Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Gejala DBD yang Sering Dikira Flu Biasa, Jangan Keliru ya
ilustrasi orang terkena demam berdarah/DBD (pexels.com/cottonbro studio)
  • Pada fase awal, demam berdarah (DBD) sering menimbulkan gejala yang mirip flu, seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, dan tubuh terasa lemas.

  • Perbedaannya, DBD dapat berkembang menjadi kondisi serius yang ditandai penurunan trombosit, kebocoran plasma, hingga syok jika tidak dikenali dan ditangani dengan tepat.

  • Gejala seperti nyeri hebat di belakang mata, ruam kulit, mual, muntah, serta munculnya tanda perdarahan perlu diwaspadai sebagai petunjuk bahwa penyakit tersebut mungkin bukan sekadar flu biasa.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Mendadak demam, kepala terasa berat, dan badan pegal merupakan gejala-gejala yang sering dikira flu. Dalam banyak kasus memang benar. Namun, kadang gejala yang tampak mirip flu bisa disebabkan oleh kondisi lain, dan demam berdarah (DBD/DB) adalah salah satunya, penyakit yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti.

Pada hari-hari pertama, gejalanya mirip berbagai infeksi virus lain. Bahkan, diagnosis DBD pada fase awal sering kali sulit ditegakkan hanya berdasarkan gejala klinis karena manifestasinya tidak spesifik.

Padahal, keterlambatan mengenali DBD bisa berbahaya. Setelah fase demam, sebagian pasien dapat memasuki fase kritis yang ditandai kebocoran plasma, perdarahan, hingga syok dengue yang mengancam nyawa.

Lalu, gejala DBD apa saja yang sering disalahartikan sebagai flu biasa?

1. Demam tinggi mendadak

Demam merupakan gejala yang paling umum baik pada flu maupun DBD. Bedanya adalah pola dan intensitasnya.

Pada DBD, demam biasanya muncul secara mendadak dan dapat mencapai 39–40 derajat Celsius. Demam ini sering berlangsung selama 2–7 hari.

Demam DBD umumnya disertai gejala lain seperti nyeri tubuh, sakit kepala, dan rasa tidak nyaman yang cukup berat. Sementara itu, flu musiman sering menimbulkan demam yang lebih ringan dan biasanya disertai gejala saluran pernapasan yang lebih menonjol. Karena sama-sama diawali demam, banyak orang tidak menyadari mereka sedang melawan virus dengue.

2. Sakit kepala yang sangat mengganggu

Sakit kepala juga merupakan gejala umum flu. Namun pada DBD, sakit kepala sering terasa lebih intens, terutama di area dahi dan belakang mata. Gejala ini bahkan dikenal sebagai salah satu ciri klasik DBD.

Penyebabnya belum sepenuhnya dipahami, tetapi diduga berkaitan dengan respons peradangan yang dipicu infeksi virus dengue.

Ketika sakit kepala terasa sangat berat dan tidak biasa dibanding flu yang pernah dialami sebelumnya, kondisi tersebut layak mendapat perhatian lebih.

3. Nyeri otot dan sendi

Ilustrasi nyeri sendi (magnific.com/freepik)

DBD pernah dijuluki sebagai "breakbone fever" atau "demam patah tulang" karena banyak pasien menggambarkan nyeri otot dan sendi yang sangat hebat selama infeksi.

Meski flu juga dapat menyebabkan pegal-pegal, tetapi nyeri pada DBD cenderung lebih luas dan lebih mengganggu aktivitas sehari-hari.

Nyeri otot dan sendi merupakan salah satu gejala paling khas pada DBD akut. Tidak jarang pasien mengeluhkan seluruh tubuh terasa remuk walaupun tidak melakukan aktivitas fisik berat.

4. Nyeri di belakang mata

Gejala ini jarang ditemukan pada flu.

Sebagian pasien DBD mengalami nyeri di belakang bola mata, terutama ketika menggerakkan mata ke kanan, kiri, atas, atau bawah. Nyeri retro-orbital atau nyeri di belakang mata marupakan salah satu tanda yang dapat membantu mengarahkan diagnosis ke DBD.

Karena gejala ini tidak selalu muncul, banyak orang tidak menyadari keberadaannya dapat menjadi petunjuk penting.

5. Tubuh sangat lemas

Rasa lelah memang umum terjadi saat sedang sakit. Namun pada DBD, kelelahan sering kali terasa lebih berat daripada flu biasa. Bahkan setelah demam mulai turun, sebagian pasien masih merasakan tubuh lemah selama beberapa hari hingga beberapa minggu.

Penelitian menunjukkan, respons peradangan akibat infeksi virus dengue dapat memengaruhi energi tubuh dan memperpanjang masa pemulihan. Akibatnya, pasien sering merasa belum benar-benar pulih meski suhu tubuh sudah kembali normal.

