Ginjal bertugas menyaring darah serta membuang sisa metabolisme dan kelebihan cairan melalui urine. Saat fungsinya menurun drastis, berbagai zat yang seharusnya dibuang menumpuk di dalam tubuh. Kondisi klinis akibat akumulasi zat tersebut dan gangguan fungsi tubuh lainnya dikenal sebagai uremia.
Uremia tidak hanya berdampak pada saluran kemih, bisa juga memengaruhi saraf, otak, kulit, jantung, hingga sistem pencernaan. Karena itu, seseorang dapat mengalami mual, ingin muntah, kehilangan selera makan, atau merasa rasa makanan aneh.
Sebuah penelitian terhadap 695 orang dengan penyakit ginjal kronis tahap lanjut menemukan sejumlah metabolit yang berkaitan dengan gejala berupa rasa tidak enak di mulut, kehilangan nafsu makan, mual, dan muntah. Penelitian tersebut menunjukkan hubungan antara penumpukan senyawa tertentu dan gejala uremia, walaupun belum bisa membuktikan bahwa satu zat tertentu menjadi penyebab tunggal.
Penelitian lain yang melibatkan 3.599 pasien penyakit ginjal kronis menemukan beban gejala pencernaan cenderung meningkat ketika estimasi laju filtrasi glomerulus (eGFR) makin rendah. Peningkatan gejala mulai terlihat jelas pada kelompok dengan eGFR di bawah 45 ml/menit/1,73 m². Angka ini memperlihatkan bahwa keluhan pencernaan tidak hanya terjadi pada tahap gagal ginjal paling akhir.
Beberapa keluhan yang dapat muncul meliputi.
Mual atau muntah berulang.
Nafsu makan menurun.
Cepat kenyang atau sulit menghabiskan makanan.
Rasa makanan berubah atau terasa tidak enak.
Berat badan turun tanpa direncanakan.
Keluhan tersebut sangat tidak spesifik. Maag, infeksi, efek samping obat, kehamilan, gangguan hati, dan banyak kondisi lainnya juga dapat menimbulkan gejala yang sama. Jadi, mual saja tidak bisa digunakan untuk menyimpulkan seseorang mengalami gagal ginjal.