Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Mengapa Hidung Bisa Meler saat Berlari? Ini Alasannya

Mengapa Hidung Bisa Meler saat Berlari? Ini Alasannya
ilustrasi lari (pexels.com/The Lazy Artist Gallery)
Share Article

Hidung meler ketika berlari sering dianggap sebagai tanda tubuh sedang tidak fit, padahal kondisi ini bisa muncul bahkan ketika seseorang sedang sehat. Saat berlari, sistem pernapasan bekerja lebih aktif untuk memenuhi kebutuhan oksigen, sehingga perubahan kecil di dalam hidung ikut terasa lebih jelas.

Cairan yang keluar biasanya bening dan muncul selama atau sesaat setelah berolahraga. Kenapa hidung bisa meler saat berlari? Apa yang sebenarnya terjadi pada saluran pernapasan sehingga aktivitas fisik bisa membuat hidung terus berair?

  1. 1. Hidung meningkatkan produksi lendir untuk menjaga saluran pernapasan

    ilustrasi hidung
    ilustrasi hidung (unsplash.com/Brittany Colette)

    Ketika berlari, frekuensi dan kedalaman napas meningkat sehingga lebih banyak udara melewati rongga hidung. Udara yang masuk perlu dihangatkan dan dilembapkan sebelum mencapai saluran pernapasan yang lebih dalam. Rongga hidung memiliki lapisan mukosa (selaput lendir yang melapisi berbagai rongga tubuh yang terhubung dengan lingkungan luar, seperti saluran pencernaan, pernapasan, dan rongga mulut) yang memang bertugas menjaga permukaan tersebut tetap lembap sekaligus membantu menangkap debu dan partikel asing.

    Peningkatan aliran udara dapat membuat mukosa hidung bekerja lebih aktif dan menghasilkan lebih banyak sekret (cairan yang diproduksi dan dikeluarkan oleh sel atau kelenjar di dalam tubuh). Cairan inilah yang kemudian terasa sebagai hidung meler saat berlari. Kondisi tersebut dikenal sebagai exercise-induced rhinitis atau rinitis akibat olahraga. Berbeda dari pilek karena infeksi, cairan pada kondisi ini umumnya bening dan tidak disertai tanda khas infeksi seperti demam atau badan terasa sakit. Pada sebagian orang, keluhan juga dapat bertahan beberapa saat setelah olahraga selesai sebelum produksi cairan kembali seperti biasa.

  2. 2. Aktivitas fisik dapat mengubah kerja pembuluh darah di dalam hidung

    ilustrasi lari
    ilustrasi lari (pexels.com/RUN 4 FFWPU)

    Rongga hidung bukan sekadar saluran untuk keluar-masuknya udara. Di dalamnya terdapat banyak pembuluh darah yang membantu mengatur suhu dan kelembapan udara sebelum udara diteruskan ke paru-paru. Ketika seseorang berolahraga, perubahan aliran darah dan aktivitas saraf otonom dapat memengaruhi jaringan di dalam hidung.

    Perubahan tersebut dapat membuat jaringan hidung membengkak atau meningkatkan produksi sekret pada sebagian orang. Akibatnya, selain hidung berair, beberapa orang justru merasakan hidung tersumbat selama atau setelah berlari. Responsnya dapat berbeda pada setiap orang karena sensitivitas mukosa hidung juga tidak sama. Jadi, munculnya cairan dari hidung saat olahraga bukan semata-mata karena “kebanyakan bernapas”, tetapi berkaitan dengan respons fisiologis saluran hidung terhadap aktivitas fisik.

  3. 3. Udara dingin dan alergen bisa membuat reaksinya semakin kuat

    ilustrasi asap
    ilustrasi asap (unsplash.com/Pawel Czerwinski)

    Rinitis akibat olahraga lebih mudah muncul ketika seseorang berlari di lingkungan dengan udara dingin atau kering. Udara seperti ini memberi beban tambahan pada hidung karena harus lebih banyak mengatur suhu dan kelembapan udara yang masuk. Angin yang langsung mengenai wajah juga dapat membuat permukaan mukosa lebih cepat kehilangan kelembapan, sehingga tubuh merespons dengan meningkatkan cairan di dalam hidung.

    Selain kondisi udara, lingkungan tempat berlari juga perlu diperhatikan. Serbuk sari, debu, asap kendaraan, dan polutan lain dapat mengiritasi saluran hidung atau memicu reaksi alergi pada orang yang sensitif. Jika hidung meler disertai bersin berulang, hidung terasa gatal, mata berair, atau keluhan muncul setiap kali berlari di lokasi tertentu, alergi atau rinitis yang sudah ada sebelumnya bisa ikut berperan. Hidung meler saat berlari umumnya tidak berbahaya, tetapi keluhan yang terus muncul dan disertai sesak napas, batuk berat, atau gangguan aktivitas sebaiknya tidak dianggap sebagai bagian biasa dari olahraga dan perlu diperiksa untuk mengetahui penyebabnya.

    Hidung bisa meler saat berlari adalah hal yang wajar. Meski begitu, kalau keluhan ini muncul setiap kali berlari, maka bukan berarti kamu harus berhenti berolahraga. Coba perhatikan kapan hidung mulai berair dan bagaimana kondisi lingkungan saat itu, karena informasi sederhana tersebut bisa membantu membedakan respons hidung akibat olahraga dengan keluhan yang dipicu alergi atau iritasi.

    Referensi

    "Why Your Nose Runs During Exercise (and How to Prevent It)" Peloton. Diakses pada Agustus 2026.

    "Can Exercise Cause Rhinitis?" Healthline. Diakses pada Agustus 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More