6. Mual dan muntah

ilustrasi mual (magnific.com/jcomp)

Flu biasanya identik dengan batuk, pilek, atau hidung tersumbat. Sebaliknya, DBD sering kali melibatkan saluran pencernaan.

Mual dan muntah merupakan salah satu gejala yang sering ditemukan pada DBD. Muntah yang terus-menerus bahkan termasuk salah satu tanda peringatan yang memerlukan evaluasi medis segera.

Karena gejala ini juga dapat terjadi pada keracunan makanan atau infeksi virus lain, banyak pasien tidak langsung mengaitkannya dengan DBD.

7. Ruam kulit

Ruam merupakan salah satu manifestasi umum DBD.

Beberapa hari setelah demam muncul, sebagian orang yang sakit DBD mengalami ruam kemerahan pada kulit. Ruam ini dapat terlihat seperti bercak-bercak merah halus dan biasanya muncul di lengan, kaki, dada, atau punggung.

Tidak semua pasien mengalaminya, tetapi ketika muncul bersamaan dengan demam tinggi dan nyeri tubuh, ruam dapat menjadi petunjuk penting bahwa penyakit tersebut bukan flu biasa.

Kapan DBD mulai menjadi berbahaya?

Salah satu karakteristik DBD yang sering mengecoh adalah munculnya fase kritis tepat ketika pasien merasa mulai membaik. Biasanya ini terjadi pada hari ke-3 hingga ke-7 penyakit.

Saat demam mulai turun, sebagian orang mengira mereka mulai pulih, padahal pada fase inilah risiko komplikasi dapat meningkat.

Fase kritis dapat ditandai oleh kebocoran plasma yang menyebabkan:

  • Penurunan tekanan darah.

  • Syok.

  • Gangguan organ.

  • Perdarahan serius.

Jadi, demam turun tidak selalu berarti bahaya sudah berlalu.

Tanda peringatan yang tidak boleh diabaikan

ilustrasi seorang perempuan mengalami nyeri perut (pexels.com/Sora Shimazaki)

Segera cari pertolongan medis jika muncul gejala di bawah ini:

  • Nyeri perut hebat.

  • Muntah terus-menerus.

  • Perdarahan gusi atau hidung.

  • Muntah darah.

  • Tinja berwarna hitam.

  • Tubuh sangat lemas atau gelisah.

  • Sesak napas.

  • Tangan dan kaki terasa dingin.

Gejala-gejala tersebut dapat mengindikasikan dengue berat yang butuh pemantauan medis segera.

Cara membedakan flu dan DBD

Tidak selalu mudah membedakan DBD dan flu cuma dari gejala. Namun secara umum, beberapa petunjuk yang lebih mengarah ke DBD meliputi:

Gejala

Flu

DBD

Demam tinggi mendadak

Bisa

Sangat umum

Batuk

Umum

Jarang

Pilek

Umum

Jarang

Nyeri belakang mata

Jarang

Lebih khas

Ruam kulit

Jarang

Lebih sering

Mual dan muntah

Kadang

Cukup sering

Trombosit menurun

Tidak

Ya

Karena gejalanya dapat tumpang tindih, pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk memastikan diagnosis.

Apa yang harus dilakukan jika ada kecurigaan DBD

Jika mengalami demam tinggi mendadak disertai gejala yang mengarah ke dengue:

  • Perbanyak minum cairan.

  • Istirahat cukup.

  • Pantau suhu tubuh.

  • Segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan.

  • Ikuti anjuran dokter terkait pemeriksaan darah.

Hindari mengonsumsi obat antiinflamasi nonsteroid seperti ibuprofen tanpa rekomendasi dokter karena dapat meningkatkan risiko perdarahan pada beberapa pasien DBD.

DBD dan flu punya beberapa kemiripan gejala, seperti demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot, dan lemas. Yang membedakan, DBD sering disertai nyeri di belakang mata, ruam kulit, mual, muntah, serta berpotensi berkembang menjadi kondisi serius ketika demam mulai turun. Karena itu, mengenali gejala sejak dini dan segera mencari pertolongan medis merupakan langkah penting untuk mencegah komplikasi serius.

Referensi

Centers for Disease Control and Prevention. "Dengue: Symptoms and Treatment." Atlanta: CDC, 2025. Diakses Juni 2026.

Cameron P. Simmons et al., “Dengue,” New England Journal of Medicine 366, no. 15 (April 11, 2012): 1423–32, https://doi.org/10.1056/nejmra1110265.

World Health Organization (WHO). "Dengue: Guidelines for Diagnosis, Treatment, Prevention and Control." Diakses Juni 2026.

WHO. “Dengue and Severe Dengue.” Diakses Juni 2026.

Annelies Wilder-Smith et al., “Dengue,” The Lancet 393, no. 10169 (January 1, 2019): 350–63, https://doi.org/10.1016/s0140-6736(18)32560-1.

Editorial Team

Related Article