Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Uban atau Rambut Putih Mungkin Tanda 6 Masalah Tubuh Ini
ilustrasi uban rambut (vecteezy.com/rito1689)
  • Uban umumnya normal karena usia dan genetik, tetapi uban dini atau perubahan mendadak bisa berkaitan dengan kondisi tertentu.

  • Beberapa faktor yang dapat berhubungan dengan rambut putih lebih cepat antara lain kekurangan vitamin B12, gangguan tiroid, vitiligo, alopecia areata, stres berat, dan merokok.

  • Tidak semua uban perlu diobati, tetapi pemeriksaan dokter penting bila muncul sangat dini, cepat menyebar, atau disertai gejala lain.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Rambut putih atau uban adalah salah satu indikator dari penuaan. Banyak orang yang beranggapan bahwa makin banyak uban, makin tua usia seseorang. Memang benar bahwa pertambahan usia menyebabkan produksi pigmen rambut berkurang.

Namun ternyata, bukan hanya itu saja penyebab uban di kepala. Ada beberapa faktor lain yang merujuk pada masalah kesehatan. Terlebih lagi untuk orang yang masih muda namun sudah banyak memiliki uban. Apa sajakah masalah kesehatan yang dimaksud? Yuk, simak berikut ini, jangan-jangan kamu juga mengalaminya!

1. Kekurangan vitamin B12

Vitamin B12 berperan dalam pembentukan sel darah merah, fungsi saraf, dan metabolisme sel. Beberapa studi menemukan hubungan antara uban muncul lebih cepat dan kadar vitamin B12 yang rendah.

Kekurangan B12 lebih mungkin terjadi pada orang yang jarang mengonsumsi makanan hewani, menjalani pola makan vegan tanpa suplementasi, punya gangguan penyerapan, riwayat operasi saluran cerna, atau menggunakan obat tertentu dalam jangka panjang.

Tanda lain yang perlu diperhatikan adalah mudah lelah, lemas, kesemutan, lidah terasa nyeri, kulit tampak pucat, sulit konsentrasi, atau jantung berdebar. Jika gejala ini muncul, jangan langsung membeli suplemen sembarangan. Pemeriksaan darah dapat membantu memastikan apakah memang ada defisiensi.

2. Gangguan tiroid

Tiroid adalah kelenjar kecil di leher yang mengatur metabolisme tubuh. Ketika hormon tiroid terlalu rendah atau terlalu tinggi, dampaknya bisa terasa pada energi, berat badan, suhu tubuh, suasana hati, siklus menstruasi, kulit, kuku, dan rambut.

Beberapa penelitian mengaitkan uban yang muncul lebih cepat dengan gangguan fungsi tiroid, terutama hipotiroidisme. Namun, rambut putih saja tidak cukup untuk mendiagnosis masalah tiroid.

Waspadai jika uban muncul bersama mudah lelah, lebih sensitif terhadap dingin, berat badan naik tanpa sebab jelas, kulit kering, rambut menipis, sembelit, suara serak, atau menstruasi menjadi lebih berat dan tidak teratur. Dalam situasi seperti ini, pemeriksaan TSH dan hormon tiroid dapat dipertimbangkan atas anjuran dokter.

3. Vitiligo

ilustrasi menyisir rambut mencari uban (magnific.com/freepik)

Jika rambut putih muncul dalam bentuk bercak atau area tertentu, apalagi disertai bercak putih susu di kulit, salah satu kemungkinan yang perlu dipikirkan adalah vitiligo.

Vitiligo adalah kondisi autoimun ketika sistem imun menyerang melanosit, yaitu sel pembentuk pigmen. Akibatnya, kulit dapat kehilangan warna, dan rambut di area tersebut juga bisa berubah putih. Ini dapat terjadi di rambut kepala, alis, bulu mata, kumis, janggut, atau rambut tubuh.

Vitiligo bukan penyakit menular. Namun, karena dapat berkaitan dengan kondisi autoimun lain, pemeriksaan dokter kulit membantu memastikan diagnosis dan menentukan apakah perlu evaluasi tambahan.

4. Alopecia areata

Alopecia areata adalah kondisi autoimun yang menyebabkan rambut rontok berbentuk bercak. Saat rambut mulai tumbuh kembali, warnanya kadang tampak putih atau lebih terang sementara.

Ini berbeda dari uban biasa yang menyebar perlahan. Pada alopecia areata, biasanya ada area rambut yang tiba-tiba menipis atau botak berbentuk bulat. Kulit kepala bisa tampak halus, dan pada sebagian orang ada perubahan kuku seperti lekukan kecil.

