Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Benarkah Asap Karhutla Bisa Meningkatkan Risiko Demensia?
ilustrasi karhutla (pexels.com/Deep Rajwar)
  • Polusi udara, termasuk paparan PM2.5 jangka panjang, sudah dikaitkan dengan peningkatan risiko demensia.

  • Namun, bukti yang secara khusus menghubungkan PM2.5 dari kebakaran hutan dengan demensia masih belum konsisten.

  • Mengurangi paparan asap tetap penting karena dampaknya terhadap paru-paru, jantung, pembuluh darah, dan otak sudah semakin banyak diketahui.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Efek karhutla yang sering dibahas adalah jangka pendeknya. Misalnya mata perih, tenggorokan tidak nyaman, atau napas terasa lebih berat. Namun, efek jangka panjangnya kini mulai banyak diteliti, salah satunya adalah risiko demensia.

Sebetulnya belum ada cukup bukti untuk mengatakan bahwa asap karhutla secara langsung menyebabkan demensia. Yang lebih pasti, polusi udara secara umum sudah dianggap sebagai faktor yang dapat berkontribusi terhadap penurunan kognitif dan demensia.

Pedoman terbaru Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan memasukkan pengurangan paparan polusi udara sebagai bagian dari upaya menurunkan risiko penurunan kognitif dan demensia.

1. PM2.5 bisa mencapai jauh lebih dalam dari paru-paru

Salah satu komponen utama asap karhutla adalah PM2.5, partikel dengan diameter tidak lebih dari 2,5 mikrometer. Begitu kecil hingga bisa masuk ke paru-paru dan sebagian efeknya dapat meluas ke sistem peredaran darah.

Penelitian mengenai polusi partikulat mengusulkan beberapa mekanisme yang dapat memengaruhi otak, termasuk stres oksidatif, peradangan saraf, gangguan fungsi mitokondria, dan perubahan pada sawar darah-otak.

Paparan PM2.5 jangka panjang secara umum memang telah dikaitkan dengan demensia. Sebuah metaanalisis terhadap puluhan juta peserta menemukan bahwa setiap kenaikan paparan PM2.5 berkaitan dengan peningkatan risiko demensia, meski besarnya hubungan berbeda antarpenelitian.

Namun, PM2.5 berasal dari banyak sumber, seperti kendaraan, industri, pembakaran bahan bakar, hingga kebakaran hutan. Lantas, apakah PM2.5 dari kebakaran hutan (wildfire) atau karhutla memiliki efek yang sama?

2. Ada studi yang menemukan hubungan dengan demensia

Sebuah studi dalam jurnal JAMA Internal Medicine pada 2023 mengikuti 27.857 orang dewasa berusia di atas 50 tahun di Amerika Serikat (AS). Selama rata-rata 10,2 tahun pemantauan, 4.105 peserta mengalami demensia.

Para peneliti memisahkan PM2.5 berdasarkan sumbernya, termasuk lalu lintas, pertanian, pembakaran batu bara, dan kebakaran hutan.

Setelah memperhitungkan polutan dari sumber lain, PM2.5 yang berasal dari kebakaran hutan tetap berkaitan dengan tingkat kejadian demensia yang lebih tinggi. Hubungan yang paling konsisten dalam penelitian tersebut terlihat pada PM2.5 dari pertanian dan kebakaran hutan.

Namun, karena sifatnya observasional, studi tersebut tidak membuktikan bahwa asap kebakaran secara langsung menyebabkan demensia.

3. Tetapi, ada pula studi yang menemukan hasil berbeda

ilustrasi demensia (IDN Times/NRF)

Penelitian dalam jurnal JAMA Neurology menggunakan data lebih dari 1,2 juta orang berusia 60 tahun ke atas di California Selatan, AS.

Dalam analisis yang telah dikoreksi, setiap kenaikan 1 mikrogram per meter kubik pada rata-rata paparan wildfire PM2.5 selama tiga tahun menghasilkan odds ratio 1,12. Namun, rentang kepercayaannya melewati angka 1 sehingga hubungan tersebut tidak signifikan secara statistik.

Ada detail penting di balik penelitian ini. Versi awal studi sempat melaporkan hubungan yang signifikan. Namun, peneliti kemudian menemukan kesalahan dalam kode yang digunakan untuk menentukan siapa yang mengalami demensia. Sebanyak 5.413 orang dengan penyakit Parkinson namun tanpa diagnosis demensia secara keliru masuk sebagai kasus demensia.

