Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mengenal Campylobacter, Bakteri yang Memicu Infeksi Pencernaan
ilustrasi bakteri Campylobacter (commons.wikimedia.org/CDC)
  • Campylobacter adalah bakteri penyebab gastroenteritis yang masuk lewat makanan atau minuman terkontaminasi, tanpa selalu mengubah tampilan maupun rasa makanan.
  • Sumber utama mencakup ayam, daging, susu tidak dipasteurisasi, air tercemar, serta kontaminasi silang dari tangan dan peralatan dapur yang menangani bahan mentah.
  • Gejalanya meliputi diare, demam, mual, muntah, dan kram perut; jaga cairan, lalu periksakan diri bila parah, berkepanjangan, berdarah, atau menunjukkan dehidrasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Infeksi pencernaan sering kali dianggap sepele, apalagi ketika keluhannya hanya berupa diare, sakit perut, atau mual yang biasanya dikira akibat salah makan. Padahal, ada bakteri bernama Campylobacter yang dapat masuk ke tubuh melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi dan memicu gangguan pada saluran pencernaan. Bakteri ini bahkan termasuk salah satu penyebab umum gastroenteritis bakteri yang perlu dikenali.

Campylobacter bisa ditemukan pada makanan yang terkontaminasi, terutama makanan hewani yang tidak diolah dengan baik. Saat masuk ke tubuh, bakteri ini bisa menyebabkan berbagai keluhan yang cukup mengganggu, seperti diare, demam, dan kram perut. Lantas, apa sebenarnya Campylobacter, bagaimana bakteri ini bisa masuk ke tubuh, dan apa saja gejala yang perlu dikenali? Yuk, simak penjelasannya berikut ini!

1. Campylobacter adalah bakteri yang bisa menyerang pencernaan

ilustrasi bagian perut terasa sakit (magnific.com/8photo)

Pernah merasa perut tiba-tiba mulas dan bolak-balik ke toilet setelah makan sesuatu? Ini bisa jadi akibat infeksi oleh bakteri Campylobacter yang menyerang saluran pencernaan dan menyebabkan gastroenteritis. Bakteri ini cukup sering ditemui dan dapat menyebabkan gejala seperti diare, sakit perut, hingga demam.

Sebenarnya, Campylobacter bukanlah bakteri yang membuat makanan terlihat atau terasa aneh, lho. Oleh karena itu, seseorang mungkin tidak menyadari kalau telah mengonsumsi makanan yang terkontaminasi. Infeksi bisa terjadi ketika bakteri masuk ke tubuh melalui makanan atau minuman yang sudah tercemar.

2. Makanan hewani bisa menjadi salah satu sumber Campylobacter

ilustrasi daging ayam yang kondisi kulitnya masih fresh (freepik.com/azerbaijan_stockers)

Ketika berbicara mengenai sumber Campylobacter, makanan hewani sangat penting untuk diperhatikan. Bakteri ini dapat ditemukan pada ayam, daging, susu yang tidak dipasteurisasi, serta makanan lain yang terkena kontaminasi. Risiko tersebut bisa meningkat kalau makanan tidak dimasak dengan baik atau penanganannya kurang higienis.

Kontaminasi juga dapat terjadi secara tidak sengaja di dapur, misalnya saat alat yang digunakan untuk mengolah daging mentah digunakan kembali untuk makanan yang sudah siap santap. Bakteri dari bahan-bahan mentah tersebut dapat berpindah ke makanan lain dan dapat masuk ke tubuh. Jadi, ini bukan hanya soal makanan mentah, tetapi juga tentang cara mengolah dan menjaga kebersihan di dapur, yang sangatlah penting, lho!

3. Diare menjadi salah satu gejala yang paling sering muncul

ilustrasi sakit perut (freepik.com/diana.grytsku)

Setelah seseorang terpapar Campylobacter, biasanya tubuh mulai menunjukkan beberapa gejala yang mudah dikenali. Diare merupakan salah satu tanda yang sering ditemui, dan dalam beberapa kasus bisa juga disertai demam, mual, muntah, serta kram atau nyeri perut. Gejala ini pasti membuat aktivitas sehari-hari menjadi tidak nyaman, terlebih lagi kalau harus bolak-balik ke toilet.

