Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Daftar Gejala Infeksi Virus Zika yang Perlu Dikenali
ilustrasi ruam pada orang yang terinfeksi virus Zika (cdc.gov/ID: 21385)
  • Sebagian besar orang yang terinfeksi virus Zika tidak mengalami gejala.

  • Jika muncul, gejala yang khas meliputi ruam, demam, nyeri sendi, mata merah, sakit kepala, dan nyeri otot.

  • Gejala Zika menyerupai dengue dan chikungunya sehingga tidak cukup untuk memastikan diagnosis tanpa pemeriksaan medis dan, bila diperlukan, tes laboratorium.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Infeksi virus Zika sering kali tidak membuat seseorang tampak sakit. Tidak ada demam tinggi berkepanjangan atau kondisi yang selalu membuat penderitanya harus berbaring di rumah sakit. Justru, salah satu tantangan mengenali Zika adalah gejalanya yang cenderung ringan, atau bahkan tidak ada gejala sama sekali.

Diperkirakan sekitar 80 persen orang yang terinfeksi Zika tidak mengalami gejala. Pada orang yang bergejala, keluhan biasanya muncul sekitar 3–14 hari setelah infeksi dan berlangsung selama beberapa hari hingga sekitar satu minggu. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut durasinya umumnya 2–7 hari.

1. Ruam kulit

Ruam merupakan salah satu tanda yang paling menonjol pada infeksi Zika. Biasanya berupa ruam makulopapular, yaitu bercak kemerahan dengan bagian yang dapat sedikit menonjol pada kulit.

Bahkan, sebuah tinjauan sistematis terhadap 73 penelitian mengenai manifestasi Zika pada orang dewasa menemukan bahwa ruam atau exanthema dilaporkan pada sekitar 89 persen kasus terkonfirmasi.

Studi terhadap 57 pasien dengan Zika yang dikonfirmasi menggunakan rRT-PCR di Rio de Janeiro juga menemukan ruam pada 98 persen pasien. Namun, menurut peneliti angka tersebut mungkin dipengaruhi pemilihan pasien yang datang ke fasilitas kesehatan karena mengalami ruam sehingga tidak bisa dianggap sebagai angka kejadian pada semua orang yang terinfeksi.

2. Demam

Zika dapat menyebabkan demam, tetapi umumnya ringan dan tidak selalu muncul.

Dalam penelitian di Rio de Janeiro, sekitar 67 persen pasien mengalami demam. Di antara pasien yang suhu tubuhnya diperiksa di klinik, median suhu tercatat 38 derajat Celsius.

Karena itu, seseorang tidak harus mengalami demam tinggi untuk dicurigai mengalami infeksi Zika.

3. Nyeri sendi

ilustrasi nyeri sendi (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)

Nyeri sendi atau artralgia dapat muncul bersama rasa tidak nyaman atau pembengkakan pada sendi.

Sebuah tinjauan sistematis menemukan nyeri sendi pada sekitar 63 persen kasus Zika terkonfirmasi yang memiliki data mengenai gejala tersebut.

Meski demikian, nyeri sendi juga sangat umum pada chikungunya. Pada chikungunya, nyeri dapat lebih berat dan pada sebagian orang berlangsung selama berbulan-bulan, sehingga gejala ini saja tidak dapat membedakan kedua penyakit.

4. Mata merah

Mata tampak merah tanpa keluarnya nanah (konjungtivitis nonpurulen) merupakan salah satu gambaran klinis yang khas pada Zika. Kondisi ini terjadi akibat peradangan pada konjungtiva, lapisan tipis yang menutupi bagian putih mata dan bagian dalam kelopak.

Konjungtivitis nonpurulen bersama demam, ruam, dan nyeri sendi disebut sebagai karakteristik utama penyakit Zika.

5. Sakit kepala

Sakit kepala juga cukup sering menyertai infeksi. Dalam tinjauan sistematis terhadap orang dewasa dengan Zika terkonfirmasi, sakit kepala ditemukan pada sekitar 46 persen dari kasus dengan data yang tersedia.

Pada sebagian penderita juga dapat muncul nyeri di belakang mata atau retro-orbital pain. Ini dapat menjadi salah satu gejala tambahan pada penyakit Zika.

6. Nyeri otot

Selain sendi, otot dapat terasa pegal atau nyeri.

Tinjauan sistematis tahun 2021 mencatat mialgia atau nyeri otot pada sekitar 48 persen kasus terkonfirmasi.

7. Tubuh terasa lemas atau tidak enak badan

ilustrasi tidak enak badan (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Zika juga dapat menimbulkan malaise, yaitu rasa lelah, lemas, atau tubuh terasa tidak sehat secara umum. Keluhan ini sangat tidak spesifik dan dapat muncul pada banyak infeksi virus lainnya.

Gejala lain yang pernah dilaporkan meliputi pembengkakan anggota tubuh, pembesaran kelenjar getah bening, muntah, dan diare. Namun, gejala tersebut bukan gambaran utama yang digunakan untuk mengenali Zika. Dalam tinjauan sistematis tahun 2021, misalnya, diare dilaporkan pada sekitar 13 persen kasus.

Gejala Zika mirip dengue dan chikungunya

Ruam, demam, nyeri otot, nyeri sendi, dan sakit kepala bukan gejala khusus Zika. Dengue dan chikungunya, yang juga ditularkan terutama oleh nyamuk Aedes, dapat menghasilkan keluhan serupa.

WHO menegaskan bahwa gejala saja tidak cukup untuk memastikan seseorang mengalami Zika; diagnosis dapat memerlukan pemeriksaan laboratorium dengan mempertimbangkan riwayat perjalanan atau kemungkinan paparan.

Hal ini juga penting untuk pengobatan. Obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID), seperti ibuprofen, sebaiknya dihindari sampai dengue dapat disingkirkan karena dengue dapat meningkatkan risiko perdarahan.

Kapan perlu mencari pertolongan medis?

Sebagian besar penyakit Zika berlangsung ringan dan rawat inap jarang diperlukan. Namun, pemeriksaan medis diperlukan jika gejala memburuk atau ada kemungkinan terpapar Zika, terutama pada orang yang sedang hamil.

Infeksi selama kehamilan dapat ditularkan kepada janin dan menyebabkan komplikasi serius meskipun sang ibu hanya mengalami penyakit ringan atau bahkan tidak bergejala.

Dalam kasus yang jarang, Zika juga berkaitan dengan komplikasi neurologis seperti sindrom Guillain-Barré (GBS). Kondisi ini dapat menyebabkan kelemahan otot dan, pada kasus lebih berat, kelumpuhan. Keluhan neurologis seperti kelemahan yang muncul atau makin berat setelah infeksi perlu segera mendapatkan penilaian medis.

Referensi

World Health Organization, “Zika Virus,” diakses Agustus 2026.

Centers for Disease Control and Prevention, “Clinical Signs and Symptoms of Zika Virus Disease,” diakses Agustus 2026.

Sheliza Halani et al., “Clinical Manifestations and Health Outcomes Associated with Zika Virus Infections in Adults: A Systematic Review,” PLOS Neglected Tropical Diseases 15, no. 7 (2021): e0009516, https://doi.org/10.1371/journal.pntd.0009516.

José Cerbino-Neto et al., “Clinical Manifestations of Zika Virus Infection, Rio de Janeiro, Brazil, 2015,” Emerging Infectious Diseases 22, no. 7 (2016): 1318–20, https://doi.org/10.3201/eid2207.160375.

Curated For You

Editorial Team

Related Article