Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bedanya Sakit Tenggorokan karena Virus, Bakteri, dan Alergi
ilustrasi sakit tenggorokan (vecteezy.com/Saranyoo Chantawong)
  • Sakit tenggorokan bisa disebabkan oleh virus, bakteri, atau alergi, dan tiap penyebab memiliki gejala serta cara penanganan yang berbeda.
  • Infeksi virus biasanya disertai gejala flu ringan dan sembuh sendiri, sedangkan infeksi bakteri muncul mendadak dengan nyeri berat dan memerlukan antibiotik sesuai resep dokter.
  • Sakit tenggorokan akibat alergi ditandai rasa gatal tanpa demam, sering dipicu alergen seperti debu atau bulu hewan, dan membaik setelah menghindari pemicunya atau memakai obat antihistamin.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Hampir semua orang rasanya pernah sakit tenggorokan. Terdengar sepele, kondisi ini ternyata bisa disebabkan oleh banyak hal, mulai dari infeksi virus, bakteri, hingga reaksi alergi. Karena penyebabnya berbeda, cara mengatasinya pun tidak selalu sama.

Masih banyak orang yang langsung mengonsumsi antibiotik setiap kali tenggorokan terasa sakit. Padahal, antibiotik hanya efektif untuk infeksi bakteri, sama sekali tidak bekerja untuk melawan virus maupun alergi. Itulah sebabnya penting untuk mengenali perbedaan gejalanya agar penanganan yang dilakukan lebih tepat.

Lalu, bagaimana cara membedakan sakit tenggorokan akibat virus, bakteri, dan alergi? Simak penjelasannya berikut ini.

1. Sakit tenggorokan karena virus biasanya disertai gejala flu

Infeksi virus menjadi penyebab paling umum sakit tenggorokan. Virus yang menyebabkan flu biasa, pilek, hingga COVID-19 sering kali memicu peradangan pada tenggorokan.

Gejalanya biasanya muncul secara bertahap. Awalnya, tenggorokan terasa tidak nyaman, kemudian diikuti hidung meler, bersin, batuk, suara serak, mata berair, atau demam ringan. Nyerinya umumnya tidak terlalu berat, meski menelan makanan bisa terasa sedikit tidak nyaman.

Biasanya gejala mencapai puncaknya dalam dua hingga tiga hari, lalu mulai membaik dalam waktu sekitar satu minggu. Sebagian besar penderita akan pulih sepenuhnya dalam satu hingga dua minggu tanpa perlu antibiotik.

Karena penyebabnya adalah virus, pengobatan hanya bertujuan meredakan gejala. Istirahat yang cukup, memperbanyak minum air putih, berkumur dengan air garam hangat, mengisap permen pelega tenggorokan, atau mengonsumsi obat pereda nyeri dapat membantu mempercepat pemulihan.

2. Infeksi bakteri membuat sakit tenggorokan terasa lebih berat

Berbeda dengan infeksi virus, sakit tenggorokan akibat bakteri, terutama bakteri Streptococcus pyogenes penyebab radang tenggorokan streptokokus atau strep throat, biasanya muncul secara mendadak.

Penderitanya sering mengalami nyeri tenggorokan yang cukup hebat, terutama saat menelan. Selain itu, biasanya disertai demam tinggi, sakit kepala, pembengkakan kelenjar getah bening di leher, bahkan mual atau muntah, khususnya pada anak-anak.

Salah satu ciri yang cukup khas adalah munculnya bercak putih atau kekuningan seperti nanah pada amandel. Tenggorokan juga tampak merah dan bengkak. Berbeda dengan infeksi virus, penderita infeksi bakteri umumnya tidak mengalami batuk maupun pilek.

Untuk memastikan diagnosis, dokter akan melakukan pemeriksaan usap tenggorokan atau rapid antigen test khusus streptokokus. Jika hasilnya positif, dokter dapat meresepkan antibiotik, seperti penisilin atau amoksisilin.