Gejala biasanya muncul beberapa hari setelah seseorang terinfeksi bakteri tersebut, meskipun waktunya bisa berbeda pada setiap orang. Dalam beberapa kondisi, diare juga bisa mengandung darah yang menandakan adanya infeksi yang lebih serius. Kalau rasa tidak nyaman semakin parah atau tidak kunjung membaik, sebaiknya tidak hanya dianggap sebagai dampak dari pola makan yang normal.

4. Penularan Campylobacter bisa terjadi lewat makanan dan air yang tercemar

ilustrasi bahan makanan (magnific.com/freepik)

Campylobacter dapat menyebar ketika seseorang mengonsumsi makanan atau minuman yang telah terkontaminasi oleh bakteri. Kontaminasi ini bisa terjadi sejak bahan pangan diproses, mulai dari proses pengolahan bahan makanan, penyimpanan, hingga saat makanan disiapkan di rumah. Bahkan, tangan yang belum dicuci setelah menyentuh bahan mentah juga dapat berfungsi sebagai saluran penularan bakteri.

Risiko akan meningkat kalau pengolahan makanan mentah dan matang dilakukan dengan alat yang sama tanpa dibersihkan terlebih dahulu. Oleh karena itu, kebiasaan sederhana seperti mencuci tangan dan memisahkan bahan mentah dari makanan yang siap disajikan memiliki peran yang sangat penting. Meskipun terlihat sepele, tindakan kecil ini bisa membantu menurunkan kemungkinan terjadinya infeksi.

5. Sebagian besar kasus dapat membaik, tetapi tetap perlu diperhatikan

ilustrasi istirahat yang cukup (freepik.com/freepik)

Dalam banyak situasi, infeksi Campylobacter biasanya dapat sembuh dengan sendirinya dalam waktu beberapa hari hingga sekitar satu minggu. Yang paling penting adalah memastikan tubuh terhindar dari dehidrasi karena gejala seperti diare dan muntah dapat menyebabkan kehilangan banyak cairan. Selain itu, istirahat yang cukup juga berkontribusi dalam proses pemulihan.

Walau begitu, infeksi ini tidak boleh dianggap sepele, ya. Diare yang parah bisa menyebabkan dehidrasi yang berisiko tinggi, terutama pada anak-anak, orang tua, atau orang dengan masalah kesehatan tertentu. Apabila gejala sangat berat, berlangsung lama, atau terdapat tanda seperti darah pada tinja serta dehidrasi, sebaiknya segera melakukan pemeriksaan medis.

6. Menjaga kebersihan makanan jadi langkah penting untuk mencegah infeksi

ilustrasi membersihkan dapur (magnific.com/jcomp)

Mencegah infeksi Campylobacter dapat dimulai dengan kebiasaan-kebiasaan sederhana di dapur. Penting untuk memastikan bahwa daging, khususnya dari unggas, dimasak hingga matang dan hindari mengonsumsi susu yang belum melalui proses pasteurisasi. Selain itu, mencuci tangan sebelum makan dan setelah memegang bahan mentah sangat dianjurkan untuk mencegah perpindahan bakteri.

Peralatan masak serta area dapur sebaiknya dibersihkan setelah digunakan untuk menyiapkan bahan mentah. Pastikan juga untuk menyimpan makanan dengan cara yang tepat agar tidak mudah terkontaminasi saat disimpan di dalam kulkas atau tempat penyimpanan. Kebiasaan-kebiasaan kecil seperti ini bisa menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan pencernaan.

Mengenal Campylobacter penting agar kita gak menganggap sepele gangguan pencernaan yang muncul setelah mengonsumsi makanan tertentu. Menjaga kebersihan tangan, mengolah makanan hingga matang, dan memperhatikan kebersihan saat memasak bisa membantu menurunkan risiko infeksi. Jadi, mulai lebih cermat memilih dan mengolah makanan supaya pencernaan tetap nyaman setiap hari.

Referensi

“Foodborne Campylobacter: Infections, Metabolism, Pathogenesis and Reservoirs.” International Journal of Environmental Research and Public Health. Diakses September 2026.

“Global Epidemiology of Campylobacter Infection.” Clinical Microbiology Reviews. Diakses September 2026. “Campylobacter spp. as a Foodborne Pathogen: A Review.” Frontiers in Microbiology. Diakses September 2026.

“Review on Major Food-Borne Zoonotic Bacterial Pathogens.” Microorganisms. Diakses September 2026.

“A Systematic Review and Meta-analysis on the Incubation Period of Campylobacteriosis.” Epidemiology and Infection. Diakses September 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article