Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Apakah Sinusitis Perlu Dioperasi? Ini Penjelasannya

Apakah Sinusitis Perlu Dioperasi? Ini Penjelasannya
ilustrasi gejala sinusitis (pexels.com/https://kaboompics.com/)
  • Sebagian besar sinusitis tidak butuh operasi, terutama rinosinusitis akut tanpa komplikasi.

  • Operasi terutama dipertimbangkan pada sinusitis kronis yang tetap mengganggu meski sudah mendapat terapi yang sesuai, atau pada kondisi tertentu seperti polip dan fungal ball.

  • Operasi membantu membuka sinus dan mengendalikan penyakit, tetapi bukan jaminan sinusitis hilang selamanya. Sebagian pasien tetap butuh perawatan jangka panjang.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Hidung terus tersumbat, penciuman menurun, wajah terasa penuh, dan keluhan terus kambuh walau sudah pakai obat. Pada titik tertentu, orang yang mengalami sinusitis mulai bertanya-tanya apakah operasi adalah solusinya?

Pedoman terbaru American Academy of Otolaryngology–Head and Neck Surgery Foundation (AAO-HNSF) membedakan penanganan rinosinusitis akut dan kronis. Pada rinosinusitis akut tanpa komplikasi, penanganan umumnya berupa terapi untuk meredakan gejala, observasi pada sebagian kasus, dan antibiotik ditemukan ada infeksi bakteri. Operasi bukan terapi rutin.

  1. Operasi mungkin menjadi solusi pada kasus sinusitis kronis

    Operasi mungkin bisa dipertimbangkan pada kasus rinosinusitis kronis, yaitu peradangan hidung dan sinus yang menetap dalam jangka panjang.

    Sebelum mempertimbangkan operasi, diagnosis rinosinusitis kronis harus dipastikan dengan gejala yang sesuai, serta bukti peradangan melalui pemeriksaan seperti endoskopi hidung atau CT scan. Terapi awal yang direkomendasikan antara lain irigasi hidung dengan larutan saline dan kortikosteroid intranasal.

    Jika gejala tetap mengganggu, dokter THT dapat mulai mempertimbangkan bedah sinus endoskopik (ESS).

    Dokter perlu mempertimbangkan tingkat keparahan gejala, jenis penyakit, dampaknya terhadap kualitas hidup, dan terapi yang sudah dijalani. Operasi ditawarkan jika manfaat yang diperkirakan lebih besar dibandingkan melanjutkan terapi nonoperatif saja.

  2. Ada kondisi yang lebih mungkin mendapat manfaat dari operasi

    Ilustrasi tim medis melakukan operasi bedah sinusitis di ruang operasi dengan pasien terbaring di meja bedah.
    ilustrasi operasi bedah sinusitis (pexels.com/@vidalbalielojrfotografia)

    Operasi bisa menjadi pilihan pada beberapa bentuk rinosinusitis kronis, termasuk sinusitis kronis dengan polip hidung, polip yang menyebabkan erosi tulang, eosinophilic mucin, atau fungal ball.

    Operasi dilakukan melalui lubang hidung menggunakan endoskop untuk membuka jalur sinus dan mengangkat jaringan yang sakit jika diperlukan. Dengan jalur sinus yang lebih terbuka, ventilasi, drainase, dan distribusi obat topikal ke area sinus juga dapat menjadi lebih baik.

    Sebuah uji klinis tahun 2025 melibatkan 514 orang dewasa dengan rinosinusitis kronis yang masih bergejala setelah terapi medis yang sesuai. Pada enam bulan, kelompok yang menjalani bedah sinus endoskopik ditambah terapi intranasal mengalami perbaikan kualitas hidup terkait sinus yang secara signifikan lebih besar dibanding kelompok terapi intranasal dengan plasebo maupun clarithromycin jangka panjang.

    Uji acak sebelumnya terhadap pasien rinosinusitis kronis dengan polip juga menemukan bahwa operasi ditambah terapi medis menghasilkan perbaikan kualitas hidup yang lebih baik daripada terapi medis saja, meskipun penyakit tetap butuh pengelolaan setelah operasi.

  3. Operasi tidak menjamin sinusitis tidak akan kembali

    Rinosinusitis kronis merupakan penyakit inflamasi kronis, sehingga operasi tidak selalu berarti seseorang selesai dengan seluruh pengobatan.

    Sebelum operasi, pasien perlu mengetahui kemungkinan penyakit kambuh, kebutuhan obat jangka panjang, bahkan kemungkinan operasi ulang pada sebagian orang. Tindak lanjut setelah operasi juga diperlukan untuk menilai gejala, kualitas hidup, hasil endoskopi, dan kebutuhan terapi selanjutnya.

    Ada juga situasi ketika operasi dapat menjadi mendesak, yaitu jika sinusitis menimbulkan komplikasi dan infeksi menyebar ke struktur sekitar, misalnya rongga mata. Kondisi semacam ini butuh penanganan rumah sakit dan pada kasus tertentu drainase melalui operasi.

    Jadi, operasi lebih tepat dipertimbangkan ketika diagnosis sudah jelas, penyakit memengaruhi kualitas hidup walaupun terapi sesuai sudah diberikan, dan dokter serta pasien menilai manfaat operasi lebih besar daripada cuma pengobatan.

    Referensi

    Spencer C. Payne et al., “Clinical Practice Guideline: Adult Sinusitis Update,” Otolaryngology–Head and Neck Surgery 173, no. 5 suppl. (2025): S1–S56, https://doi.org/10.1002/ohn.1344.

    Jennifer J. Shin et al., “Clinical Practice Guideline: Surgical Management of Chronic Rhinosinusitis,” Otolaryngology–Head and Neck Surgery 172, suppl. (2025): S1–S47, https://doi.org/10.1002/ohn.1287.

    Carl Philpott et al., “The Clinical Effectiveness of Clarithromycin versus Endoscopic Sinus Surgery for Adults with Chronic Rhinosinusitis with and without Nasal Polyps (MACRO): A Pragmatic, Multicentre, Three-Arm, Randomised, Placebo-Controlled Phase 4 Trial,” The Lancet 406, no. 10506 (2025): 926–939, https://doi.org/10.1016/S0140-6736(25)01248-6.

    Evelijn S. Lourijsen et al., “Endoscopic Sinus Surgery with Medical Therapy versus Medical Therapy for Chronic Rhinosinusitis with Nasal Polyps: A Multicentre, Randomised, Controlled Trial,” The Lancet Respiratory Medicine 10, no. 4 (2022): 337–346, https://doi.org/10.1016/S2213-2600(21)00457-4.

    Matthew R. Vega et al., “Management of Orbital Complications of Acute Rhinosinusitis,” Current Opinion in Otolaryngology & Head and Neck Surgery (2025), https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/40543751/.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More