Demensia: Gejala, Penyebab, Jenis, Diagnosis, Pengobatan

Sering disangka sama, demensia tidak sama dengan pikun

Intinya Sih...

  • Demensia bukanlah kondisi yang sama dengan pikun, meski sering disangkutpautkan.
  • Demensia adalah kumpulan gejala yang memengaruhi kemampuan fungsi kognitif otak.
  • Penyebab demensia meliputi penyakit neurologis degeneratif, gangguan pembuluh darah, cedera otak traumatis, infeksi pada sistem saraf pusat, dan faktor fisik serta gaya hidup tertentu.
  •  

Banyak orang yang ketika mendengar pikun, langsung menganggapnya sebagai demensia. Padahal, sebetulnya keduanya adalah hal yang berbeda.

Berdasarkan laporan yang ada di BMJ Journals, ada kasus seorang laki-laki dilarikan ke rumah sakit dengan gejala kesulitan menemukan kata-kata progresif, kelupaan, dan penarikan diri dari pergaulan.

Setelah dilakukan beberapa tes, pasien terdiagnosis dengan demensia onset dini dan kelainan epileptiform lobus temporal. Kasus ini menekankan perlunya pertimbangan diagnostik untuk demensia pada pasien dengan gangguan kognitif, bahkan usianya belum masuk kelompok lansia.

Dari kasus di atas, bisa disimpulkan bahwa demensia adalah kondisi yang dapat memengaruhi kualitas hidup, kemampuan bersosialisasi, dan aktivitas sehari-hari pasiennya.

Lantas, apa itu demensia? Apa saja gejala dan penyebabnya yang harus dikenali? Yuk, simak ulasannya berikut ini!

1. Apa itu demensia?

Demensia adalah kumpulan gejala yang memengaruhi kemampuan fungsi kognitif otak dalam mengingat, berpikir, tingkah lalu, dan berbicara.

Demensia bukanlah sebuah penyakit tunggal, melainkan istilah untuk menggambarkan sekumpulan gejala yang mengganggu fungsi otak. Sering dikaitkan dengan kondisi pikun, tetapi sebetulnya tidak semua orang yang pikun (sering lupa) mengalami demensia.

Sekadar informasi, pikun adalah penurunan daya ingat yang umumnya dikarenakan usia yang menua. Meski begitu, orang dengan demensia memiliki gejala pikun yang cukup parah.

Tingkat keparahan demensia berbeda-beda, dari yang ringan hingga berat. Pada beberapa kasus, demensia bisa mengubah kepribadian. Penyakit yang menyerang otak ini bisa bersifat progresif, yakni dapat memburuk seiring berjalannya waktu. Tak sedikit orang dengan demensia cenderung mengalami kesulitan untuk pulih.

Menurut keterangan dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), walaupun umumnya memengaruhi lansia, tetapi demensia bukanlah bagian normal dari penuaan. Di seluruh dunia, diperkirakan 50 juta orang memiliki demensia dan ada hampir 10 juta kasus baru setiap tahun.

Penyakit Alzheimer adalah bentuk demensia yang paling umum dan dapat berkontribusi pada 60-70 persen kasus.

Demensia adalah salah satu penyebab utama kecacatan dan ketergantungan di kalangan lansia di seluruh dunia. Kondisi ini juga memiliki dampak fisik, psikologis, sosial, dan ekonomi, yang tak hanya dirasakan pada penderita, tetapi juga pengasuhnya, keluarga, dan masyarakat luas.

2. Penyebab

Demensia: Gejala, Penyebab, Jenis, Diagnosis, Pengobatanilustrasi demensia (pexels.com/Kindel Media)

Secara umum, demensia disebabkan oleh kerusakan atau hilangnya sel saraf dan koneksinya di otak. Meski begitu, setiap orang bisa mengalami tingkat keparahan dan gejala yang berbeda tergantung area otak yang mengalami kerusakan. Namun, sampai saat ini masih belum diketahui apakah gangguan sel saraf yang menyebabkan demensia atau sebaliknya.

Melansir WebMD, penyebab paling umum demensia meliputi:

  • Penyakit neurologis degeneratif, seperti Alzheimer, penyakit Parkinson, penyakit Huntington, dan beberapa jenis multiple sclerosis. Penyakit ini semakin parah seiring waktu.
  • Gangguan pembuluh darah. Kondisi ini memengaruhi sirkulasi darah di otak.
  • Cedera otak traumatis misalnya akibat kecelakaan kendaraan bermotor, jatuh, gegar otak, dan sebagainya.
  • Infeksi pada sistem saraf pusat seperti penyakit meningitis, HIV, dan penyakit Creutzfeldt-Jakob.
  • Penggunaan alkohol atau narkotika dalam jangka waktu lama.
  • Jenis hidrosefalus tertentu, yaitu penumpukan cairan di otak.

