Dalam penelitian Merapi yang sama, sekitar 80 persen pasien diduga mengalami cedera inhalasi, yaitu cedera akibat menghirup bahan berbahaya.

    Secara medis, gas panas dapat membakar mulut dan tenggorokan. Pembengkakan kemudian menyulitkan udara masuk, sementara bahan iritan yang terhirup dapat merusak saluran napas dan paru-paru. Batuk, mengi, atau sesak dapat muncul segera maupun berkembang setelah paparan.

    Karena itu, kondisi kulit saja tidak cukup untuk menilai keselamatan korban. Pemeriksaan pernapasan tetap diperlukan, termasuk ketika seseorang masih dapat berbicara atau berjalan setelah diselamatkan.

  3. 3. Hantaman material dan gangguan sirkulasi menambah bahaya

    Awan panas juga membawa pecahan batuan dan dapat merobohkan bangunan. Seseorang bisa mengalami cedera akibat hantaman, tertimpa reruntuhan, atau tertimbun material, bersamaan dengan luka bakar.

    Pada luka bakar luas, cairan keluar dari pembuluh darah menuju jaringan yang cedera. Jika berat, kehilangan cairan dari sirkulasi dapat menyebabkan syok, yaitu keadaan ketika aliran darah tidak mencukupi kebutuhan organ.

    Kulit yang rusak juga kehilangan fungsi pelindungnya sehingga infeksi lebih mudah terjadi. Setelah fase darurat terlewati, jaringan parut dapat membatasi gerakan dan membuat penyintas memerlukan rehabilitasi.

  4. 4. Pertolongan dimulai dengan memastikan lokasi aman

    Peringatan dan evakuasi dini sangat penting karena awan panas bergerak cepat. Ikuti zona larangan serta arahan evakuasi petugas; jangan menunggu sampai alirannya terlihat mendekat.

    Jika menemukan korban, jangan memasuki area yang masih berbahaya. Setelah berada di lokasi aman, segera minta bantuan medis. WHO menganjurkan penggunaan air mengalir yang sejuk untuk mendinginkan luka bakar, tetapi pendinginan berkepanjangan harus dihindari karena dapat menurunkan suhu tubuh secara berlebihan.

    Jangan mengoleskan pasta gigi atau minyak, menempelkan es, maupun memecahkan lepuh. Tutupi luka secara longgar dengan kain bersih dan segera bawa korban ke fasilitas kesehatan.

    Referensi

    U.S. Geological Survey, “Pyroclastic Flows Move Fast and Destroy Everything in Their Path,” diakses September 2026.

    Damien Wilson Carter, “Burns,” MSD Manual Consumer Version, diakses September 2026.

    Peter J. Baxter et al., “Human Survival in Volcanic Eruptions: Thermal Injuries in Pyroclastic Surges, Their Causes, Prognosis and Emergency Management,” Burns 43, no. 5 (2017): 1051–69, https://doi.org/10.1016/j.burns.2017.01.025.

    Damien Wilson Carter, “Smoke Inhalation,” MSD Manual Consumer Version, updated September 2024, https://www.msdmanuals.com/home/injuries-and-poisoning/burns/smoke-inhalation.

    World Health Organization, “Burns,” diakses September 2026.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More