- 4 orang hanya 1 hingga 3 kali seminggu.
- 7 orang 4 empat hingga 6 kali.
- 9 orang buang air besar setiap hari.
Frekuensi Buang Air Besar Ternyata Bisa Pengaruhi Kesehatan Tubuh

- Penelitian tahun 2024 menemukan bahwa frekuensi buang air besar berperan aktif dalam membentuk mikrobioma usus, yang memengaruhi kesehatan tubuh secara keseluruhan.
- Hasil analisis pada 20 partisipan menunjukkan perbedaan komposisi dan fungsi mikroba usus berdasarkan seberapa sering seseorang buang air besar.
- Frekuensi BAB yang jarang dikaitkan dengan keragaman mikroba lebih tinggi serta potensi pengaruh terhadap metabolisme, pencernaan protein, dan risiko penyakit seperti gangguan metabolik atau kardiovaskular.
Frekuensi buang air besar mungkin mengungkapkan lebih banyak hal tentang apa yang hidup di dalam usus daripada yang kamu sadari sebelumnya. Menurut sebuah studi tahun 2024, frekuensi buang air besar dapat secara aktif membentuk mikrobioma yang melapisi usus besar.
Penelitian ini menambah bukti bahwa kebiasaan buang air besar memainkan peran yang sangat aktif dalam kesehatan secara keseluruhan. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan dalam profil mikrobiota usus sesuai dengan frekuensi buang air besar.
Mikroba dalam sampel tinja
Peneliti mengatakan bahwa frekuensi buang air besar yang jarang, dikaitkan dengan populasi mikroba yang lebih beragam di dalam usus. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan, baik dalam komposisi maupun kelimpahan mikroba, tergantung pada frekuensinya.
Dalam penelitian ini, para peneliti menganalisis mikrobioma dari 20 orang, yang dikelompokkan berdasarkan frekuensi buang air besar mereka, yakni:
Dengan menggunakan sekuensing gen dan spektrometri massa untuk menganalisis sampel tinja yang dikumpulkan dua kali seminggu selama tiga minggu, para peneliti menemukan perbedaan yang jelas dalam profil mikrobioma antara kelompok-kelompok ini, serta dalam senyawa yang dihasilkan oleh komunitas mikroba tersebut.
Secara khusus, orang-orang yang lebih jarang buang air besar memiliki keragaman mikroba yang jauh lebih tinggi di usus mereka dibandingkan dengan mereka yang memiliki jadwal buang air besar yang lebih teratur.
Bakteri tertentu yang ditemukan

Tim peneliti menemukan perbedaan dalam fungsi mikroba-mikroba yang terkandung di dalamnya. Kelompok bakteri tertentu, seperti Ruminococcus, lebih sering ditemukan pada orang yang buang air besar lebih jarang, sementara Bacteroides lebih banyak terdapat pada mereka yang buang air besar setiap hari.
Dalam penelitian pada hewan, spesies Bacteroides telah dikaitkan dengan penurunan berat badan, karena mereka memecah senyawa yang diduga memicu obesitas.
Temuan ini sejalan dengan studi sebelumnya yang menggabungkan data dari berbagai penelitian untuk menilai pengaruh lamanya waktu yang dibutuhkan tinja untuk melewati tubuh dalam membentuk mikrobioma.
Para peneliti juga menemukan bahwa perbedaan-perbedaan ini terkait dengan perubahan dalam cara usus memproses nutrisi, termasuk produksi dan pemecahan asam amino.
Hasil penelitian
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola buang air besar menciptakan siklus umpan balik. Semakin lama feses berada di usus besar, semakin banyak waktu yang dimiliki bakteri untuk memfermentasi isinya, mengatur keasaman usus, dan menghasilkan metabolit yang dapat memengaruhi kesehatan secara keseluruhan dalam berbagai cara.
Hal ini dipengaruhi langsung oleh pola makan di mana protein membutuhkan waktu lebih lama untuk dicerna, yang memerlukan bakteri tertentu.
Seiring waktu, jika pola makan tinggi protein, mikrobioma akan menyesuaikan dengan kebutuhan diet. Bakteri ini melepaskan metabolit yang dapat mengubah lingkungan usus, berpotensi memperkuat pola yang sudah ada
Hubungan ini kemungkinan cukup rumit. Ada berbagai faktor gaya hidup yang dapat memengaruhi frekuensi buang air besar, termasuk pola makan, asupan cairan, olahraga, dan tidur.
Namun, karena mikrobioma usus manusia terkait dengan kesehatan, hubungan timbal balik antara pola buang air besar dan mikrobioma mungkin memiliki implikasi yang lebih luas, meskipun sulit untuk diuraikan. Frekuensi poop yang jarang dan sembelit telah dikaitkan dengan gangguan metabolik dan inflamasi, serta gangguan neurologis seperti penyakit Parkinson.
Selain itu, beberapa produk mikrobioma dari pencernaan protein dapat berkontribusi terhadap penyakit ginjal kronis dan penyakit kardiovaskular.
Referensi
Park, Gwoncheol, Seongok Kim, WonJune Lee, Gyungcheon Kim, and Hakdong Shin. “Deciphering the Impact of Defecation Frequency on Gut Microbiome Composition and Diversity.” International Journal of Molecular Sciences 25, no. 9 (April 25, 2024): 4657.
"Your Poop Schedule May Be Shaping Your Body From The Inside Out". Science Alert. Diakses April 2026.


![[QUIZ] Dari Cara Kamu Mengatasi Sakit Kepala, Ini Tingkat Stres Tubuhmu](https://image.idntimes.com/post/20250506/pexels-anthonyshkraba-production-8374281-1bf597d5bcf3c62d3c3224d16c5ab0ce-7ce977d22d416f9f609177bfa758a9c1.jpg)




![[QUIZ] Cek Lingkar Perut dan Tinggi Badan, Apakah Kamu Masuk Zona Aman?](https://image.idntimes.com/post/20250802/1000147210_14ceb2b9-8e49-4a8a-8d5c-3657900481aa.jpg)
![[QUIZ] Detoks Media Sosial, Kamu Perlu 1 Hari, 1 Minggu, atau 1 Bulan?](https://image.idntimes.com/post/20260108/fpkdl_3bd58e8e-a2d0-4996-85f9-dce3924b9c70.jpg)


![[QUIZ] Genre Musik Favoritmu Bisa Ungkap Cara Kamu Mengelola Amarah](https://image.idntimes.com/post/20230413/pexels-cottonbro-studio-9063608-799c959c8a681bc3037abd5954852522.jpg)



![[QUIZ] Dari Durasi Workout Kamu, Kami Bisa Tebak Masalah Hidupmu](https://image.idntimes.com/post/20251001/2149552268_25252593-fc7d-4716-9c8b-1d03c608a056.jpg)


