Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Gula vs Garam: Mana yang Lebih Merusak Kesehatan Tubuh?
ilustrasi gula dan garam (pexels.com/Tara Winstead)
  • Penelitian menunjukkan gula tambahan, terutama dari minuman manis dan makanan olahan, lebih berpengaruh terhadap peningkatan tekanan darah dan risiko penyakit jantung dibandingkan garam.
  • Konsumsi fruktosa berlebih dari produk olahan dapat memicu resistensi insulin, meningkatkan denyut jantung, serta memperbesar risiko sindrom metabolik dan diabetes tipe 2.
  • Garam tetap dibutuhkan tubuh dalam jumlah wajar, namun pembatasan gula tambahan harus menjadi prioritas utama untuk menjaga kesehatan jantung dan metabolisme tubuh.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Banyak orang masih mengira garam adalah musuh utama kesehatan, terutama saat membahas tekanan darah tinggi dan penyakit jantung. Kamu mungkin juga sering mendengar saran untuk mengurangi makanan asin dibandingkan makanan manis.

Padahal, penelitian menunjukkan bahwa perhatian kita selama ini bisa jadi terlalu fokus pada garam, sementara gula justru memberi dampak yang lebih serius. Terutama gula tambahan dari minuman kemasan, soda, kue, dan makanan olahan yang sering dikonsumsi setiap hari tanpa sadar.

Jika terus dibiarkan, kebiasaan ini bisa memicu berbagai gangguan kesehatan dalam jangka panjang, lho. Jadi, antara gula dan garam, mana sebenarnya yang lebih merusak tubuh?

1. Gula lebih cepat memengaruhi tekanan darah

ilustrasi tekanan darah (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Selama ini banyak orang menghubungkan tekanan darah tinggi dengan konsumsi garam berlebih. Memang benar, natrium dalam garam bisa memengaruhi tekanan darah, sehingga American Heart Association (AHA) dan American College of Cardiology (ACC) merekomendasikan asupan sodium sekitar 2400 mg per hari, bahkan idealnya diturunkan menjadi 1500 mg per hari. Anjuran ini dibuat untuk membantu menurunkan risiko hipertensi dan penyakit kardiovaskular lain yang berkaitan dengan jantung.

Akan tetapi, temuan dalam jurnal Open Heart menunjukkan bahwa gula tambahan justru bisa meningkatkan tekanan darah sistolik dan diastolik secara lebih signifikan. Konsumsi minuman manis seperti 24 ons soda bahkan dapat menaikkan tekanan darah sistolik hingga 15 poin dan diastolik hingga 9 poin. Kondisi ini juga disertai peningkatan detak jantung sekitar 9 kali per menit, sehingga beban kerja jantung menjadi jauh lebih berat. Jika kebiasaan ini berlangsung terus-menerus, risiko gangguan jantung tentu ikut meningkat.

2. Gula berlebih meningkatkan risiko penyakit jantung

ilustrasi penyakit jantung (vecteezy.com/Thatphichai Yodsri)

Bahaya gula bukan hanya soal diabetes aja, lho, tapi juga sangat berkaitan dengan kesehatan jantung. Ketika asupan gula tambahan terlalu tinggi, tubuh mengalami berbagai perubahan metabolik yang memperbesar risiko serangan jantung maupun stroke. Efek ini sering kali terjadi perlahan tanpa gejala yang langsung terasa. Karena itu, banyak orang baru menyadari masalahnya saat kondisinya sudah cukup serius.

Riset yang dimuat dalam jurnal Open Heart menjelaskan bahwa risiko kematian akibat kejadian kardiovaskular seperti stroke atau serangan jantung meningkat hingga tiga kali lipat ketika lebih dari 25% kalori harian berasal dari gula tambahan. Artinya, kebiasaan minum soda, teh manis berlebihan, atau camilan tinggi gula setiap hari bisa menjadi ancaman serius bagi kesehatan jantungmu. Dampaknya memang gak selalu terasa cepat, tapi akumulasinya sangat berbahaya dalam jangka panjang. Inilah alasan kenapa konsumsi gula perlu lebih diperhatikan sejak sekarang.

3. Fruktosa dari makanan olahan lebih berbahaya

ilustrasi dessert chocolate brownies (pexels.com/minchephoto photography)

Gak semua gula memiliki efek yang sama bagi tubuh. Gula alami dari buah umumnya masih aman karena hadir bersama serat, vitamin, dan antioksidan yang membantu proses metabolisme. Masalah terbesar justru datang dari fruktosa tambahan yang banyak ditemukan pada makanan olahan, minuman kemasan, dan produk instan. Jenis gula inilah yang sering dikonsumsi berlebihan tanpa disadari.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Open Heart menyebutkan bahwa konsumsi fruktosa berlebih memicu pelepasan insulin dalam jumlah tinggi. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini dapat menyebabkan resistensi insulin, yaitu tahap awal menuju diabetes tipe 2. Fruktosa juga meningkatkan denyut jantung serta resistensi pembuluh darah, sehingga tekanan darah ikut naik dan jantung bekerja lebih keras. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa memicu gangguan metabolik yang lebih kompleks.