Faktor fisik dan gaya hidup tertentu bisa bikin kamu berisiko lebih tinggi mengalami demensia, termasuk:

  • Usia.
  • Riwayat demensia dalam keluarga.
  • Penyakit seperti diabetes, sindrom Down, penyakit jantung, dan sleep apnea.
  • Depresi.
  • Merokok, penggunaan alkohol secara berlebihan, pola makan yang buruk, dan jarang olahraga.

Baca Juga: 10 Mitos seputar Demensia yang Banyak Beredar, Cek Kebenarannya!

3. Jenis

Melansir Medical News Today, ada beberapa jenis demensia, yaitu:

  • Penyakit Alzheimer, ditandai dengan "plak" di antara sel-sel yang sekarat di otak dan "kekusutan" di dalam sel (keduanya disebabkan oleh kelainan protein). Jaringan otak pada pasien Alzheimer semakin sedikit sel saraf dan koneksi, dan ukuran otak total menyusut.
  • Demensia Lewy body, kondisi neurodegeneratif yang terkait dengan struktur abnormal di otak. Perubahan otak melibatkan protein yang disebut alpha-synuclein.
  • Demensia kombinasi, mengacu pada diagnosis dari dua atau tiga jenis yang terjadi bersamaan. Misalnya, seseorang mungkin menunjukkan penyakit Alzheimer dan demensia vaskular pada saat yang bersamaan.
  • Penyakit Parkinson: juga ditandai dengan adanya demensia Lewy body. Meskipun Parkinson sering dianggap sebagai gangguan pergerakan, penyakit ini juga dapat menyebabkan gejala demensia.
  • Penyakit Huntington, dicirikan dengan jenis gerakan tertentu yang tidak terkontrol, tetapi juga termasuk demensia.

Gangguan lain yang dapat menyebabkan gejala demensia meliputi:

  • Demensia frontotemporal juga dikenal sebagai penyakit Pick.
  • Hidrosefalus tekanan normal saat kelebihan cairan serebrospinal menumpuk di otak.
  • Atrofi kortikal posterior menyerupai perubahan yang terlihat pada penyakit Alzheimer tetapi di bagian otak yang berbeda.
  • Sindrom Down meningkatkan kemungkinan timbulnya penyakit Alzheimer pada usia muda.

4. Gejala

Demensia: Gejala, Penyebab, Jenis, Diagnosis, Pengobatanilustrasi demensia (unsplash.com/Tessa Rampersad)

Menurut keterangan dari WHO, demensia memengaruhi setiap orang dengan cara yang berbeda, bergantung pada dampak penyakit dan kepribadian orang tersebut sebelum jatuh sakit.

Tanda dan gejala yang terkait dengan demensia dapat dipahami dalam tiga tahap.

Pada tahap awal, gejala demensia sering terlewatkan karena onset-nya (gejala awal) bertahap. Gejala umum termasuk:

  • Sering lupa.
  • Lupa waktu.
  • Tersesat di tempat yang sudah dikenal.

Pada tahap menengah, saat berkembang ke tahapan selanjutnya, tanda dan gejalanya akan lebih jelas dan lebih membatasi, termasuk:

  • Lupa akan peristiwa yang baru dialami dan nama-nama orang.
  • Tersesat di rumah.
  • Peningkatan kesulitan dalam berkomunikasi.
  • Butuh bantuan dengan perawatan pribadi.
  • Mengalami perubahan perilaku, termasuk suka keluyuran dan bertanya berulang-ulang.

Pada tahap akhir, terlihat ketergantungan dan ketidakaktifan yang hampir total. Gangguan ingatan serius dan tanda serta gejala fisik menjadi lebih jelas, meliputi:

  • Tidak sadar akan waktu dan tempat.
  • Kesulitan mengenali kerabat dan teman.
  • Peningkatan kebutuhan untuk perawatan diri.
  • Kesulitan dalam berjalan.
  • Mengalami peningkatan perubahan perilaku yang mungkin termasuk agresi.

5. Diagnosis

Pada tahap pertama, diagnosis dilakukan dengan melakukan tes melalui beberapa pertanyaan yang diajukan oleh dokter.

Tahap pertama dilakukan dengan tes mental yang meliputi pertanyaan mengenai tanggal lahir, usia, tahun, jam, dan lain-lain.

Setelah itu, tes kedua dilakukan dengan melakukan pendekatan terhadap kerabat dekat pasien. Jika pasien memiliki tanda-tanda hilangnya memori, maka pasien akan disarankan untuk melakukan tes darah secara rutin dan CT scan otak.