Setelah seluruh analisis diperbaiki, hubungan utama antara rata-rata paparan kebakaran hutan PM2.5 dan demensia tidak lagi signifikan. Jurnal kemudian menarik dan mengganti versi awal penelitian tersebut pada Juni 2025.

Temuan lainnya, setiap tambahan satu smoke wave—periode setidaknya dua hari dengan konsentrasi wildfire PM2.5 cukup tinggi—berkaitan dengan peningkatan kecil dalam peluang diagnosis demensia. Namun, hasil ini masih membutuhkan konfirmasi.

4. Asap karhutla juga bisa memengaruhi fungsi otak dalam jangka pendek

Demensia berkembang selama bertahun-tahun sehingga sulit dipelajari. Namun, ada bukti bahwa asap kebakaran hutan dapat memengaruhi fungsi kognitif dalam waktu jauh lebih singkat.

Studi terhadap 10.228 orang dewasa menemukan paparan PM2.5 dan asap kebakaran hutan dalam hitungan jam hingga hari berkaitan dengan penurunan skor pada permainan yang mengukur perhatian. Paparan asap sedang hingga berat juga berhubungan dengan performa yang lebih buruk.

Namun, kesulitan berkonsentrasi sesaat tidak sama dengan demensia. Penelitian ini hanya menunjukkan bahwa fungsi kognitif dapat berubah ketika kualitas udara memburuk dan tidak dapat memprediksi demensia di masa depan.

Jadi, apakah asap karhutla meningkatkan risiko demensia?

WHO telah memasukkan polusi udara sebagai salah satu faktor lingkungan yang berkaitan dengan risiko demensia. Namun, untuk PM2.5 yang secara khusus berasal dari karhutla, hasil penelitian belum seragam.

Itu mungkin terjadi karena karhutla bersifat episodik, komposisi asap berbeda antara satu kebakaran dan lainnya, dan memperkirakan paparan seseorang selama bertahun-tahun tidak mudah.

Dengan kata lain, menghirup asap karhutla tidak otomatis menyebabkan demensia, tetapi belum ada alasan untuk menganggap asap tersebut aman bagi otak.

Ketika kualitas udara memburuk akibat karhutla, mengurangi waktu di luar, menghindari aktivitas berat di tengah asap, menjaga udara dalam ruangan tetap bersih, dan menggunakan respirator partikulat yang sesuai saat harus keluar tetap menjadi langkah penting untuk mengurangi paparan PM2.5.

Referensi

World Health Organization, "Risk Reduction of Cognitive Decline and Dementia: WHO Guidelines, 2nd ed.," diakses Agustus 2026.

H. Hou et al., “Linking Particulate Matter Exposure and Neurological Disorders: Evidence from Epidemiology, Biomarkers and Mechanistic Studies,” NeuroToxicology (2025), https://doi.org/10.1016/j.neuro.2025.103375.

Ehsan Abolhasani et al., “Air Pollution and Incidence of Dementia: A Systematic Review and Meta-analysis,” Neurology 100, no. 2 (2023): e242–e254.

Boya Zhang et al., “Comparison of Particulate Air Pollution From Different Emission Sources and Incident Dementia in the US,” JAMA Internal Medicine 183, no. 10 (2023): 1080–1089, https://doi.org/10.1001/jamainternmed.2023.3300.

Holly Elser et al., “Wildfire Smoke Exposure and Incident Dementia,” JAMA Neurology 82, no. 1 (2025): 40–48, https://doi.org/10.1001/jamaneurol.2024.4058, retracted and replaced June 30, 2025.

Joan A. Casey and Holly Elser, “Notice of Retraction and Replacement. Elser H, et al. Wildfire Smoke Exposure and Incident Dementia,” JAMA Neurology 82, no. 9 (2025): 967–968, https://doi.org/10.1001/jamaneurol.2025.2148.

Stephanie E. Cleland et al., “Short-Term Exposure to Wildfire Smoke and PM2.5 and Cognitive Performance in a Brain-Training Game: A Longitudinal Study of U.S. Adults,” Environmental Health Perspectives 130, no. 6 (2022): 067005, https://doi.org/10.1289/EHP10498.

Curated For You

Editorial Team

Related Article