Kalau ada rambut rontok bercak disertai rambut putih baru di area yang sama, sebaiknya temui dokter kulit. Makin cepat dikenali, makin baik peluang untuk mengelola peradangan dan kekambuhannya.

5. Stres berat atau berkepanjangan

Stres sering disebut sebagai penyebab uban. Selama bertahun-tahun, ini dianggap lebih banyak sebagai cerita turun-temurun. Namun, penelitian pada hewan menunjukkan bahwa stres berat dapat memengaruhi sel punca melanosit, yaitu sel yang berperan dalam regenerasi pigmen rambut.

Meski begitu, hubungan stres dan uban juga dipengaruhi oleh genetik, usia, hormon, nutrisi, kebiasaan merokok, dan kondisi kesehatan.

Tetap saja, stres yang berat atau berlangsung lama tidak boleh dianggap remeh. Jika uban muncul lebih cepat bersamaan dengan sulit tidur, cemas berkepanjangan, kelelahan emosional, atau perubahan nafsu makan, itu sinyal untuk memperbaiki ritme hidup dan mencari bantuan jika perlu.

6. Merokok

ilustrasi rambut beruban pada usia muda (vecteezy.com/Alina Humeniuk)

Merokok dapat meningkatkan stres oksidatif, yaitu kondisi ketika radikal bebas merusak sel tubuh. Folikel rambut juga bisa terdampak. Beberapa studi menemukan hubungan antara merokok dan uban yang muncul lebih cepat.

Ini bukan berarti semua perokok pasti cepat beruban, atau semua orang yang memiliki uban pada usia yang relatif muda pasti merokok. Namun, berhenti merokok tetap menjadi langkah penting untuk kesehatan kulit, rambut, pembuluh darah, paru-paru, dan jantung.

Kapan uban perlu diperiksa?

Uban yang muncul perlahan sesuai usia dan riwayat keluarga biasanya tidak perlu dikhawatirkan. Namun, pertimbangkan untuk menemui dokter jika rambut putih muncul sangat dini, bertambah cepat, muncul dalam bercak tertentu, disertai rambut rontok tidak biasa, bercak putih di kulit, kelelahan ekstrem, kesemutan, penurunan atau kenaikan berat badan tanpa sebab jelas, atau gejala tiroid.

Dokter mungkin akan menilai riwayat keluarga, pola makan, obat yang dikonsumsi, kebiasaan merokok, stres, dan gejala lain. Jika perlu, pemeriksaan darah seperti kadar vitamin B12, ferritin atau status zat besi, folat, darah lengkap, serta fungsi tiroid dapat dipertimbangkan.

Yang juga penting, jangan mudah percaya klaim produk yang menjanjikan uban hilang permanen. Sampai saat ini, belum ada terapi medis yang terbukti dapat mengembalikan warna rambut untuk semua orang. Jika penyebabnya adalah defisiensi atau penyakit tertentu, mengobati penyebabnya mungkin membantu pada sebagian kasus, tetapi hasilnya tidak selalu sama.

Referensi

American Academy of Dermatology Association. “What Causes Gray Hair, and Can I Stop It?” Diakses Juni 2026.

Kumar, Arun B., H. Shamim, and U. Nagaraju. “Premature Graying of Hair: Review with Updates.” International Journal of Trichology 10, no. 5 (2018): 198–203.

Sonthalia, Sidharth, Anshu Priya, and Desmond J. Tobin. “Demographic Characteristics and Association of Serum Vitamin B12, Ferritin and Thyroid Function with Premature Canities in Indian Patients from an Urban Skin Clinic of North India: A Retrospective Analysis of 71 Cases.” Indian Journal of Dermatology 62, no. 3 (2017): 304–308.

Chakrabarty, Soumya, Anupam Krishnappa, and others. “Factors Associated with Premature Hair Graying in a Young Indian Population.” International Journal of Trichology 8, no. 1 (2016): 11–14.

Mahendiratta, Saurabh, et al. “Premature Graying of Hair: Risk Factors, Co-morbid Conditions, Pharmacotherapeutic Management and Reversal.” Journal of Cosmetic Dermatology 19, no. 11 (2020): 2729–2734.

Zhang, Bing, Siwei Ma, Ivo Rachmin, et al. “Hyperactivation of Sympathetic Nerves Drives Depletion of Melanocyte Stem Cells.” Nature 577 (2020): 676–681. https://doi.org/10.1038/s41586-020-1935-3.

National Institute of Arthritis and Musculoskeletal and Skin Diseases. “Vitiligo.” Diakses Juni 2026.

American Academy of Dermatology Association. “Hair Loss Types: Alopecia Areata Overview.” Diakses Juni 2026.

Editorial Team

Related Article