Berbuka puasa dengan gorengan sudah menjadi kebiasaan banyak orang saat Ramadan. Mulai dari bakwan, tahu isi, hingga risoles sering menjadi pilihan pertama untuk membatalkan puasa. Namun, apakah kebiasaan ini sebenarnya sehat bagi tubuh?
Dokter penyakit dalam konsultan endokrinologi metabolik dan diabetes, dr. Waluyo Dwi Cahyono, Sp.PD-KEMD, mengatakan bahwa gorengan sebenarnya boleh dikonsumsi saat berbuka puasa, selama porsinya tidak berlebihan. Menurutnya, masalah utama bukan pada jenis makanannya, melainkan jumlah yang dikonsumsi.
"Yang berdampak itu kalau porsinya berlebihan. Gorengan itu kita tahu isinya karbohidrat, dan kalau berlebih tentu bisa menyebabkan gula darah naik,” ujar dr. Waluyo saat ditemui IDN Times dalam acara Halodoc Talks Episode 2 di Jakarta, Selasa (10/3/2026).
Selain tinggi karbohidrat, gorengan juga mengandung minyak yang belum tentu kualitasnya baik. Ia menjelaskan bahwa masyarakat sering tidak mengetahui jenis minyak dan metode yang digunakan untuk menggoreng, termasuk kemungkinan adanya lemak trans yang bisa berdampak buruk bagi kesehatan jika dikonsumsi berlebihan.
Meski begitu, dr. Waluyo menegaskan bahwa gorengan tidak harus sepenuhnya dihindari saat berbuka puasa.
"Bukan berarti kalau berbuka nggak boleh pakai gorengan, boleh saja. Hanya saja komposisinya mostly karbohidrat dan lemak,” jelasnya.
Ia menyarankan agar menu berbuka tetap memperhatikan keseimbangan gizi. Idealnya, makanan yang dikonsumsi mengandung empat komponen utama, yaitu karbohidrat, protein, lemak, dan vitamin agar kebutuhan nutrisi tubuh tetap terpenuhi.
Selain itu, dr. Waluyo juga mengingatkan agar gorengan tidak langsung dikonsumsi dalam jumlah banyak hingga membuat kenyang. Menurutnya, tujuan utama berbuka puasa adalah sekadar membatalkan puasa sebelum melanjutkan dengan makanan utama yang lebih bergizi.
Ia juga menekankan pentingnya makan secara mindful saat berbuka puasa.
"Lambung itu sebaiknya ada tiga bagian: makanan, air, dan udara. Jadi jangan sampai isinya makanan semua,” ujarnya.
Karena itu, ia mengingatkan agar masyarakat tetap menjaga porsi makan, mengingat kasus gangguan pencernaan sering meningkat menjelang Lebaran.