Baca Juga: 8 Perubahan Gaya Hidup Ini Bisa Mencegahmu Terkena Demensia, yuk Ikuti

6. Risiko komplikasi

Demensia: Gejala, Penyebab, Jenis, Diagnosis, Pengobatanilustrasi demensia (pexels.com/Kindel Media)

Demensia sering kali memengaruhi aktivitas harian pasien. Dalam beberapa kasus, pasien berisiko mengalami komplikasi sebagai berikut:

  • Malnutrisi: Banyak pasien akhirnya mengurangi atau berhenti makan, sehingga memengaruhi asupan gizi yang diperolehnya.
  • Radang paru-paru: Demensia juga menimbulkan kesulitan dalam menelan, sehingga mampu meningkatkan risiko tersedak atau menyedot makanan ke dalam paru-paru, yang dapat menghalangi pernapasan dan menyebabkan pneumonia.
  • Kesulitan dalam merawat diri: Karena ada sel saraf yang terganggu, demensia dapat menyebabkan kesulitan saat mandi, berpakaian, menyikat rambut atau gigi, menggunakan toilet, dan minum obat secara akurat.
  • Keamanan: Dalam beberapa situasi sehari-hari, demensia dapat menghadirkan masalah keamanan, termasuk dalam mengemudi, memasak, dan berjalan sendirian.
  • Kematian: Demensia stadium akhir menyebabkan koma dan kematian. Hal ini sering kali terjadi karena adanya infeksi.

7. Pengobatan

Berdasarkan keterangan dari Alzheimer's Association, pengobatan demensia bergantung pada penyebabnya.

Dalam kasus demensia yang paling progresif, termasuk penyakit Alzheimer, tidak ada obat dan pengobatan yang dapat memperlambat dan menghentikan perkembangannya. Akan tetapi, ada perawatan obat yang dapat memperbaiki gejala untuk sementara.

Obat-obatan yang digunakan untuk penyakit Alzheimer juga bisa diresepkan untuk membantu gejala demensia. Terapi non obat juga dapat membantu meringankan gejala.

Selain dengan cara-cara di atas, demensia dapat ditangani dengan operasi jika disebabkan oleh tumor otak, cedera otak, atau hidrosefalus.

8. Pencegahan

Demensia: Gejala, Penyebab, Jenis, Diagnosis, Pengobatanilustrasi lansia (pexels.com/Tristan Le)

Dilansir Mayo Clinic, tidak ada cara pasti untuk mencegah demensia. Namun, ada beberapa langkah yang bisa kamu lakukan. Diperlukan lebih banyak penelitian, tetapi mungkin langkah-langkah ini bisa bermanfaat.

  • Jaga pikiran tetap aktif dengan melakukan aktivitas yang merangsang mental seperti membaca, menyelesaikan puzzle, permainan kata, dan latihan daya ingat dapat menunda timbulnya demensia dan mengurangi efeknya.
  • Aktif secara fisik dan sosial. Keduanya dapat memperlambat gejala awal demensia dan menurunkan gejalanya. Targetkan olahraga rutin 150 menit per minggu.
  • Berhenti merokok. Beberapa studi menunjukkan bahwa merokok pada usia paruh baya dan seterusnya dapat meningkatkan risiko demensia dan kondisi pembuluh darah (vaskular). Berhenti merokok dapat mengurangi risiko dan meningkatkan kesehatan secara keseluruhan.
  • Cukupi asupan vitamin. Beberapa studi menemukan bahwa orang-orang dengan kadar vitamin D yang rendah dalam darah lebih mungkin mengembangkan penyakit Alzheimer dan berbagai bentuk demensia lainnya. Penuhi juga kebutan vitamin C dan vitamin B kompleks.
  • Kelola faktor risiko kardiovaskular. Obati tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, diabetes, dan indeks massa tubuh (BMI) tinggi. Tekanan darah tinggi dapat meningkatkan risiko beberapa jenis demensia. Diperlukan lebih banyak penelitian untuk menentukan apakah mengobati tekanan darah tinggi dapat mengurangi risiko demensia.
  • Menangani kondisi kesehatan. Konsultasi ke dokter bila mengalami kehilangan pendengaran, depresi, atau kecemasan.
  • Terapkan pola makan sehat, misalnya seperti diet Mediterania yang tinggi asupan buah, sayur, biji-bijian utuh, dan asam lemak omega-3. Pola makan seperti ini juga bisa meningkatkan kesehatan kardiovaskular, yang mungkin dapat menurunkan risiko demensia.
  • Pastikan tidurmu berkualitas. Konsultasi ke dokter bila kamu mengorok dengan keras atau ada periode henti napas saat tidur.

Itulah fakta seputar penyebab, gejala, jenis, diagnosis, pengobatan, dan pencegahan demensia. Ingat, demensia bukanlah proses penuaan yang normal. Jika kamu atau orang di sekitarmu mengalami gejalanya, segera periksakan ke dokter. Cegah demensia dengan melakukan pola hidup yang aktif dan sehat sesuai dengan tips di atas. Semoga bermanfaat!

Baca Juga: Awas, Ini 7 Fakta Penyebab Demensia Juga Bisa Terjadi di Usia Muda

Topik:

  • Nurulia R F
  • Bayu Aditya Suryanto
  • Wendy Novianto
  • Delvia Y Oktaviani

Berita Terkini Lainnya