4. Gula bisa mempercepat munculnya sindrom metabolik

ilustrasi lemak perut (vecteezy.com/manassanant pamai)

Sindrom metabolik adalah kumpulan kondisi seperti tekanan darah tinggi, gula darah meningkat, kolesterol buruk naik, dan penumpukan lemak di area perut. Kondisi ini sering dianggap sebagai pintu masuk menuju penyakit jantung dan diabetes tipe 2. Banyak orang menganggapnya sepele karena gejalanya gak selalu terasa secara langsung. Padahal, dampaknya bisa sangat besar terhadap kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Dalam jurnal Open Heart, dijelaskan bahwa konsumsi fruktosa berlebihan selama hanya dua minggu saja sudah dapat meningkatkan kadar trigliserida dan insulin puasa dalam tubuh. Risiko terkena sindrom metabolik bahkan bisa meningkat dua kali lipat. Hal ini menunjukkan bahwa dampak gula ternyata bisa muncul jauh lebih cepat dari yang dibayangkan banyak orang. Kebiasaan kecil setiap hari ternyata bisa memberi pengaruh besar pada kesehatan masa depanmu.

5. Garam tetap perlu, tapi gula tambahan lebih perlu dibatasi

ilustrasi garam (pexels.com/RDNE Stock project)

Garam sering dianggap sepenuhnya buruk, padahal tubuh tetap membutuhkan natrium untuk menjalankan fungsi penting sehari-hari. Natrium membantu mengatur detak jantung, menjaga keseimbangan cairan, serta mendukung kerja saraf dan otot. Jadi, garam gak bisa dihilangkan sepenuhnya dari pola makan. Tubuh tetap memerlukan jumlah yang cukup agar fungsi vital berjalan normal.

Menurunkan sodium secara berlebihan dari makanan olahan justru bisa membuat orang mengonsumsi produk itu lebih banyak, apalagi jika produk tersebut tinggi fruktosa. Akibatnya, fokus berlebihan pada garam malah membuat konsumsi gula gak terkontrol. Perhatian utama akhirnya bergeser dari masalah yang sebenarnya lebih berbahaya. Karena itu, pembatasan gula tambahan sebaiknya menjadi prioritas utama dibanding hanya takut pada rasa asin.

6. Gula alami dari buah berbeda dengan gula tambahan

ilustrasi buah beri (pexels.com/Suzy Hazelwood)

Banyak orang takut makan buah karena menganggap semua gula itu memiliki efek yang sama. Padahal, gula alami dalam buah bekerja berbeda dibandingkan gula tambahan dari makanan olahan. Buah mengandung serat yang membantu memperlambat penyerapan gula ke dalam darah. Selain itu, buah juga kaya vitamin dan antioksidan yang mendukung kesehatan tubuh secara menyeluruh.

Kajian dalam jurnal Open Heart menjelaskan bahwa konsumsi gula dalam bentuk alaminya seperti buah gak memberikan efek berbahaya seperti gula tambahan. Bahkan, kandungan alami dalam buah membantu melawan dampak negatif dari gula olahan dan fruktosa buatan. Jadi, kamu gak perlu takut makan buah selama porsinya tetap wajar dan seimbang. Justru buah bisa menjadi pilihan camilan yang jauh lebih sehat dibanding makanan manis kemasan.

Kalau harus memilih mana yang lebih berbahaya antara gula dan garam, banyak penelitian terbaru menunjukkan bahwa gula tambahan memberi dampak yang lebih serius bagi kesehatan tubuh. Mulai dari tekanan darah naik, risiko penyakit jantung meningkat, hingga peluang terkena diabetes yang lebih besar. Garam memang tetap perlu dibatasi, tapi bukan berarti gula boleh dianggap aman. Terlalu sering mengonsumsi makanan dan minuman manis bisa menjadi kebiasaan kecil yang membawa masalah besar.

Kunci utamanya ada pada pola makan sehari-hari. Kurangi minuman manis, makanan olahan, dan camilan tinggi gula yang sering dikonsumsi tanpa sadar. Lebih bijak memilih makanan alami seperti buah, sayur, dan makanan rumahan akan jauh lebih membantu menjaga kesehatan tubuh dalam jangka panjang. Perubahan sederhana ini bisa menjadi langkah besar untuk melindungi kesehatanmu di masa depan. Jadi, mulai sekarang, coba lebih waspada pada gula, bukan cuma garam.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article