Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Diet Tinggi Protein Bisa Picu Batu Ginjal? Ini Faktanya

Diet Tinggi Protein Bisa Picu Batu Ginjal? Ini Faktanya
Batu ginjal (commons.wikimedia.org/Jakupica)
Intinya Sih
Sisi Positif
  • Diet tinggi protein, terutama dari hewani, dapat meningkatkan risiko batu ginjal, melalui perubahan kimia urine.

  • Protein berlebih meningkatkan ekskresi kalsium dan asam urat, dua komponen utama pembentuk batu.

  • Risiko bisa ditekan dengan hidrasi cukup dan pola makan seimbang, bukan sekadar mengurangi protein.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Diet tinggi protein sering menjadi pilihan utama bagi orang-orang yang mau menurunkan berat badan atau meningkatkan massa otot. Dalam dunia fitness, pola makan ini bahkan dianggap sebagai standar emas untuk performa dan komposisi tubuh. Namun, ada efek samping yang jarang dibicarakan, yaitu risiko terhadap kesehatan ginjal.

Batu ginjal adalah salah satu kondisi yang paling sering dikaitkan dengan pola makan tinggi protein. Memang, tidak semua orang yang mengonsumsi protein tinggi akan mengalaminya, tetapi bukti ilmiah menunjukkan adanya hubungan yang cukup kuat.

Memahami bagaimana protein memengaruhi ginjal adalah kunci untuk tetap mendapatkan manfaatnya tanpa mengorbankan kesehatan.

Table of Content

1. Bagaimana diet tinggi protein memengaruhi ginjal?

1. Bagaimana diet tinggi protein memengaruhi ginjal?

Ginjal berfungsi menyaring limbah metabolisme, termasuk hasil pemecahan protein. Saat asupan protein meningkat, beban kerja ginjal juga ikut meningkat.

Protein, terutama dari sumber hewani, menghasilkan:

  • Asam sulfur yang meningkatkan keasaman urine.
  • Purin yang meningkatkan produksi asam urat.
  • Kalsium urine yang meningkat akibat perubahan metabolisme.

Menurut penelitian, diet tinggi protein meningkatkan ekskresi kalsium dan menurunkan kadar sitrat dalam urine—dua faktor penting dalam pembentukan batu ginjal.

Sitrat sebenarnya berfungsi sebagai penghambat alami pembentukan batu. Ketika kadarnya turun, risiko pembentukan kristal meningkat.

2. Mekanisme terbentuknya batu ginjal

Ilustrasi makanan sumber protein.
ilustrasi makanan sumber protein (freepik.com/freepik)

Batu ginjal terbentuk ketika zat tertentu dalam urine mengkristal dan menumpuk. Pada diet tinggi protein, ada tiga perubahan utama:

  • Peningkatan kalsium dalam urine

Asupan protein tinggi meningkatkan pelepasan kalsium dari tulang dan ekskresinya melalui urine.

Studi menunjukkan bahwa peningkatan kalsium urine merupakan faktor risiko utama batu kalsium oksalat, yaitu jenis batu ginjal paling umum.

  • Peningkatan kadar asam urat

Protein hewani kaya akan purin, yang dipecah menjadi asam urat.

Kadar asam urat tinggi membentuk batu asam urat secara langsung, serta menjadi “inti” pembentukan batu jenis lain.

Hiperurisuria (asam urat tinggi dalam urine) meningkatkan risiko batu ginjal secara signifikan.

  • Urine menjadi lebih asam

Diet tinggi protein membuat pH urin lebih rendah (lebih asam).

Lingkungan asam berarti mempermudah pembentukan batu asam urat, serta mengurangi kelarutan mineral tertentu.

Penelitian menegaskan bahwa diet asam meningkatkan risiko batu ginjal melalui perubahan keseimbangan kimia urine.

3. Apakah semua protein sama?

Tidak semua sumber protein memiliki efek yang sama.

Protein hewani (daging merah, unggas, seafood) cenderung mengandung lebih banyak purin dan asam amino sulfur sehingga—terutama jika dikonsumsi berlebihan—dapat meningkatkan risiko batu asam urat dan memengaruhi ekskresi mineral.