Mengonsumsi antibiotik sesuai resep dokter tidak hanya membantu mempercepat penyembuhan, tetapi juga mengurangi risiko penularan dan mencegah komplikasi yang jarang terjadi, seperti demam rematik atau peradangan ginjal.

3. Sakit tenggorokan karena alergi terasa gatal, bukan terlalu nyeri

ilustrasi tenggorokan sakit (magnific.com/Lifestylememory)

Tidak semua sakit tenggorokan disebabkan infeksi. Pada sebagian orang, alergi juga bisa menjadi pemicunya.

Biasanya kondisi ini terjadi ketika seseorang terpapar alergen seperti debu, serbuk sari, bulu hewan peliharaan, atau tungau. Reaksi alergi memicu lendir mengalir dari hidung ke belakang tenggorokan (postnasal drip), sehingga tenggorokan terasa gatal, kering, atau seperti tergores.

Gejala lain yang sering menyertai antara lain mata gatal, bersin-bersin, hidung berair dengan lendir bening, serta suara menjadi serak. Berbeda dengan infeksi, sakit tenggorokan akibat alergi hampir tidak pernah disertai demam. 

Keluhan juga biasanya muncul saat berada di lingkungan tertentu atau pada musim tertentu, kemudian membaik setelah menjauhi pemicunya atau mengonsumsi obat antihistamin. Penanganannya lebih berfokus pada menghindari penyebab alergi, menggunakan obat antihistamin, semprotan hidung kortikosteroid, atau membilas rongga hidung dengan larutan saline untuk mengurangi lendir yang mengiritasi tenggorokan.

4. Kapan harus segera memeriksakan diri ke dokter

Meski sebagian besar sakit tenggorokan bisa sembuh sendiri, tetapi ada beberapa kondisi yang tidak boleh diabaikan.

Segera cari pertolongan medis jika sakit tenggorokan disertai kesulitan bernapas, sulit menelan hingga air liur terus keluar, demam sangat tinggi, nyeri yang makin parah dalam waktu singkat, leher terasa kaku, atau muncul pembengkakan besar di leher.

Selain itu, jika sakit tenggorokan tidak kunjung membaik setelah satu hingga dua minggu, sebaiknya lakukan pemeriksaan untuk mengetahui penyebab pastinya.

5. Kenali polanya agar tidak salah mengobati

Secara umum, sakit tenggorokan akibat virus biasanya disertai batuk, pilek, dan gejala flu lainnya sehingga cukup ditangani dengan perawatan di rumah.

Sementara itu, infeksi bakteri cenderung muncul mendadak, terasa lebih nyeri, disertai demam tinggi dan bercak putih pada amandel sehingga sering membutuhkan antibiotik dari dokter.

Adapun sakit tenggorokan karena alergi lebih sering menimbulkan rasa gatal, berkaitan dengan paparan alergen, dan umumnya membaik setelah menghindari pemicunya atau mengonsumsi obat antialergi.

Demikianlah perbedaan sakit tenggorokan akibat virus, bakteri, dan alergi. Dengan mengenali perbedaannya, kamu bisa menentukan kapan cukup melakukan perawatan mandiri di rumah dan kapan perlu segera memeriksakan diri ke tenaga medis. Jadi, jangan langsung menganggap semua sakit tenggorokan membutuhkan antibiotik, ya.

Referensi

GoodRx. Diakses pada Juli 2026. "How Can You Tell the Difference Between a Viral and Bacterial Sore Throat?"

Health and Me. Diakses pada Juli 2026. "Is Your Sore Throat Viral, Bacterial Or Allergic? Find Out Here."

Medicine Net. Diakses pada Juli 2026. "How Do I Know If My Sore Throat Is Viral or Bacterial?"

Northwest Family Clinic. Diakses pada Juli 2026. "Strep Throat vs. Allergies vs. Viral Sore Throat in Spring."

Curated For You

Editorial Team

Related Article