Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Ban Dibakar saat Demo, Apa yang Terjadi jika Asapnya Terhirup?

Ban Dibakar saat Demo, Apa yang Terjadi jika Asapnya Terhirup?
Massa di depan Gedung DPRD Sumut bakar ban. Massa melakukan protes terhadap anggaran DPR (IDN Times/Prayugo Utomo)
  • Pembakaran ban menghasilkan campuran polutan, termasuk PM2.5, karbon monoksida, sulfur dioksida, dan berbagai senyawa organik hasil pembakaran.

  • Paparan singkat terutama dapat mengiritasi mata dan saluran napas serta memicu batuk, mengi, atau sesak, terutama pada orang dengan asma atau penyakit paru.

  • Masker seperti N95 membantu menyaring partikel, tetapi tidak menyaring gas dan uap berbahaya sehingga menjauh dari kepulan asap tetap menjadi langkah utama.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Ban yang dibakar hingga mengepulkan asap hitam kerap terlihat dalam demonstrasi atau aksi massa. Ketika ban terbakar secara terbuka, proses pembakarannya menghasilkan campuran partikel halus dan berbagai zat kimia. Jika terhirup, polutan tersebut dapat mengiritasi mata dan saluran napas.

Risiko paparan juga bisa meningkat ketika seseorang berada dekat dengan sumber asap dalam waktu lama atau sedang banyak bergerak sehingga bernapas lebih cepat.

  1. 1. Asap ban mengandung lebih dari sekadar partikel hitam

    Dalam sebuah penelitian dalam jurnal Environmental Pollution pada 2026, para peneliti menganalisis PM2.5 selama aksi protes di Beirut, Lebanon, ketika ban dan sebagian sampah digunakan untuk membakar barikade. Pada hari pembakaran, konsentrasi PM2.5 tercatat sekitar 10 kali lebih tinggi dibanding hari-hari aksi tanpa pembakaran.

    Partikel tersebut juga tidak terdiri dari satu bahan saja. Karbon elemental, karbon organik, dan seng menjadi komponen utama. Para peneliti juga menemukan peningkatan berbagai senyawa hasil pembakaran, termasuk polycyclic aromatic hydrocarbons (PAH), dioksin, furan, dan bifenil poliklorinasi (PCB) yang menyerupai dioksin.

    Ada juga temuan serupa. Dalam penelitian kebakaran ban di Iowa, Amerika Serikat. Pengukuran udara menemukan peningkatan karbon monoksida (CO), sulfur dioksida (SO₂), PM2.5, karbon elemental, serta berbagai jenis PAH.

    Studi lain yang dilakukan saat demonstrasi nasional di Quito, Ekuador, juga menemukan bahwa puncak polusi akibat pembakaran barikade dapat melepaskan sejumlah logam yang digunakan dalam pembuatan ban, termasuk seng, kromium, besi, dan timbal.

  2. 2. Partikel halus bisa masuk jauh ke paru-paru

    20251031_143641.jpg
    Aksi bakar ban pada unjuk rasa menuntut pemakzulan Bupati Pati Sudewo di depan Kantor DPRD Pati. (IDN Times/Bandot Arywono)

    Salah satu komponen yang paling perlu diperhatikan adalah PM2.5, yakni partikel berdiameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Karena ukurannya ini partikel dapat masuk jauh ke dalam paru-paru. Sebagian komponen partikulat juga dapat melewati penghalang paru dan masuk ke aliran darah.

    Paparan PM2.5 dalam jangka pendek diketahui berkaitan dengan efek pada sistem pernapasan dan kardiovaskular.

    Dalam situasi paparan asap, gejala awal yang mungkin muncul antara lain mata perih, tenggorokan terasa mengganjal atau terbakar, batuk, mengi, sesak, dan sakit kepala. Orang dengan asma atau penyakit paru lainnya dapat mengalami keluhan yang lebih berat.

