Raj P. Fadadu, Barbara Grimes, Nicholas P. Jewell, et al., “Association of Wildfire Air Pollution and Health Care Use for Atopic Dermatitis and Itch,” JAMA Dermatology 157, no. 6 (2021): 658–666, doi:10.1001/jamadermatol.2021.0179.
U.S. Environmental Protection Agency, “Wildfire Smoke—A Complex Mixture,” diakses Agustus 2026.
Ling Chao, Bin Feng, Haiyan Liang, Xiangmei Zhao, and Jie Song, “Particulate Matter and Inflammatory Skin Diseases: From Epidemiological and Mechanistic Studies,” Science of the Total Environment 905 (2023): 167111, doi:10.1016/j.scitotenv.2023.167111.
Raj P. Fadadu, Marcus Green, Nicholas P. Jewell, Barbara Grimes, Jason Vargo, and Maria L. Wei, “Association of Exposure to Wildfire Air Pollution With Exacerbations of Atopic Dermatitis and Itch Among Older Adults,” JAMA Network Open 5, no. 10 (2022): e2238594, doi:10.1001/jamanetworkopen.2022.38594.
U.S. Environmental Protection Agency, “Reduce Your Smoke Exposure,” diakses Agustus 2026.
American Academy of Dermatology, “Atopic Dermatitis: Skin Care,” diakses Agustus 2026.
American Academy of Dermatology, “How Climate Change and Wildfire Smoke Can Impact the Skin,” diakses Agustus 2026.
Asap Karhutla Bisa Bikin Eksim Kambuh dan Kulit Makin Gatal

Paparan polusi udara akibat kebakaran hutan dikaitkan dengan meningkatnya kekambuhan dermatitis atopik atau eksim dan keluhan gatal.
PM2.5 dan polutan lain dapat mengganggu lapisan pelindung kulit serta memicu stres oksidatif dan peradangan.
Mengurangi paparan asap dan menjaga lapisan pelindung kulit dapat membantu, tetapi belum ada cara khusus yang terbukti mencegah kekambuhan eksim akibat asap karhutla.
Ketika kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyelimuti udara, biasanya yang paling dikhawatirkan adalah paru-paru. Namun, kulit adalah bagian tubuh yang terus terpapar lingkungan.
Bagi orang dengan dermatitis atopik atau eksim, periode udara penuh asap bahkan dapat bertepatan dengan kulit yang makin kering, merah, dan gatal. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa ini bukan sekadar kebetulan.
Table of Content
1. Saat asap meningkat, kunjungan karena eksim ikut meningkat
Salah satu bukti paling menarik datang dari kebakaran Camp Fire di California, Amerika Serikat, pada 2018.
Penelitian dari kebakaran Camp Fire di California, Amerika Serikat (AS) menganalisis 8.049 kunjungan dermatologi dari 4.147 pasien sebelum, selama, dan setelah kebakaran. Selama dua minggu kebakaran, rata-rata konsentrasi PM2.5 di San Francisco meningkat sekitar sembilan kali lipat.
Pada periode tersebut, tingkat kunjungan karena dermatitis atopik meningkat sekitar 49 persen pada pasien anak dan 15 persen pada pasien dewasa dibanding minggu tanpa kebakaran. Setiap kenaikan rata-rata mingguan PM2.5 sebesar 10 mikrogram per meter kubik juga dikaitkan dengan peningkatan sekitar 7,7 persen kunjungan anak karena keluhan gatal.
Namun, penelitian ini bersifat observasional, sehingga tidak membuktikan PM2.5 menjadi satu-satunya penyebab kekambuhan.
2. Kenapa asap bisa memicu masalah kulit?

ilustrasi kulit gatal (pexels.com/Towfiqu barbhuiya) Asap karhutla merupakan campuran berbagai polutan, termasuk gas, senyawa organik, dan particulate matter (PM). Salah satu yang paling diperhatikan adalah PM2.5, partikel dengan diameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil.
Kulit sebenarnya memiliki lapisan pelindung yang membantu mempertahankan kelembapan sekaligus menghalangi iritan dari lingkungan. Pada dermatitis atopik, fungsi lapisan tersebut sudah terganggu.
Tinjauan ilmiah dalam jurnal Science of the Total Environment menemukan bahwa paparan particulate matter dikaitkan dengan gangguan fungsi pelindung kulit, stres oksidatif, dan proses peradangan. Ketiganya diperkirakan berperan dalam hubungan antara polusi udara dan penyakit kulit inflamasi.
Sederhananya, kulit dengan eksim sudah memiliki pertahanan yang kurang optimal. Paparan polutan dari lingkungan berpotensi memberi beban tambahan sehingga kulit lebih mudah meradang dan terasa gatal.
Meski demikian, mekanismenya belum sepenuhnya dipahami dan komposisi asap dari satu kebakaran dapat berbeda dengan kebakaran lainnya.
3. Lansia tampaknya lebih rentan mengalami gatal
Penelitian lanjutan terhadap kebakaran yang sama menemukan, di antara orang berusia 65 tahun ke atas, tingkat kunjungan karena gatal selama minggu terjadinya kebakaran sekitar 1,6 kali dibanding minggu tanpa kebakaran. Kunjungan karena dermatitis atopik pada kelompok ini sekitar 1,4 kali lebih tinggi.
Diduga, kulit pada lansia lebih rentan karena penuaan juga memengaruhi kelembapan, keasaman, kehilangan air, dan fungsi lapisan pelindung kulit.
4. Apa yang bisa dilakukan saat udara penuh asap?

Karhutla di Desa Pengalaman Kec Marapura Barat Kabupaten Banjar, Jumat (21/8/2026). Foto KLHK Langkah pertama adalah mengurangi paparan asap sebanyak mungkin. Ketika kualitas udara buruk, kamu disarankan berada di dalam ruangan dengan pintu dan jendela tertutup serta menggunakan penyaring udara jika tersedia. Jika harus keluar, respirator N95 yang terpasang dengan baik dapat mengurangi paparan partikel halus.
Untuk kulit dengan eksim, tetap jalankan perawatan dasar. Mandi singkat menggunakan air hangat suam-suam kuku, memilih produk nonpewangi, serta oleskan pelembap berbentuk krim atau salep setelah mandi dan ketika kulit terasa kering.
Jika eksim memburuk hingga mengganggu tidur, kulit terasa sangat nyeri, muncul luka terbuka atau tanda infeksi seperti nanah dan kerak kekuningan, atau pengobatan yang biasa digunakan tidak lagi mengendalikan gejala, pemeriksaan dokter diperlukan.
Referensi




![[QUIZ] Mau Tahu Jenis Kronotipe Tidur Kamu? Jawab 12 Pertanyaan Ini](https://image.idntimes.com/post/20260822/gambar-artikel-90_62bcda34-1f45-442a-acf2-42109b179116.png)


![[QUIZ] Kami Tahu Jenis Plank yang Paling Cocok Buat Kamu](https://image.idntimes.com/post/20260514/1000000974_527de4ae-f27a-4997-8ca1-b3385c1cef0d.jpg)

![[QUIZ] Apakah Easy Run Kamu Benar-Benar Easy? Cek di Sini!](https://image.idntimes.com/post/20260714/upload_fb55bb03ef8e096afd1d12b06f081ef9_8b5cfdf7-0ac7-4ed9-a9bc-2057765b9daa.png)











