Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Rumah Tanpa Asap Rokok Bantu Cegah Stunting, Ini Buktinya!

Rumah Tanpa Asap Rokok Bantu Cegah Stunting, Ini Buktinya!
ilustrasi asap rokok (pixabay.com/Macedo_Media)
Intinya Sih
  • Paparan asap rokok sejak kehamilan berkaitan dengan gangguan pertumbuhan janin, kelahiran prematur, dan berat lahir rendah—semuanya dapat meningkatkan risiko stunting.

  • Setelah lahir, asap rokok dapat meningkatkan infeksi pernapasan, sementara pengeluaran untuk rokok dapat mengurangi anggaran makanan dan kesehatan anak.

  • Membuka jendela, menyalakan kipas, atau merokok di ruangan lain tidak cukup. Rumah dan kendaraan perlu bebas asap rokok sepenuhnya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Orang tua sudah memperhatikan menu anak, rutin memantau berat dan tinggi badan anak, serta tidak melewatkan jadwal imunisasi. Namun, ada satu faktor yang kerap terlewat, yaitu asap rokok.

Stunting memang tidak disebabkan oleh satu hal. Kondisi ini menggambarkan gangguan pertumbuhan jangka panjang yang dipengaruhi oleh asupan gizi, kesehatan ibu, infeksi berulang, sanitasi, serta berbagai kondisi sosial dan lingkungan. Kini, para ahli juga menyoroti paparan tembakau sebagai faktor yang dapat mengganggu pertumbuhan anak.

Menciptakan rumah bebas asap rokok dapat menjadi salah satu bagian penting dari pencegahan stunting.

1. Asap rokok dapat mengganggu pertumbuhan sejak kehamilan

Risiko stunting dapat dimulai bahkan dari sebelum bayi lahir. Ibu hamil tidak harus merokok untuk terpapar bahan berbahaya dari rokok. Asap yang berasal dari pasangan atau anggota keluarga juga dapat terhirup dan masuk ke dalam tubuh.

Merokok selama kehamilan berkaitan kuat dengan hambatan pertumbuhan janin, kelahiran prematur, dan berat badan lahir rendah. Ketiga kondisi tersebut merupakan faktor yang dapat meningkatkan kemungkinan anak mengalami gangguan pertumbuhan.

Berhenti merokok selama kehamilan juga dikaitkan dengan perbaikan hasil pertumbuhan anak.

Jadi, perlindungan sebaiknya dimulai sejak masa persiapan kehamilan. Pasangan dan anggota keluarga yang merokok harus memastikan ibu hamil tidak terpapar asap di rumah, kendaraan, maupun tempat lain yang sering digunakan bersama.

2. Setelah lahir, asap rokok menambah beban tubuh anak

Anak yang terpapar asap rokok lebih rentan mengalami infeksi saluran pernapasan, termasuk pneumonia dan bronkitis. Mereka juga lebih berisiko mengalami serangan asma, gangguan telinga, serta pertumbuhan paru yang lebih lambat. Infeksi yang datang berulang dapat mengganggu nafsu makan, penyerapan zat gizi, waktu tidur, dan energi yang seharusnya digunakan tubuh untuk tumbuh.

Penelitian terhadap 221 keluarga miskin di Indonesia menemukan, anak yang tinggal dengan ayah perokok memiliki risiko stunting lebih tinggi. Paparan asap selama lebih dari 3 jam sehari juga berkaitan dengan risiko stunting yang lebih besar. Namun, penelitian tersebut bersifat potong lintang dan dilakukan pada kelompok tertentu sehingga tidak membuktikan asap rokok merupakan satu-satunya penyebab stunting atau bahwa besar risikonya sama pada semua anak.

Namun, tetap saja rumah bebas asap rokok dapat mengurangi satu paparan yang bisa dicegah. Makin kecil dan makin muda seorang anak, makin penting perlindungan tersebut karena paru-paru, sistem imun, dan tubuhnya masih berkembang.

3. Rokok dapat mengambil jatah makanan anak

Seorang wanita menyuapi anak kecil dengan sendok sambil duduk bersama seorang pria di ruang tamu yang hangat dan nyaman.
ilustrasi menyuapi anak makan (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Pengeluaran untuk membeli rokok dapat mengurangi uang yang tersedia untuk makanan bergizi, pemeriksaan kehamilan, obat, transportasi ke fasilitas kesehatan, dan kebutuhan anak lainnya.

Sebuah penelitian besar terhadap 175.583 rumah tangga di kawasan miskin perkotaan Indonesia menemukan bahwa rokok menghabiskan sekitar 22 persen pengeluaran mingguan per kapita pada keluarga dengan ayah perokok. Keluarga tersebut membelanjakan lebih sedikit uang untuk makanan, dan kebiasaan merokok ayah berkaitan dengan stunting serta bentuk malnutrisi lainnya pada anak.

Bagi rumah tangga dengan anggaran terbatas, pengeluaran untuk rokok setiap hari dapat bersaing dengan pembelian telur, ikan, susu, buah, sayur, atau biaya pemeriksaan anak.

4. Rumah bebas asap rokok berarti tidak merokok di dalam

Merokok di kamar mandi, dapur, dekat jendela, atau ruangan yang berbeda tidak membuat anak sepenuhnya aman. Asap dapat menyebar melalui pintu, celah, dan sistem ventilasi.

Asap dari satu batang rokok dapat bertahan di ruangan selama berjam-jam. Membuka jendela serta menggunakan kipas, AC, pengharum, atau penyaring udara tidak dapat menghilangkan paparan tersebut.

Ini aturan yang lebih efektif:

  • Tidak mengizinkan siapa pun merokok di dalam rumah.
  • Tidak merokok di mobil, meskipun jendelanya dibuka.
  • Meminta tamu dan pengasuh mengikuti aturan yang sama.
  • Memilih area merokok di luar dan jauh dari pintu serta jendela.
  • Membantu anggota keluarga mendapatkan dukungan untuk berhenti merokok.

Kalau belum bisa berhenti merokok sepenuhnya, memindahkan aktivitas merokok ke luar rumah merupakan langkah awal untuk mengurangi paparan keluarga. Namun, yagn terbaik tetap berhenti merokok total karena perokok juga terus menghadapi risiko berbagai penyakit akibat tembakau.

Asap rokok memang bukan penyebab tunggal stunting. Pertumbuhan anak tetap butuh gizi yang memadai, pemantauan rutin, imunisasi, air bersih, sanitasi, dan penanganan cepat ketika sakit. Akan tetapi, menjadikan rumah bebas asap rokok dapat berdampak besar pada kesehatan keluarga.

Referensi

World Health Organization, "Tobacco and Stunting", WHO Tobacco Knowledge Summaries, diakses Juli 2026.

World Health Organization, "Global Nutrition Targets 2030: Stunting Brief", diakses Juli 2026.

Centers for Disease Control and Prevention, “Health Problems Caused by Secondhand Smoke,” diakses Juli 2026.

Nurmiati Muchlis et al., “Cigarette Smoke Exposure and Stunting Among Under-five Children in Rural and Poor Families in Indonesia,” Environmental Health Insights 17 (2023): 1–7, https://doi.org/10.1177/11786302231185210.

Richard D. Semba et al., “Paternal Smoking Is Associated with Increased Risk of Child Malnutrition among Poor Urban Families in Indonesia,” Public Health Nutrition 10, no. 1 (2007): 7–15, https://doi.org/10.1017/S136898000722292X.

Centers for Disease Control and Prevention, “Preventing Exposure to Secondhand Smoke in the Home,” diakses Juli 2026.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More