Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Targetkan Penurunan Angka Kematian Ibu, Deteksi Preeklamsia Diperkuat

Targetkan Penurunan Angka Kematian Ibu, Deteksi Preeklamsia Diperkuat
ilustrasi ibu hamil (IDN Times/Novaya Siantita)
Intinya Sih
  • Kemenkes memperkuat deteksi dini preeklamsia berbasis teknologi untuk menekan angka kematian ibu yang masih tinggi di Indonesia.
  • Pemerintah menargetkan penurunan agresif AKI menjadi 40 per 100.000 kelahiran hidup dalam lima tahun melalui pemerataan akses alat kesehatan.
  • Inovasi IoMT, AI, dan USG arteri meningkatkan akurasi deteksi hingga 50 persen, didukung distribusi 10.000 perangkat ke puskesmas seluruh Indonesia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) memperkuat upaya deteksi dini preeklamsia berbasis teknologi sebagai langkah strategis menekan angka kematian ibu (AKI) di Indonesia.

Preeklamsia merupakan kondisi komplikasi kehamilan serius yang ditandai dengan tekanan darah tinggi dan tanda kerusakan organ setelah usia kehamilan 20 minggu. Ini merupakan kondisi serius dalam kehamilan yang berpotensi membahayakan ibu dan dan bayi. Deteksi dini masih terbatas, padahal kondisi ini menyumbang 26 hingga 30 persen kematian ibu di Indonesia serta meningkatkan risiko kelahiran prematur dan stunting.

Table of Content

Tetapkan target yang agresif

Tetapkan target yang agresif

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa pemerintah menargetkan penurunan AKI secara agresif hingga mencapai 40 per 100.000 kelahiran hidup dalam lima tahun ke depan. Upaya ini didukung transformasi sistem kesehatan, termasuk pemerataan akses deteksi dini melalui distribusi alat kesehatan.

“Kita tidak hanya menargetkan penurunan, tetapi penurunan yang agresif. Dari 140 dalam lima tahun ke depan, kita harus bisa mencapai 40. Kita harus berani menetapkan target ambisius dan bekerja lebih keras, lebih cerdas, serta lebih tepat,” ujarnya mengutip laman resmi Kemenkes.

AKI Indonesia lebih tinggi dibanding Thailand dan Malaysia

Seorang dokter berbicara dengan ibu hamil yang duduk di ruang konsultasi sambil memegang tablet medis.
ilustrasi ibu hamil berkonsultasi dengan dokter (pexels.com/MART PRODUCTION)

Saat ini, angka kematian ibu di Indonesia masih berada pada 140 per 100.000 kelahiran hidup, lebih tinggi dibanding Thailand dan Malaysia. Preeklamsia dan eklamsia menjadi penyebab kematian ibu terbesar kedua, dengan kontribusi sekitar 25 persen dari total kasus.

"Setiap tahun 30.000 orang meninggal. Kalau kita lambat, itu nyawa yang hilang. Jadi fokus saja ke yang paling besar dampaknya. Dan, tugas Menkes itu menjaga masyarakat tetap sehat, bukan hanya mengobati saat sakit. Lebih murah, lebih baik kualitas hidupnya," Menkes Budi mengatakan.

Deteksi dini dengan teknologi

Kemenkes bersama mitra strategis, seperti Queenrides, PT. Tele Cexup Indonesia dan Indonesia Prenatal Institute, menghadirkan inovasi deteksi dini berbasis Internet of Medical Things (IoMT) dan akal imitasi (artificial intelligence/AI) untuk meningkatkan kualitas skrining.

Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas, Maria Endang Sumiwi, menjelaskan bahwa inovasi tersebut kini dilengkapi dengan pemeriksaan ultrasonografi (USG) pada arteri uterina dan arteri oftalmik guna meningkatkan akurasi deteksi.

“Dari hasil awal yang sudah dilakukan, tingkat deteksi meningkat hingga 50 persen. Jika sebelumnya dari empat kasus terdeteksi, dengan tambahan USG ini bisa menjadi enam kasus. Inovasi ini sangat kami sambut baik untuk memperkuat deteksi dini preeklamsia,” kata Maria.

Bukan sekedar isu kesehatan

Ilustrasi seorang wanita hamil tersenyum dengan visualisasi janin di dalam kandungan yang tampak melalui perutnya.
ilustrasi janin, bayi dalam kandungan (IDN Times/NRF)

Founder dan CEO Queenrides, Iim Fahima Jachja, menyebut bahwa persoalan preeklamsia tidak hanya berkaitan dengan aspek klinis, tetapi juga sistem dan akses terhadap teknologi kesehatan.

“Satu fakta yang tidak banyak diketahui, Ibu Kartini meninggal karena preeklamsia, dan itu terjadi satu abad lalu. Hingga hari ini, preeklamsia masih menjadi penyebab kematian terbesar kedua pada ibu hamil di Indonesia. Ini bukan sekadar isu kesehatan, tetapi juga isu sistem dan teknologi yang harus terus diperbaiki untuk melindungi masa depan,” ujar Iim.

Sejak 2022, Kemenkes telah mendistribusikan perangkat USG ke 10.000 puskesmas di seluruh Indonesia guna memastikan layanan deteksi dini dapat diakses secara merata, tidak hanya di perkotaan.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Related Articles

See More