Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Denyut Jantung Tetap Tinggi setelah Berhenti Lari?

Kenapa Denyut Jantung Tetap Tinggi setelah Berhenti Lari?
ilustrasi detak jantung (pexels.com/ahmed akeri)
Share Article

Sudah berhenti berlari, tetapi detak jantung masih terasa kencang? Kondisi denyut jantung tetap tinggi setelah berhenti lari bisa membuat orang bertanya-tanya. Terutama ketika napas mulai kembali teratur sementara jantung masih bekerja lebih cepat dari biasanya.

Padahal, berhentinya gerakan kaki tidak berarti seluruh kerja tubuh ikut berhenti pada saat yang sama. Kalau kamu sering mengalami hal ini setelah berlari, ada penyebab yang cukup masuk akal di baliknya. Simak di bawah ini, yuk!

  1. 1. Jantung belum langsung kembali ke kondisi istirahat

    ilustrasi  jantung
    ilustrasi jantung (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)

    Ketika berlari, jantung bekerja lebih cepat karena otot membutuhkan pasokan darah dan oksigen dalam jumlah lebih besar. Semakin berat lari yang dilakukan, semakin besar pula kerja jantung untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Begitu kamu berhenti, kebutuhan itu memang mulai berkurang, tetapi tidak langsung kembali ke tingkat sebelum berolahraga.

    Otot yang baru saja digunakan masih membutuhkan oksigen dan energi untuk menyelesaikan pekerjaannya. Sirkulasi darah juga masih berada pada kondisi yang berbeda dibandingkan saat kamu duduk santai. Karena itu, denyut jantung biasanya turun sedikit demi sedikit setelah lari, bukan langsung kembali ke angka normal seperti sebelum berolahraga.

    Kecepatan penurunannya pun bisa berbeda pada setiap orang. Setelah lari santai, jantung mungkin terasa lebih cepat hanya untuk beberapa saat, sedangkan setelah berlari dengan kecepatan tinggi atau menempuh jarak jauh, denyut jantung dapat bertahan lebih tinggi lebih lama. Jadi, merasakan jantung masih berdebar ketika baru saja berhenti berlari tidak selalu berarti ada masalah pada jantung.

  2. 2. Langsung berhenti setelah lari membuat tubuh perlu beradaptasi

    ilustrasi jalan kaki
    ilustrasi jalan kaki (pexels.com/Adones Bentulan)

    Ada alasan mengapa berjalan santai setelah berlari sering dianjurkan daripada langsung berhenti dan berdiri diam. Saat kaki masih bergerak, otot tungkai membantu mengembalikan darah dari bagian bawah tubuh menuju jantung. Ketika gerakan dihentikan mendadak, tubuh perlu menyesuaikan kembali sirkulasi darah setelah sebelumnya bekerja cukup keras.

    Itulah sebabnya beberapa orang justru merasa agak tidak nyaman ketika langsung berhenti setelah berlari. Misalnya, kepala terasa ringan atau tubuh seperti kehilangan tenaga. Bukan berarti setiap kejadian seperti itu pasti disebabkan oleh berhenti mendadak, tetapi perubahan posisi dan aktivitas yang terlalu cepat memang dapat memengaruhi aliran darah untuk sementara.

    Berjalan selama beberapa menit setelah mencapai garis akhir bisa menjadi cara sederhana untuk mengakhiri lari. Kecepatannya tidak perlu tinggi, cukup perlahan sampai napas dan denyut jantung mulai turun. Setelah itu, kamu bisa berhenti dan beristirahat tanpa membuat perubahan aktivitas terasa terlalu mendadak.

  3. 3. Intensitas lari, kebugaran, dan kondisi tubuh ikut berpengaruh

    ilustrasi lari
    ilustrasi lari (pexels.com/RUN 4 FFWPU)

    Denyut jantung setelah lari tidak hanya ditentukan oleh berapa lama kamu berlari. Kecepatan lari, jarak tempuh, kondisi cuaca, tingkat kebugaran, hingga kondisi tubuh pada hari itu dapat membuat respons jantung berbeda. Lari yang terasa ringan pada satu hari juga belum tentu terasa sama ketika kamu kurang tidur, belum cukup minum, atau berlari di tengah cuaca panas.

    Kondisi tubuh juga menjadi alasan mengapa denyut jantung seseorang tidak bisa dibandingkan begitu saja dengan orang lain. Orang yang sudah terbiasa melakukan latihan aerobik umumnya mengalami penurunan denyut jantung yang lebih cepat setelah olahraga dibandingkan dengan orang yang baru mulai berlatih. Meski begitu, satu kali pengukuran setelah lari belum cukup untuk menilai kebugaran seseorang.

    Asupan cairan juga patut diperhatikan, terutama setelah berlari cukup lama atau mengeluarkan banyak keringat. Kekurangan cairan dapat membuat jantung bekerja lebih keras untuk mempertahankan aliran darah ke seluruh tubuh. Karena itu, jangan menunggu sampai merasa sangat haus untuk mulai memperhatikan kebutuhan cairan selama aktivitas fisik.

    Kondisi denyut jantung tetap tinggi setelah berhenti lari pada dasarnya merupakan hal yang dapat terjadi karena tubuh memang membutuhkan waktu untuk beralih dari kondisi aktif ke istirahat. Selama denyutnya berangsur turun dan tidak disertai keluhan yang mengkhawatirkan, kondisi tersebut umumnya tidak perlu membuat panik.

    Meski begitu, jika jantung tetap berdebar sangat cepat dalam waktu lama, terasa tidak beraturan, atau muncul bersama nyeri dada, sesak napas, pusing berat, atau sampai kehilangan kesadaran, keluhan tersebut sebaiknya tidak dianggap sebagai efek biasa setelah olahraga dan perlu diperiksakan.

    Referensi

    "How Long Does Your Heart Rate Stay Elevated After Exercise?" Health Central. Diakses pada Agustus 2026.

    "Pathophysiology of Exercise Heart Rate Recovery: A Comprehensive Analysis." Annals of Noninvasive Electrocardiology. Diakses pada Agustus 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More