Sementara itu, protein nabati (kacang‑kacangan, tempe, tahu, biji‑bijian) umumnya lebih rendah purin dan kaya akan magnesium, kalium, dan serat, yang bersifat protektif terhadap pembentukan batu.

Namun, penting untuk diingat bahwa efeknya bergantung pada jenis batu, total asupan protein, hidrasi, dan pola makan keseluruhan. Moderasi lebih penting daripada menghindari satu sumber secara mutlak.

Kamu disarankan untuk membatasi konsumsi daging merah/seafood terlalu banyak atau terlalu sering, variasikan dengan sumber protein nabati, jaga asupan cairan dan garam, serta konsultasikan ke dokter atau ahli gizi jika ada riwayat batu ginjal.

4. Siapa yang lebih berisiko?

Ilustrasi batu ginjal.
ilustrasi batu ginjal (IDN Times/Aditya Pratama)

Risiko batu ginjal akibat diet tinggi protein meningkat pada:

  • Orang dengan riwayat batu ginjal.
  • Dehidrasi kronis.
  • Konsumsi garam tinggi.
  • Pola makan rendah buah dan sayur.

Kombinasi faktor ini dapat mempercepat proses pembentukan batu, bahkan pada usia muda.

5. Apakah harus menghindari protein tinggi?

Tidak selalu. Protein tetap penting untuk perbaikan jaringan, fungsi imun, dan massa otot. Namun, kuncinya adalah keseimbangan dan konteks.

Rekomendasi umum dari para ahli adalah:

  • Konsumsi protein sesuai kebutuhan (±0,8–2 g/kg berat badan, tergantung aktivitas).
  • Perbanyak sumber protein nabati.
  • Hindari konsumsi berlebihan dalam jangka panjang.

6. Cara mengurangi risiko batu ginjal

Ilustrasi makanan sumber protein.
ilustrasi makanan sumber protein (unsplash.com/Sam Moghadam)

Jika kamu menjalani diet tinggi protein, memastikan hal-hal di bawah ini penting:

  • Minum air cukup (≥2–2,5 liter/hari).
  • Batasi garam (natrium meningkatkan ekskresi kalsium).
  • Perbanyak buah dan sayur (meningkatkan sitrat urine).
  • Seimbangkan protein hewani dan nabati.

Hidrasi adalah faktor paling efektif dalam mencegah batu ginjal.

Diet tinggi protein bukan tanpa risiko. Dalam jumlah yang tepat, protein mendukung kesehatan dan performa. Namun, ketika dikonsumsi berlebihan, terutama dari sumber hewani, ini dapat mengubah keseimbangan tubuh, termasuk meningkatkan risiko batu ginjal.

Kesehatan ginjal sering kali dipengaruhi oleh kebiasaan sehari-hari. Dengan memahami mekanismenya, kamu bisa tetap menjalani pola makan tinggi protein secara aman.

Referensi

Mathew D. Sorensen et al., “Impact of Nutritional Factors on Incident Kidney Stone Formation: A Report From the WHI OS,” The Journal of Urology 187, no. 5 (March 16, 2012): 1645–50, https://doi.org/10.1016/j.juro.2011.12.077.

Solafa H Ghoneim et al., “Impact of Diet on Renal Stone Formation,” Journal of Family Medicine and Primary Care 13, no. 11 (November 1, 2024): 4800–4809, https://doi.org/10.4103/jfmpc.jfmpc_770_24.

F. L. Coe, “Kidney Stone Disease,” Journal of Clinical Investigation 115, no. 10 (October 1, 2005): 2598–2608, https://doi.org/10.1172/jci26662.

Fahimeh Haghighatdoost et al., “Higher Dietary Acid Load Is Associated With an Increased Risk of Calcium Oxalate Kidney Stones,” Journal of Renal Nutrition 31, no. 5 (September 25, 2020): 467–74, https://doi.org/10.1053/j.jrn.2020.08.012.

National Kidney Foundation. “Kidney Stones and Diet.” Diakses April 2026.

Margaret S. Pearle et al., “Medical Management of Kidney Stones: AUA Guideline,” The Journal of Urology 192, no. 2 (May 20, 2014): 316–24, https://doi.org/10.1016/j.juro.2014.05.006.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More