    Pada penelitian mengenai kebakaran ban di Iowa, PM, sulfur dioksida, akrolein, dan formaldehida termasuk polutan yang diidentifikasi sebagai iritan penting dalam asap tersebut.

  3. 3. Apakah terpapar sekali bisa menyebabkan kanker?

    Asap pembakaran ban memang dapat mengandung PAH dan senyawa lain yang memiliki sifat mutagenik atau karsinogenik. Penelitian laboratorium sejak 1990-an bahkan menemukan aktivitas mutagenik yang tinggi pada partikel hasil pembakaran terbuka ban.

    Namun, sekali menghirup asap pembakaran ban tidak berarti seseorang akan terkena kanker. Risiko kesehatan bergantung pada banyak hal, termasuk konsentrasi polutan, jarak dari sumber pembakaran, kondisi angin, lamanya paparan, frekuensi paparan, serta kondisi kesehatan seseorang.

    Bukti mengenai kanker dan PAH terutama berasal dari paparan yang lebih tinggi atau berlangsung dalam waktu lama, termasuk paparan pekerjaan.

    Untuk seseorang yang terpapar dalam waktu singkat saat aksi massa, masalah yang lebih langsung adalah iritasi dan gangguan pernapasan akibat asap.

  4. 4. Kalau ada ban terbakar saat demo, apa yang sebaiknya dilakukan?

    Langkah paling efektif adalah mengurangi paparan. Usahakan menjauh dari kepulan asap dan cari area dengan udara yang lebih bersih. Pakai masker bukan alasan untuk tetap berada di depat sumber pembakaran.

    Respirator partikulat seperti N95 dapat membantu mengurangi jumlah partikel yang terhirup jika terpasang dengan baik. Namun, masker ini hanya menyaring partikel dan tidak melindungi dari gas atau uap. Asap pembakaran ban merupakan campuran keduanya. Karena itu, masker bukan pengganti jarak dari sumber asap.

    Orang dengan asma, penyakit paru atau jantung, ibu hamil, anak-anak, dan lansia lebih rentan terhadap efek polusi udara dan perlu lebih membatasi paparan.

    Jika setelah menjauh dari asap muncul sesak yang berat atau memburuk, mengi yang tidak mereda, nyeri dada, kebingungan, pingsan, atau kesulitan bernapas, segera cari pertolongan medis.

    Selain mengganggu pandangan, asap hitam dari ban yang terbakar mengandung campuran partikel dan gas hasil pembakaran yang sebaiknya tidak dihirup terlalu lama.

    Referensi

    Marc Fadel et al., “Effect of Protesting by Burning Barricades on PM2.5: Chemical Composition and Oxidative Potential Evaluation,” Environmental Pollution 397 (2026): 127955, https://doi.org/10.1016/j.envpol.2026.127955.

    Jared Downard et al., “Uncontrolled Combustion of Shredded Tires in a Landfill—Part 1: Characterization of Gaseous and Particulate Emissions,” Atmospheric Environment 104 (2015): 195–204, https://doi.org/10.1016/j.atmosenv.2014.12.059.

    Rasa Zalakeviciute et al., “The Effect of National Protest in Ecuador on PM Pollution,” Scientific Reports 11 (2021): 17591, https://doi.org/10.1038/s41598-021-96868-6.

    World Health Organization, “Air Quality, Energy and Health: Health Impacts,” diakses Agustus 2026.

    Ashish Singh et al., “Uncontrolled Combustion of Shredded Tires in a Landfill—Part 2: Population Exposure, Public Health Response, and an Air Quality Index for Urban Fires,” Atmospheric Environment 104 (2015): 273–283, https://doi.org/10.1016/j.atmosenv.2015.01.002.

    David M. DeMarini et al., “Mutagenicity and Chemical Analysis of Emissions from the Open Burning of Scrap Rubber Tires,” Environmental Science & Technology 28, no. 1 (1994): 136–141.

    National Institute for Occupational Safety and Health, “Respirators and Mask Types and Performance,” diakses Agustus 2026.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More