Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Didiagnosis Demensia Usia 22, Pasien Ini Meninggal 2 Tahun Kemudian

Demensia pada usia lebih muda.
ilustrasi demensia dini (pexels.com/cottonbro studio)
Intinya sih...
  • Demensia bisa menyerang usia sangat muda, terutama jenis frontotemporal dementia.
  • Penyakit ini tidak sekadar “penuaan lebih cepat”, tetapi kerusakan otak yang agresif.
  • Donasi otak dari kasus langka membuka harapan bagi riset dan terapi masa depan.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Pada usia 24 tahun, sebagian besar orang masih sibuk membangun hidup: karier, relasi, dan mimpi. Namun bagi Andre Yarham, pemuda asal Norfolk, Inggris, usia tersebut menjadi akhir dari perjalanan hidupnya. Andre meninggal dunia akibat demensia, penyakit yang selama ini lekat dengan usia lanjut. Ia didiagnosis saat berusia 22 tahun, dan hanya dua tahun kemudian, penyakit itu mengambil segalanya.

Hasil pemindaian MRI menunjukkan sesuatu yang sulit diterima, bahwa otak Andre tampak seperti otak seseorang berusia 70-an. Bukan karena ia menua lebih cepat, melainkan karena begitu banyak sel otak yang rusak dan mati dalam waktu singkat. Pada tahun 2022, keluarganya mulai menyadari ada yang berubah. Andre menjadi mudah lupa, sering menatap kosong, seolah kehilangan koneksi dengan dunia di sekitarnya.

Seiring waktu, kondisinya memburuk dengan cepat. Ia kehilangan kemampuan bicara, tak lagi bisa merawat dirinya sendiri, menunjukkan perilaku yang dianggap tidak seharusnya, dan akhirnya harus menggunakan kursi roda.

Sekilas mengenai demensia frontotemporal

Ilustrasi seseorang dengan demensia.
ilustrasi demensia (IDN Times/Aditya Pratama)

Demensia memang identik dengan usia tua, tetapi tidak semua demensia bekerja dengan cara yang sama. Andre didiagnosis dengan demensia frontotemporal, jenis demensia yang lebih jarang dan sering kali muncul jauh lebih awal dibanding penyakit Alzheimer.

Berbeda dengan penyakit Alzheimer yang biasanya menyerang memori lebih dulu, demensia frontotemporal menyerang bagian otak yang mengatur kepribadian, perilaku, dan bahasa—area di belakang dahi dan di atas telinga, yang dikenal sebagai lobus frontal dan temporal. Area inilah yang membantu manusia mengendalikan emosi, mengambil keputusan, memahami bahasa, dan mengekspresikan diri.

Ketika bagian ini rusak, perubahan yang terjadi bisa sangat menyakitkan bagi keluarga. Seseorang dapat menjadi impulsif, menarik diri, atau kehilangan kemampuan berkomunikasi. Demensia frontotemporal hanya menyumbang sekitar satu dari 20 kasus demensia, tetapi dampaknya kerap terasa lebih brutal karena menyerang saat usia produktif.

Dalam banyak kasus, demensia frontotemporal berkaitan erat dengan faktor genetik. Mutasi pada gen tertentu membuat protein di dalam sel otak gagal diurai dengan benar. Protein-protein ini menumpuk, merusak fungsi neuron, hingga akhirnya menyebabkan kematian sel. Jaringan otak pun menyusut. Mengapa proses ini bisa dimulai begitu dini masih belum sepenuhnya dipahami, tetapi mutasi genetik yang kuat dapat mempercepat kerusakan tanpa menunggu puluhan tahun.

Warisan Andre untuk ilmu pengetahuan

Setelah Andre tutup usia, keluarganya mengambil keputusan yang luar biasa, yaitu mendonorkan otaknya untuk penelitian.

Demensia hingga kini belum memiliki obat yang benar-benar menyembuhkan. Begitu gejala muncul, pilihan pengobatan hanya mampu memperlambat, bukan menghentikan penyakit.

Otak manusia adalah struktur yang sangat kompleks, dan masih banyak hal yang belum dipahami. Donasi otak—terutama dari kasus demensia dini yang sangat langka—memberi kesempatan berharga bagi ilmuwan untuk meneliti apa yang sebenarnya terjadi di tingkat sel dan protein. Pemindaian otak bisa menunjukkan bagian yang rusak, tetapi hanya jaringan otak yang didonorkan yang bisa menjawab berbagai pertanyaan.

Lewat penelitian ini, ilmuwan dapat mempelajari protein apa yang menumpuk, sel mana yang paling rentan, serta peran peradangan dan sistem imun dalam proses kerusakan. Pengetahuan tersebut menjadi fondasi untuk mengembangkan terapi yang kelak bisa memperlambat, menghentikan, atau bahkan mencegah demensia.

Referensi

"Youngest Person to Be Diagnosed With Dementia in Britain Dies at 24." Science Alert. Diakses Januari 2026.

"Man who died with dementia at just 24 leaves brain to science." The Independent. Diakses Januari 2026.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More

[QUIZ] Dari Kebiasaan Kamu, Ini Mungkin Cara Berhenti Merokok yang Paling Pas

13 Jan 2026, 12:10 WIBHealth