ilustrasi berkeringat (pexels.com/cottonbro studio)
Air berperan penting dalam mekanisme pendinginan tubuh melalui keringat. Saat dehidrasi, kemampuan tubuh untuk mengatur suhu menurun.
Dehidrasi meningkatkan risiko heat exhaustion dan heat stroke, terutama dalam kondisi panas.
Selama Ramadan, risiko ini relevan bagi individu yang tetap beraktivitas di luar ruangan atau berolahraga menjelang berbuka. Tanpa hidrasi yang cukup setelah berbuka, tubuh mungkin belum sepenuhnya pulih untuk menghadapi hari berikutnya.
Kurang minum selama Ramadan dapat memengaruhi fungsi otak, ginjal, sistem pencernaan, tekanan darah, hingga regulasi suhu tubuh. Sebagian dampaknya mungkin terasa ringan, tetapi jika berulang setiap hari, efek kumulatifnya bisa signifikan.
Strategi sederhana seperti membagi asupan air antara berbuka dan sahur, mengurangi minuman berkafein, serta memperhatikan warna urine sebagai indikator hidrasi dapat membantu menjaga keseimbangan cairan tubuh.
Referensi
"Dietary Reference Intakes for Water, Potassium, Sodium, Chloride, and Sulfate." Institute of Medicine. Washington, DC: National Academies Press, 2005.
Lawrence E. Armstrong et al., “Mild Dehydration Affects Mood in Healthy Young Women,” Journal of Nutrition 142, no. 2 (December 22, 2011): 382–88, https://doi.org/10.3945/jn.111.142000.
“Dehydration and Headache.” American Migraine Foundation. Diakses Maret 2026.
“Kidney Stones Causes.” National Kidney Foundation. Diakses Maret 2026.
“Monthly Variations of Urinary Stone Colic in Iran and Its Relationship to the Fasting Month of Ramadan,” PubMed, January 1, 2004, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/15058633/.
“Constipation.” National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. Diakses Maret 2026.
“Low Blood Pressure (Hypotension).” Mayo Clinic Staff. Diakses Maret 2026.
“Heat Stress.” Centers for Disease Control and Prevention. Diakses Maret 2026.