Centers for Disease Control and Prevention, “Anogenital Warts,” Sexually Transmitted Infections Treatment Guidelines, 2021, diakses September 2026.
Centers for Disease Control and Prevention, “About Genital HPV Infection,” diakses September 2026.
National Health Service, “Genital Warts,” diakses September 2026.
Feixue Wei et al., “Sequential Acquisition of Human Papillomavirus Infection at Genital and Anal Sites, Liuzhou, China,” Emerging Infectious Diseases 26, no. 10 (2020): 2387–93, https://doi.org/10.3201/eid2610.191646.
Tidak Pernah Seks Anal, Mengapa Bisa Muncul Kutil di Anus?

Kutil anus dapat muncul tanpa seks anal karena HPV menular lewat kontak kulit intim tanpa penetrasi; lokasi kutil tidak menentukan aktivitas seksual seseorang.
HPV bisa berpindah dari area genital ke anus melalui sentuhan atau alat bantu seksual. Kutil yang baru terlihat juga dapat berasal dari infeksi lama yang sebelumnya tidak bergejala.
Benjolan anus perlu diperiksa karena tidak selalu kutil. Penanganan dapat berupa obat resep, pembekuan, atau pengangkatan; hindari obat kutil tangan dan kaki pada area genital.
Benjolan kecil di sekitar anus bisa bikin khawatir, terlebih jika dokter mengonfirmasinya sebagai kutil. Bagi orang yang tidak pernah melakukan seks anal, diagnosis ini mungkin memicu pertanyaan kenapa virusnya bisa sampai ke sana?
Faktanya, kutil anus bisa muncul tanpa riwayat seks anal. Kutil di dalam saluran anus pun dapat ditemukan pada laki-laki maupun perempuan yang tidak pernah melakukan kontak seksual anal. Jadi, lokasi kutil tidak bisa menentukan aktivitas seksual seseorang.
Table of Content
1. Penularan HPV tidak selalu membutuhkan penetrasi
Kutil anus termasuk kutil anogenital, yaitu kutil di area kelamin dan anus akibat human papillomavirus (HPV). Sekitar 90 persen kutil anogenital disebabkan HPV tipe 6 atau 11, yang tergolong tipe berisiko rendah terhadap kanker.
HPV dapat berpindah melalui kontak langsung kulit saat aktivitas seksual, termasuk kontak intim tanpa penetrasi. Orang yang membawa virus juga bisa menularkannya walaupun tidak ada kutil yang terlihat.
2. Virus mungkin berpindah dari bagian tubuh yang sudah terinfeksi
Penyebaran kutil dapat terjadi ketika seseorang menyentuh area yang terinfeksi lalu menyentuh bagian tubuh lain. Berbagi alat bantu seksual juga merupakan salah satu jalur penularan.
Sebuah analisis terhadap 1.489 laki-laki dan 2.022 perempuan di Liuzhou, China, menemukan bahwa peserta dengan HPV di area genital lebih mungkin kemudian terdeteksi memiliki HPV tipe yang sama di anus.
Peneliti menduga autoinokulasi, yaitu perpindahan virus ke bagian lain pada tubuh sendiri, ikut berperan. Namun, penelitian ini tidak mencatat riwayat seks anal dan tidak dapat memastikan apakah temuan berikutnya merupakan infeksi baru atau infeksi lama yang sebelumnya tidak terdeteksi.
Selain itu, penelitian tersebut memeriksa infeksi HPV, bukan kemunculan kutil. Hasilnya mendukung kemungkinan jalur penyebaran, tetapi tidak membuktikan cara penularan pada setiap orang.
3. Kutil yang baru terlihat belum tentu berasal dari infeksi baru

ilustrasi virus Human papillomavirus (HPV) (unsplash.com/National Institute of Allergy and Infectious Disease) Gejala HPV dapat muncul bertahun-tahun setelah kontak dengan orang yang membawa virus. Seseorang juga bisa tertular meskipun hanya pernah memiliki satu pasangan seksual.
Karena waktu infeksi sulit dipastikan, munculnya kutil tidak cukup untuk menyimpulkan adanya perselingkuhan atau hubungan seksual yang baru terjadi. Diagnosis ini perlu ditanggapi dengan pemeriksaan dan komunikasi, bukan dugaan, apalagi tuduhan, berdasarkan lokasi benjolan.
4. Periksakan benjolan untuk memastikan penyebabnya
Benjolan di anus tidak selalu kutil. Dokter biasanya menilai bentuk dan lokasinya, serta dapat memeriksa bagian dalam anus. Benjolan yang tampak tidak biasa, keras, berdarah, atau mengalami luka mungkin memerlukan biopsi.
Pengobatan dapat berupa obat oles resep, pembekuan, atau tindakan pengangkatan sesuai kondisi. Jangan memakai obat kutil biasa untuk tangan atau kaki pada area anus dan kelamin.
Kutil dapat diobati, tetapi bisa kambuh. Untuk pencegahan, vaksin HPV yang mencakup tipe penyebab kutil dapat membantu; vaksin tidak mengobati infeksi yang sudah ada. Kondom mengurangi risiko penularan, tetapi tidak menutup seluruh kulit yang mungkin terinfeksi.
Referensi



![[QUIZ] Dari Sinyal Tubuh, Kamu Lebih Butuh Plank, Sit Up, atau Push Up?](https://image.idntimes.com/post/20250305/pexels-maksgelatin-4348653-a8bdf633103f42baecf1db7a242f31a0.jpg)

![[QUIZ] Tebak Risiko Penyakit dari Kebiasaan Kamu Minum Kopi](https://image.idntimes.com/post/20260326/16576_5a2f7a67-3d4e-4672-9881-c5c068073f61.jpg)
![[QUIZ] Apa Trauma Batin yang Diam-Diam Kamu Simpan? Cari Tahu di Sini](https://image.idntimes.com/post/20260119/1000238238_de41ac8b-06a3-4b60-a767-12fdbfce907f.jpg)














